Kampanye gerakan anti bunuh diri yang diikuti Desti Nurfaliqoh. (Istimewa/Facebook)

Solopos.com, SOLO - Desti Nurfaliqoh mahasiswi S2 Teknologi Pendidikan Universitas Sebelas Maret (UNS) ditemukan meninggal dunia seusai gantung diri. Di media sosial, Desti dikenal sebagai seorang yang sangat positif. Bahkan, Desti ikut dalam gerakan kampanye #preventsuicide atau pencegahan bunuh diri di media sosial.

Pada 8 September 2018 Desti mengunggah foto dengan fitur Twibbon yang didesain Kamilia Putri Rahman, kontributor Into The Light Indonesia Suicide Prevention Community. Foto ini dipakai untuk menyambut peringatan Hari Anti Bunuh Diri Sedunia pada setiap tanggal 10 September.

"Do you want to #worktogether to #preventsuicide? Join our movement for World Suicide Prevention Day 2018! [apakah kamu ingin bekerjasama untuk mencegah bunuh diri? bergabunglah dengan pergerakan kita untuk memperingati Hari Bunuh Diri Sedunia 2018]" demikian tulisan dalam unggahan yang dibagikan Desti.

Gerakan media sosial yang digagas Into The Light Indonesia ini mengharuskan pengikutnya untuk mengganti profile picture dengan twibbon untuk bersuara dalam pencegahan bunuh diri di Indonesia.

Selain terlibat dalam gerakan ini, Desti juga dikenal sebagai sosok yang positif. Desti kerap mengunggah kata-kata motivasi dan informasi mengenai beasiswa.

Pada 16 Maret 2019, Desti menulis pengingat dari kata-kata motivasi yang pernah ditulisnya pada tanggal yang sama pada 2013. "Apapun yang terjadi pada dirimu, tetaplah Positif dan selalu semangat!" tulisnya.

Bukan cuma itu, sebelumnya, Desti bahkan mengaku ingin berkontribusi untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. "Pengen banget brkontribusi utk kemajuan pendidikan Indonesia tercinta,, cuma bingung harus bertindak seperti apa dan bagaimana yg tepat. Mohon saran dan masukan yg baik yg membangun, kepada para netijen tercinta Indonesiaah..." tulisnya, pada 6 Maret 2019.

Desti juga sering mengunggah informasi Beasiswa S2 mulai dari Bidikmisi hingga Beasiswa Online Wült Jerman, kuliah online yang diselenggarakan Wült Institute of Business and Technology.

Informasi yang diterima Solopos.com dan dikonfirmasi oleh Polsek Jebres menyebutkan gadis asal Banjar Benua Kayong, Ketapang, Kalimantan Barat, itu ditemukan tak bernyawa di kamar indekosnya, di Gendingan, RT 003/ RW 015, Kelurahan/Kecamatan Jebres, Solo, pada Senin (17/6/2019) siang pukul 13.15 WIB.

Kabar itu mengejutkan, karena sebelum ditemukan tak bernyawa, Desti sempat ditemui Sri Rahayu, rekannya asal Kapuas, Kalimantan Barat, Minggu (16/6/2019) malam. Berdasarkan keterangan yang dihimpun kepolisian dari Sri, keduanya sempat mengobrol dari pukul 19.00 WIB hingga 23.00 WIB. Bahkan mereka sempat makan malam bersama di kamar Desti semalam.

Keesokan harinya pada Senin (17/6/2019) siang, Sri menerima pesan Whatsapp dari Desti namun belum sempat dibalas. Sri pun buru-buru menuju ke tempat Dhesti dan menemukan kamar tersebut tak terkunci. Alangkah kagetnya Sri ketika masuk kamar itu dan menemukan rekannya dalam keadaan tak bernyawa.

Jasad Desti pun kemudian dievakuasi oleh aparat Polsek Jebres berikut petugas Medical Center UNS, PMI, dan anggota SAR. Desti diduga bunuh diri terkait kondisinya yang selama ini stres.

Berdasarkan catatan kepolisian, sebelum kasus bunuh diri ini Dhesti diketahui merupakan pasien psikiatri RS Hermina Solo karena mengalami depresi. Hal itu diungkapkan oleh Kapolsek Jebres, Kompol Juliana, kepada Solopos.com, Senin sore.

Sementara itu beredar informasi dari rekan Desti yang menyebutkan korban memiliki masalah dengan keluarganya. Kabarnya, Dhesti berada dalam situasi yang menyebabkan dia merasa bodoh karena sering dibandingkan dengan adiknya yang dianggap lebih pintar. Namun, Solopos.com belum mendapatkan konfirmasi tentang keterangan ini.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten