RAMADAN 2013 : Masjid Al Wustho Merana, Atapnya Berlubang
Mesjid Al Wustho, Mangkunegara Solo (Sunaryo Haryo Bayu/JIBI/Solopos)
Mesjid Al Wustho, Mangkunegara Solo (Sunaryo Haryo Bayu/JIBI/Solopos)
Mesjid Al Wustho, Mangkunegara Solo (Sunaryo Haryo Bayu/JIBI/Solopos)

Solopos.com, SOLO — Masjid Al Wustho Mangkunegaran merana. Kondisi atap satu dari empat masjid penting dalam sejarah Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Mangkunegaran itu kini berlubang.

Padahal pada tahun anggaran 2012 lalu, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo mengucurkan Rp250 juta dana bantuan APBD Perubahan. Tetapi dana itu hanya cukup untuk memperbaiki kantor, memasang paving block, dan membangun tempat wudu. Masjid yang sejak berdiri tahun 1878 itu tidak direnovasi total.

Menyikapi hal itu, kini takmir Masjid Al Wustho mengusahakan perbaikan masjid. Ditemui Solopos.com di kediamannya Minggu (14/7/2013) sore, Sekretaris Takmir Masjid Al Wustho, Purwanto, mengatakan bahwa pengurus masjid sedang merencanakan membuat proposal untuk diajukan ke Pemkot Solo.

Proposal itu rencananya berisi tentang pengajuan dana untuk renovasi atap masjid. “Perbaikan atap ini sedang kami rancang dan kami persiapkan, karena memang perbaikan ini akan membutuhkan dana yang besar,” kata Purwanto.

Sejak Indonesia merdeka, kepengurusan masjid ini memang banyak berubah. Sebelumnya, pengelolaan masjid dipercayakan kepada para pengurus yang diangkat menjadi abdi dalem Kasunanan Surakarta Hadiningrat lalu Mangkunegaran, namun sejak tahun 1962 pengelolaannya diserahkan kepada Kementerian Agama. sejak saat itulah, keberlangsungan Masjid Al Wustho diusahakan sepenuhnya oleh takmir masjid.

Sebelumnya, masjid yang beralamat di Jl. Kartini, Banjarsari, Solo ini telah menerima dana bantuan dari Pemkot Solo untuk perbaikan kantor, pemasangan paving block, dan tempat wudu senilai Rp250 juta. Masjid yang tercatat sebagai cagar budaya itu memang memerlukan perhatian khusus pemerintah.

 

Remaja Tak Aktif

Sebagai sebuah cagar budaya, masjid Al Wustho tentunya  membutuhkan bibit-bibit baru seperti remaja masjid untuk terus melestarikan dan semakin menghidupkan kegiatan keagamaan di masjid. Namun sayangnya, remaja masjid di Al Wustho masih belum  bergerak secara maksimal. Hal ini, menurut Purwanto disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah perbedaan pandangan antar kelompok.

“Di Solo kelompok-kelompok Islam itu bermacam-macam, dan mungkin saling berbeda pandangan. Walaupun seharusnya tidak begitu. Begitu masuk masjid seharusnya kita sudah menjadi satu,” terangnya. Meski begitu, Purwanto berharap kegiatan remaja masjid di Al Wustho ini nantinya bisa dimaksimalkan.

Insya Allah.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho