Putra Theys Eluay: Jangan Kaitkan Jenderal Andika dengan Kematian Papa

Kelompok masyarakat diharapkan tidak lagi mengkait-kaitkan kasus penculikan dan pembunuhan ayahandanya itu dengan Jenderal Andika Perkasa.

Senin, 8 November 2021 - 20:08 WIB Penulis: Newswire Editor: Abu Nadhif | Solopos.com

SOLOPOS.COM - Putra almarhum Theys Hiyo Eluay, Yanto Eluay, meminta agar semua pihak tidak lagi mengkaitkan kematian ayahandanya dengan Jenderal TNI Andika Perkasa yang saat ini menjabat Panglima TNI. (Antara)

Solopos.com, JAYAPURA — Putra almarhum Theys Hiyo Eluay, Yanto Eluay, meminta agar semua pihak tidak lagi mengkaitkan kematian ayahandanya dengan Jenderal TNI Andika Perkasa yang saat ini menjabat Panglima TNI.

Kelompok masyarakat diharapkan tidak lagi mengkait-kaitkan kasus penculikan dan pembunuhan ayahandanya itu dengan Jenderal Andika Perkasa.

“Saat Jenderal TNI Andika Perkasa hendak menjabat sebagai KSAD isu itu juga diembuskan,” aku Yanto Eluay, kepada Antara di sela-sela memperingati HUT ke-58 Korem 172/PWB, di Jayapura, Senin (8/11/2021).

Ditegaskan dia, pihak keluarga sejak 10 Nopember 2018 sudah menyatakan deklarasi damai dan mencabut kasus pembunuhan yang dikategorikan pelanggaran HAM berat.

Pencabutan itu dilakukan karena keluarga menilai banyak pihak yang memanfaatkan kasus tersebut dan mencari keuntungan sehingga dengan dicabutnya kasus kematian ayahanda tidak ada lagi yang menggunakannya untuk kepentingan kelompok.

Baca Juga: Selamat! Jenderal Andika Perkasa Menjadi Panglima TNI 

“Keluarga juga sudah memaafkan para pihak baik yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung hingga menyebabkan meninggalnya Theys,” kata dia.

Selalu anak sulung dirinya bersama keluarga besar siap bekerja sama dengan pemerintah guna bersama-sama membangun Papua.

“Mari kita bersama-sama membangun Papua agar makin sejahtera dan sebagai umat beragama harus yakin dan percaya apa yang terjadi di dunia sudah menjadi kehendak Tuhan Yang Maha Esa,” kata dia.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, Dortheys Hiyo Eluay (3 November 1937–10 November 2001) adalah mantan Ketua Presidium Dewan Papua (PDP), yang didirikan oleh mantan Presiden Indonesia Abdurrahman Wahid sebagai perwujudan status otonomi istimewa yang diberikan kepada Provinsi Papua.

Pada tahun 1962, Indonesia mengambil alih wilayah Papua dari Belanda. Theys membantu TNI dan polisi Indonesia untuk menemukan orang Papua yang anti-Indonesia.

Hal ini menyebabkan banyaknya korban jiwa di daerah Sentani. Pada tahun 1969, Theys adalah salah satu dari sedikit orang Papua yang dipilih untuk ambil bagian dalam PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat) yang diawasi oleh PBB, yang akhirnya dengan suara bulat memilih integrasi Papua ke dalam Indonesia.

Pada tahun 1971, Theys menjadi anggota DPRD Provinsi Irian Jaya dari Partai Kristen Indonesia (Parkindo) hingga Theys pindah ke Golkar tahun 1977. Ia menjadi anggota DPRD I Irian Jaya hingga tahun 1992.

Baca Juga: Panglima TNI Banyak PR, Pensiun Jenderal Andika Diperpanjang? 

Dalam pemilu berikutnya ia tidak dicalonkan lagi sehingga ia kecewa, dan bersuara lantang terhadap Jakarta. Tahun 1992, dibentuk Lembaga Musyawarah Adat (LMA) yang menyatukan 250 suku Papua.

Theys terpilih dan dinobatkan selaku Pemimpin Besar LMA Papua. Ia kemudian menobatkan diri jadi Pemimpin Besar Dewan Papua Merdeka.

Pada 1 Desember 1999, Theys mencetuskan dekrit Papua Merdeka serta mengibarkan bendera Bintang Kejora. Lalu pada Mei-Juni 2000, ia mengadakan Kongres Nasional II Rakyat Papua Barat, yang lalu dikenal sebagai Kongres Rakyat Papua, Jayapura. Dalam kongres itu, Theys terpilih sebagai Ketua PDP.

Di era Presiden Megawati Soekarnoputri status ekonomi khusus Papua dicabut.

Pada tanggal 10 November 2001, Theys Hiyo Eluay diculik dan lalu ditemukan terbunuh di mobilnya di sekitar Jayapura.

Oknum TNI

Menurut penyidikan yang dipimpin oleh Kepala Kepolisian Daerah Papua Jenderal I Made Mangku Pastika, yang juga memimpin penyidikan peristiwa Bom Bali 2002, ternyata pembunuhan ini dilakukan oleh oknum-oknum TNI.

Beberapa anggotanya, antara lain Letkol Hartomo, berikutnya Letkol Hartomo tidak dipecat namun hanya ditahan selama 3 tahun. Dunia Internasional mengecam pembunuhan Eluay ini.

Eluay dimakamkan di sebuah gelanggang olahraga di tempat kelahirannya di Sentani. Pemakamannya dihadiri kurang lebih 10.000 orang Papua. Pada jalan raya antara Jayapura dan Sentani sebuah monumen kecil didirikan untuk mengenang pembunuhan ini.

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif