Kabar Rantau
Rabu, 28 September 2011 - 19:00 WIB

Rakyat Kongo pun diajak rayakan "tujuhbelasan"

Redaksi Solopos.com  /  R. Bambang Aris Sasangka  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Panduan Informasi dan Inspirasi

MERIAH -- Warga Kongo dengan antusias mengikuti aneka permainan khas tujuhbelasan yang diperkenalkan personel Kontingen Garuda. (Pralangga.org)

(Solopos.com) – Balap karung, memecahkan kantung air dengan mata tertutup, memasukkan pensil ke dalam botol dan sebagainya adalah permainan khas yang selalu muncul dalam setiap pesta rakyat di Indonesia untuk merayakan hari kemerdekaan 17 Agustus. Nah, ternyata aneka permainan tersebut bisa juga jadi sarana menjalin hubungan dengan rakyat di negara lain, seperti yang ditunjukkan para personel TNI yang tengah bertugas sebagai pasukan perdamaian PBB. Hal ini dilakukan para personel Satgas Kompi Zeni TNI Kontingen Garuda (Konga) Konga XX-H/MONUSCO yang tengah bertugas di Kongo.
Advertisement

Seperti diungkapkan perwira penerangan Konga XX-H, Lettu Imam Mahmud dalam situs blog yang menghimpun kisah warga Indonesia yang menunaikan misi kemanusiaan, Pralangga.org, pekan lalu, para anggota Satgas Zeni TNI bergerak ke Desa Lemay, sebuah desa di pedalaman yang berjarak sekitar 20 km dari Camp Bumi Nusantara, Dungu, yang menjadi markas pasukan. Seperti yang direncanakan sebelumnya, di desa tersebut digelar pengobatan massal bagi warga lokal dan berbagai perlombaan gembira seperti lomba balap karung, balap kelereng, memasukkan paku kedalam botol, bakiak dan memukul kantong air dengan mata tertutup.

Menurut Komandan Satgas Konga XX-H/MONUSCO Letkol CZI Widiyanto, tujuan diadakannya kegiatan ini, selain untuk memeriahkan peringatan HUT RI, juga untuk membantu masyarakat lokal yang tidak mempunyai kesempatan untuk berobat karena berada di daerah yang terpencil. Memang betul, aneka permainan khas Indonesia yang digelar dalam kegiatan itu ternyata memang menarik warga setempat. Banyak masyarakat yang mungkin baru pertama kalinya melakukannya dan sangat heran menyaksikan perlombaan tersebut, tetapi hal inilah yang membuat acara menjadi sangat meriah dan sempat terjadi kelucuan-kelucuan yang membuat semakin ramainya perlombaan. Turut hadir juga dalam acara tersebut beberapa pemimpin lokal, baik sipil maupun militer. Acara ditutup dengan penyerahan hadiah kepada para pemenang dan pemberian bingkisan kepada kepala desa setempat.

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif