Tutup Iklan

Rajakaya untuk Kecukupan Daging Nasional

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 11 Mei 2021. Esai ini karya Fransiskus Raymon, mahasiswa Program Studi Peternakan Universitas Sebelas Maret.

Rajakaya untuk Kecukupan Daging Nasional

SOLOPOS.COM - Fransiskus Raymon (Istimewa/Dokumen pribadi).

Solopos.com, SOLO -- Analisis tematis subsektor agrobisnis usaha rumah tangga budi daya sapi dan target swasembada menerangkan 97% dari total populasi sapi potong nasional tersebar di peternakan rakyat. Pemeliharaan cenderung masih secara konvensional.

Orientasi usaha sebagai social security alias untuk kebutuhan mendesak, sebagai tabungan, untuk keperluan hajatan, dan keperluan biaya pendidikan anggota keluarga. Dalam terminologi Jawa ternak tergolong rajakaya.

Pemeliharaan ternak sapi bak melayani sosok raja dan sebagai simbol kemakmuran sehingga pemilik ternak dianggap berada secara sosial ekonomi. Hal itu menjadi esensi rajakaya dalam istilah kebudayaan Jawa. Beternak sapi telah menjadi bagian budaya masyarakat sejak masa lampau.

Eksistensi rajakaya berkembang melampaui esensinya seiring perkembangan zaman. Secara eksistensial rajakaya masih ada hingga kini, khususnya berperan dalam memenuhi kebutuhan daging sapi segar nasional.

Pemenuhan kebutuhan daging nasional sejatinya membicarakan kebutuhan DKI Jakarta dan Bandung Raya sebagai daerah sentra konsumsi yang merupakan barometer harga daging nasional. Laju konsumsi dan laju produksi nasional diestimasi masih  mengalami defisit, masih terlalu timpang.

Kondisi defisit mengharuskan impor daging atau bakalan sapi potong. Kontribusi Australia pada pemenuhan kebutuhan daging sapi nasional  sebesar 42% dari total impor nasional, baik dalam bentuk daging maupun bakalan pada tahun 2018 dan proporsi 100% suplai bakalan sapi impor berasal dari Australia dengan realisasi 518.450 ekor pada tahun 2020.

Pada Ramadan dan Idulfitri 2021 terjadi penurunan pasokan bakalan sapi secara signifikan ketika ada kebijakan repopulasi atau pengembalian populasi sapi di Australia dan ada anomali harga bobot hidup sapi bakalan. Adanya potensi negara penyuplai bakalan alternatif selain Australia dalam memenuhi kebutuhan Idulfitri 2021 belum dimungkinkan.

Pada masa depan tentu diperlukan alternatif negara penyuplai bakal sapi selain Australia. Data ketersediaan sapi lokal sebanyak 17,4 juta ekor pada tahun 2020 menjadi salah satu yang diandalkan pemerintah sebagai dasar penentuan kebijakan dalam mengatasi problem jangka pendek Idulfitri 2021.

Harapannya psikologi pasar yang terbentuk adalah kebutuhan daging nasional tersedia dan harga terkendali. Optimisme pemerintah yang tidak berlebihan terhadap kebijakan pemenuhan daging sapi nasional dapat kita simpulkan bila pada Idulfitri 2021 suplai tercukupi dan harga terkendali.

Harga daging sapi memiliki volatilitas (tingkat kecendrungan perubahan) yang tinggi sehingga cenderung merespons  isu negatif yang meningkatkan harga. Volatilitas harga daging sapi dipengaruhi oleh Ramadan, Idulfitri, dan impor sapi bakalan.

Mobilisasi Sapi Lokal

Kekhawatiran terjadi krisis ketersediaan, keterjangkauan, dan akseptabilitas di daerah sentra konsumsi akibat menurunnya suplai bakalan sapi potong dari Australia wajar timbul meskipun telah ada penugasan 80.000 ton daging kerbau dari India kepada Perum Bulog, 20.000 ton daging sapi dari Brasil kepada BUMN Berdikari tahun 2021, dan telah tersedia data populasi sapi lokal di daerah sentra produksi yang tercatat menjanjikan untuk dimobilisasi BUMN Berikari ke daerah sentra konsumsi.

Mobilisasi sapi lokal dari peternakan rakyat oleh BUMN Berdikari akan menjadi fenomena menarik. Populasi sapi potong 0,8 juta ekor di Lampung, 1,8 juta ekor di Jawa Tengah, dan 4,8 juta ekor di Jawa Timur merupakan populasi yang menjanjikan sekaligus memiliki akses terbaik menuju ke DKI Jakarta dan Bandung Raya.

Total populasi dari tiga daerah sentra produksi itu memiliki proporsi 41,95% dari populasi nasional tahun 2020 yang totalnya 17,4 juta. Data ini merujuk Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan 2020. Tiga daerah sentra produksi tersebut secara kebetulan mayoritas penduduknya bersuku Jawa.

Tidak terkecuali Lampung yang banyak transmigran pada era Orde Baru dari Jawa Tengah  dan Jawa Timur. Kebetualan  tersebut cukup melegitimasi bahwa berternak sapi erat dengan budaya orang Jawa, ditambah fakta masih eksisnya kearifan lokal pasar sapi dengan penanggalan Jawa di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Ini kearifan lokal yang menjadi kemewahan bagi daerah lain. Bermodalkan kearifan lokal, peternakan rakyat akan didorong menuju industrialisasi peternakan, mengingat target swasembada daging tahun 2026 yang mengharuskan Indonesia menekan impor hingga 10% dalam memenuhi kebutuhan domestik.

Artinya masih sangat terbuka kemungkinan untuk kita berkonsepsi ke arah mana kita semestinya mendorong industri peternakan sapi potong Indonesia agar relevan dengan permasalahan abad ke-21. Arah dorongan akan menentukan bagaimana wajah industri sapi potong Indonesia ke depan.

Trade off antara aspek ekonomi dan lingkungan serta sosial budaya perlu direfleksikan kembali. Wajah baru peternakan sapi potong yang inklusif perlu terus diperjuangkan tanpa melampaui pemikiran dan kesejahteraan peternak rakyat.

Dibutuhkan relevansi antara wacana pemikiran baru dengan peternakan rakyat yang merupakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pada umumnya UMKM memiliki problem pengelolaan keuangan, efisiensi produksi, pemasaran, dan teknologi.

Apa pun nama programnya, akselerasi peningkatan populasi dengan program inseminasi buatan secara gratis sebagai insentif bagi para peternak rakyat mutlak terus dilakukan pemerintah karena bisnis model pembiakan maupun pembibitan dinilai belum semenguntungkan seperti model bisnis usaha penggemukan sapi potong.

Kunci produksi pedet (anak sapi) ada pada usaha pembibitan dan pembiakan  yang mengandalkan betina produktif. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 2 Tahun 2017 tentang Pemasukan Ternak Ruminansia Besar ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia menetapkan rasio impor bakalan dan indukan betina produktif dan mengharuskan perusahaan penggemukan melakukan usaha pembiakan serta bermitra dengan peternakan rakyat.

Agar usaha pembiakan dapat berjalan dengan baik pada pola usaha intensif, diperlukan tambahan kontribusi perusahaan penggemukan terhadap biaya pakan. Beban pakan dapat terus menggerus perusahaan penggemukan sapi impor. Sementara penyediaan daging di tingkat konsumen selain disuplai daging sapi segar hasil penggemukan bakalan impor juga disuplai daging beku impor.

Pola Kemitraan

Perusahaan yang bergerak pada penyediaan daging impor tentu akan lebih bertahan dengan alat pendingin tanpa harus menciptakan nilai tambah di daerah sentra produksi, tanpa menyerap tenaga kerja lokal dan tergerus beban biaya pakan. Pemerintah perlu melihat fenomena ini secara objektif.

Diperlukan wacana rasio impor daging beku dan indukan diikuti dengan pola kemitraan dengan peternak rakyat. Peningkatan populasi betina produktif harus terus kita dorong. Fenomena menarik menyambut Idulfitri 2021 ini semoga tidak menguras populasi sapi dalam negeri, khususnya sapi betina produktif.

Pemotongan sapi betina produktif  bertolak belakang dengan upaya peningkatan populasi. Undang-undang Nomor 41 Tahun 2014 Pasal 86 secara tegas memuat unsur pidana dan denda kepada pihak yang memotong atau menyembelih sapi betina produktif.

Tanpa kita harus menunggu pembentukan detasemen khusus antipemotongan sapi betina produktif,  penindakan tegas oleh petugas berwajib dan blow-up berita oleh media yang click bait nan sensasional terkait pemotongan sapi betina produktif layak untuk memberikan efek jera kepada oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Pandemi Covid-19 meningkatkan kepedulian terhadap imunitas tubuh yang perlu ditingkatkan, salah satunya dengan konsumsi makanan sumber protein hewani. Habis bulan Ramadan terbitlah tunjangan hari raya (THR) bersama Idulfitri dengan pelarangan mudik tahun 2021.

Pemerintah  optimistis mampu menghadapi situasi bulan ini. Peran peternakan rakyat yang memelihara rajakaya di tiga daerah sentra produksi menjadi signifikan bila sungguh-sungguh secara optimal dimobilisasi. Eksistensi rajakaya sebagai salah satu pilar krusial pemenuhan daging sapi segar nasional tidak terelakkan kali ini.

Berita Terkait

Berita Terkini

Terjebak di Kubangan Digital

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 17 Juni 2021. Esai ini karya Aris Setiawan, esais yang tinggal di Kota Solo, Jawa Tengah.

Sinergi Semua Pihak untuk Suksesnya Vaksinasi Covid-19

Artikel ini ditulis dr. Farahdila Mirshanti, MPH, Kepala UPT Puskesmas Purwodiningratan Solo-Mahasiswi S3 Ilmu Kesehatan Masyarakat UNS

Bahasa Indonesia Era Industri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 16 Juni 2021. Esai ini karya Duwi Saputro, guru Bahasa Indonesia di MTsN 1 Solo.

Esensial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 17 Juni 2021. Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos.

Berolahraga di Tengah Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 15 Juni 2021. Esai ini karya Diksanda Savero Robiyono, mahasiswa keolahragaan di Universitas Negeri Malang.

Oposisi Biner dan Lawan Kata

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 14 Juni 2021. Esai ini karya Joko Setiyono, pustakawan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Mengenal Orang-Orang Arab di Israel

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 12 Juni 2021. Esai ini karya Ronny P. Sasmita, Direktur Eksekutif Economic Action (EconAct) Indonesia dan peminat tema-tema hubungan internasional.

Menyehatkan Lahan Sakit

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 10 Juni 2021. Esai ini karya Bambang Pujiasmanto, guru besar di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.

Guru Modis Guru Idola Masa Kini

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 9 Juni 2021. Esai ini karya Astutiati, guru di SDN 1 Brangkal, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.

Garuda di Dadaku

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 11 Juni 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Menjaga Kebebasan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 9 Juni 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Tantangan Feminis pada Era Kontemporer

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 3 Juni 2021. Esai ini karya Ester Lianawati, penulis buku Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan, psikologi dan pendiri Hypatia Pusat Penelitian Psikologi dan Feminisme di Prancis.

Pernikahan Dini Masa Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 8 Juni 2021. Esai ini karya Dila Sulistianingsih, mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang.

100 Hari Kerja Mas Wali Kota

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 7 Juni 2021. Esai ini karya Krisnanda Theo Primadita, mahasiswa pascasarjana Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Solo dan Wellness Tourism

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 5 Juni 2021. Esai ini karya Ginanjar Rahmawan, dosen Marketing di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Surakarta.

Chief of Transformation Officer Itu Bernama...

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 4 Juni 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Seribu Hari Masih Lama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 2 Juni 2021. Esai ini karya Rini Yustiningsih, wartawan Solopos.

Menjaga Kebudayaan Kita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 2 Juni 2021. Esai ini karya Yuliyanti Dewi Untari, guru Bahasa Jawa di SMAN 1 Solo.

Menggemakan Nilai-Nilai Pancasila

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 31 Mei 2021. Esai ini karya Leo Agung S., Ketua Pusat Studi Pengamalan Pancasila Universitas Sebelas Maret.

Mimpi Juara Perusahaan Teknologi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 29 Mei 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Agama dan Kemanusiaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 27 Mei 2021. Esai ini karya Joko Yuliyanto, penggagas Komunitas Seniman Nahdlatul Ulama, penulis buku dan naskah drama.

Kisah di Balik Sajian Makanan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa 25 Mei 2021. Esai ini karya Adib Baroya Al Fahmi, mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Indonesia UIN Raden Mas Said Surakarta.

Memperkuat Gastro-Diplomasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 24 Mei 2021. Esai ini karya Bara Yudhistira, dosen Ilmu Teknologi Pangan dan peneliti di Pusat Pengembangan Kewirausahaan Universitas Sebelas Maret.

Kajian Fiskal Regional

Penulis adalah Pengawas pada KPPN Klaten. Pendidikan Magister Hukum UGM

Impelementasi Catur Gatra Tunggal

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 22 Mei 2021. Esai ini karya Y. Argo Twikromo, dosen di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, antropolog, dan peneliti di MINDSET Institute.

Sinyal Pemulihan Kian Terang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 21 Mei 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Lebaran Covid-19

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 19 Mei 2021. Esai ini karya Suwarmin, wartawan Solopos.

PLTA Kali Samin Simbol Kemandirian

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 20 Mei 2021. Esai ini karya Eko Sulistyo, Komisaris PT PLN (Persero).

Kritik untuk Sangkar Buku Kegiatan Ramadan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 19 Mei 2021. Esai ini karya Rohmah Jimi Sholihah, guru Pendidikan Agama Islam di SDN Tasikhargo, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah.

Palestina dan Jurnalisme Islam

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 18 Mei 2021. Esai ini karya Dhima Wahyu Sejati, mahasiswa Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam Institut Agama Islam Negeri Surakarta.

Jalan Panjang Pemulihan Ekonomi Kota Solo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 17 Mei 2021. esai ini karya Anton A. Setyawan, guru besar Ilmu Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Memaknai Desa Sadar Kerukunan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 10 Mei 2021. Esai ini karya Muhammad Taufik Ismail, anggota panitia Festival Toleransi di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.

Rajakaya untuk Kecukupan Daging Nasional

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 11 Mei 2021. Esai ini karya Fransiskus Raymon, mahasiswa Program Studi Peternakan Universitas Sebelas Maret.

Jangan Mendadak "Bagong"

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 6 Mei 2021. Esai ini karya Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Ahli Muda Badan Ketahanan Pangan Kementeria Pertanian.

Royalti, Radio, dan Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi sabtu, 8 Mei 2021. Esai ini karya Ariyanti Mahardina, freelancer yang pernah bekerja di radio dan kini masih aktif di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Solo.

Kita Harus Menjadi Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 5 Mei 2021. Esai ini karya Ardian Nur Rizki, guru di Sekolah Indonesia Luar Negeri Johor Bahru, Malaysia.

Resiliensi Sektor informal

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 4 Mei 2021. Esai ini karya Muhammad Taufik Nandito, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyan Surakarta dan aktif di Lingkar Studi Sasadara di Kleco, Kota Solo.

Mitos Kekinian

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 5 Mei 2021. Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Solopos Institute.

Narasi Tunggal Soal Mudik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat. 7 Mei 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Hadiah Lebaran dari Mas Edi

Buat saya, di tengah pandemi seperti saat ini, orang-orang seperti Mas Edi inilah bantalan kuat bagi ketahanan ekonomi Indonesia.

Wajah Pendidikan Kita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 3 Mei 2021. Esai ini karya Anicetus Windarto, peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Realino Sanata Dharma Yogyakarta.

Musnahkan Kebebalan Kawanan!

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 30 April 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Menolak Jalan Impunitas

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 29 April 2021. Esai ini karya St, Tri Guntur Naryawa, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Wantok

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 28 April 2021. Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos.

Rumah Tempat Debat dan Mufakat

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 26 April 2021. Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncel Bilik Literasi.

Pelajaran Dari Gawok

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 23 April 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Sinergi Mencegah Perkawinan Anak

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 21 April 2021. Esai ini karya Retno Winarni, guru Bahasa Indonesia di SMAN Kerjo, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.

Bisnis Monyet Tanaman Hias

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 20 April 2021. Esai ini karya Nadia Aliya Azki, mahasiswa Program Studi Manajamen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta.

(Andai) Demokrasi Tanpa Oligarki

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 19 April 2021. Esai ini karya Siti Farida, Kepala Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Jawa Tengah.

Perlawanan Perempuan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 21 April 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Singkong Goreng dan Segelas Wine

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 16 April 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI)

Punden-Punden Kota Solo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 15 April 2021. Esai ini karya Albertus Rusputranto P.A., dosen di Institut Seni Indonesia Surakarta.

Membaca Perempuan Kini

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 24 April 2021. Esai ini karya Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Bukan Cuma Kebaya dan Sanggul

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 22 April 2021. Esai ini karya Elly Jauharah Asriani, guru Matematika di MTsN 7 Klaten, Jawa Tengah.

Menunggu Musikus Jadi Kaya Raya

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 17 April 2021. Esai ini karya Tito Setyo Budi, doktor Kajian Musik, wartawan, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Kabupaten Sragen.

UUD 1945 dan the Living Constitution

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 13 April 2021. Esai ini karya Salma Abiyya, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Menyikapi Waktu Subuh Yang Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 12 April 2021. Esai ini karya Muh. Nursalim, Ketua Komisi Kajian Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Sragen.

Investasi Sosial Wakaf Uang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 9 April 2021. Esai ini karya Wawan Sugiyarto, analis Pusat Analisis dan Harmonisasi Kebijakan Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan dan peraih gelar akademis PhD di Queensland University of Technology, Brisbane, Australia.

Dihantui Masa Lalu

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 14 April 2021. Esai ini karya Rini Yustiningsih, jurnalis Solopos.

Teror dan Agama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 6 April 2021. Esai ini karya Arif Yudistira, tuan rumah Pondok Filsafat Solo.

Berolahraga di Atas Bus Berjajar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 5 April 2021. Esai ini karya Agus Kristiyanto, Guru Besar Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga Fakultas Keolahragaan Universitas Sebelas Maret.

Cerita dari Bontang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 7 April 2021. Esai ini karya Suwarmin, wartawan Solopos.

Mencegah Terorisme Lagi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 3 April 2021. Esai ini karya Soleh Amini Yahman, psikolog dan dosen di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Catur dan Uang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 1 April 2021. Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo.

Film sebagai Sumber Sejarah Alternatif

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 31 Maret 2021. Esai ini karya Anicetus Windarto, peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Realino Sanata Dharma Yogyakarta.

Harapan Kota Solo Bebas dari Sampah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 29 Maret 2021. Esai ini karya Mochamad Syamsiro, Direktur Center for Waste Management and Bioenergy dan dosen di Jurusan Teknik Mesin Universitas Janabadra Yogyakarta.

Lupakan Saja Swasembada Gula

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 24 Maret 2021. Esai ini karya Jojo, kandidat Doktor Ilmu Ekonomi Pertanian Institut Pertanian Bogor atau IPB University.

Tema dan Kontroversi Lama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 27 Maret 2021. Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi.

Sisi Lain Proyek Mercusuar Presiden Joko Widodo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 27 Maret 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Filantropi Ruwahan Era Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 25 Maret 2021. Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Fakultas Adab dan Bahasa Institut Agama Islam Negeri Surakarta.

Pekerjaan Rumah Mas Wali

Soloraya akan menjadi megapolitan baru. Apalagi bila Mas Wali dapat memimpin langkah sinergi dan kolaborasi dengan pemerintahan lainnya di kawasan Soloraya.

Youtube Lebih daripada Televisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 20 Maret 2021. Esai ini karya Imam Subkhan, pengelola studio dan pembuat konten yang tinggal di Karanganyar.

Aspek Pajak dalam Zakat ASN

Rencana pemerintah untuk memotong gaji Aparatur Sipil Negara (ASN) sebesar 2,5% untuk pungutan zakat kembali naik ke permukaan.

Prospek Cerah Budi Daya Porang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 16 Maret 2021. Esai ini karya Bara Yudhistira, dosen Ilmu Teknologi Pangan dan peneliti di Pusat Pengembangan Kewirausahaan Universita Sebelas Maret.

Irasionalitas Impor Beras

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 15 Maret 2021. Esai ini karya Haris Zaky Mubarak, peneliti sejarah dan Direktur Jaringan Studi Indonesia.

Rekayasa Sosial dan Ubah Laku

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 3 Maret 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Rumah Versus Sekolah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 19 Maret 2021. Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015), tertarik dengan tema-tema filsafat pendidikan, filsafat agama, dan ekonomi politik.

Pencurian Artefak Bersejarah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 18 Maret 2021. Esai ini karya Christianto Dedy Setyawan, guru Sejarah di SMA Regina Pacis Solo dan anggota staf Litbang Soeracarta Heritage Society.

Toleransi Bukan Sekadar Kata-Kata

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 17 Maret 2021. Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Solopos Institute dan Pemimpin Proyek Internalisasi Literasi Keberagaman Melalui Jurnalisme di SMA/SMK di Soloraya yang dikelola Solopos Institute.

Jebakan Wacana Tiga Periode

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 17 Maret 2021. Esai ini karya Ronny P. Sasmita, analis senior di Indonesia Strategic and Economic Action Institution.

Prospek Cerah Budi Daya Porang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 16 Maret 2021. Esai ini karya Bara Yudhistira, dosen Ilmu Teknologi Pangan dan peneliti di Pusat Pengembangan Kewirausahaan Universitas Sebelas Maret.

Irasionalitas Impor Sejuta Ton Beras

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 15 Maret 2021. Esai ini karya Haris Zaky Mubarak, peneliti sejarah dan Direktur Jaringan Studi Indonesia.

Penguatan Demokrasi di Daerah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 13 Maret 2021. Esai ini karya M. Dwi Sugiarto yang tertarik dengan tema-tema demokrasi dan pemilihan umum, pernah menjadi anggota Panitia Pengawas Kecamatan Teras pada pemilihan kepala daerah Kabupaten Boyolali 2020.

Pendidikan Nonformal yang Terlupakan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 9 Maret 2021. Esai ini karya Muhammad Ivan, Sarjana Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Jakarta dan analis kebijakan di Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Macet Itu Menyenangkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 12 Maret 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, jurnalis senior Bisnis Indonesia atau GrupJaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Prioritas Pembangunan Desa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 6 Maret 2021. Esai ini karya Mulyanto, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret dan Ketua Bidang Kajian dan Publikasi ISEI Solo.

”Ular Besi” Vorstenlanden

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 3 Maret 20201. Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan pelaju KRL dan Prameks Solo-Jogja.

UNS di Sepuluh Besar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 10 Maret 2021. Esai ini karya Tundjung W. Sutirto, dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret Solo.

AHY versus Moeldoko

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 8 Maret 2021. Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo.

Perpisahan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 10 Maret 2021. Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos.

Pengadaan Tanah untuk Tol Solo-Jogja

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 2 Maret 2021. Esai ini karya Himawan Pambudi, sosiologi perdesaan yang bekerja sebagai pekerja sosial di Yayasan Satunama dan warga yang tinggal di Kabupaten Klaten dan terdampak pembangunan tol Solo-Jogja.

Media Massa dan Media Sosial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 1 Maret 2021. Esai ini karya Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Green Wasathiyyah Campus

Green Wasathiyyah Campus adalah kepedulian terhadap sustainability/keberlanjutan, bagaimana manusia tidak hanya sekadar memikirkan cara bertahan hidup di masa sekarang tetapi juga berpikir untuk kehidupan jangka panjang.

Subsidi Agrobisnis Pangan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 22 Februari 2021. Esai ini karya Agus Wariyanto, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah.

Orang Kaya Baru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 23 Februari 2021. Esai ini karya Yohanes Bara, mahasiswa Magister Manajemen Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan pengelola Tobemore Learning Center di Cangkringan, Sleman, DIY.

Clubhouse dan Kesan Pertama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 26 Februari 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Menerka Pesta Demokrasi 2024

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 25 Februari 2021. Esai ini karya Nursahid Agung Wijaya, Kepala Subbagian Keuangan Umum dan Logistik Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Wonogiri.

Keruntuhan Imajinasi Publik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 27 Februari 2021. Esai ini karya Abdul Jalil, jurnalis Solopos dan mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret.

Buzzer, Politik, dan Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 20 Februari 2021. Esai ini karya Dwi Munthaha, peneliti di Bhuminara Institute dan mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta.