Anak-anak bermain bersama Putra Putri Solo di Taman Cerdas Jebres, Solo, Sabtu (11/5/2019). (M. Ferri Setiawan)

Solopos.com, SOLO — Para Putra-Putri Solo mengajak anak-anak yang bermain di Taman Cerdas Jebres di Jl. Ki Hajar Dewantara bermain jamuran dan berbagai permainan tradisional lain. Sejenak anak-anak bermain bersama, bukan bermain gadget.

Angin berembus di Taman Cerdas Jebres di Jl. Ki Hajar Dewantara RT 002/ RW 025, Jebres, Sabtu (11/5/2019) sore. Sejumlah burung merpati beterbangan ke sana kemari. Sebagian burung merpati hinggap di ujung dahan pohon. Sebagian yang lain hinggap di sejumlah lampu penerangan jalan.

Waktu menunjukkan pukul 16.25 WIB. Sejumlah warga mulai berdatangan ke Taman Cerdas untuk bersantai sembari menunggu datangnya waktu berbuka puasa. Puluhan anak bermain permainan tradisional bersama orang tua serta Putra-Putri Solo.

Meski sempat diguyur hujan, namun kegiatan Lare–lare Dolanan Sore (Laladore) tetap meriah. Ratusan anak begitu semangat mengikuti jalannya kegiatan tersebut.

Bermacam-macam dolanan (permainan) dan tembang tradisional disuguhkan peserta Laladore, di antaranya jamuran, gobak sodor, dakon, engklek, ndok-ndokan, cublak-cublak suweng, dan jaranan. Para Putra-Putri Solo mengenakan kostum tradisional.

Di hadapan ratusan penonton, Putra-Putri Solo itu memperkenalkan permainan tradisional sekaligus membangkitkan kenangan bagi orang-orang yang pernah memainkan dolanan tersebut. Panggung didesain terbuka dengan segala pernik-pernik pendukungnya.

Di wajah anak-anak terlihat keceriaan dan kebahagiaan saat mempersembahkan dolanan dan tembang. Satu sama lain saling berbaur dan bernyanyi tanpa memandang perbedaan usia, agama, warna kulit, sekolah, dan sebagainya. Sejumlah anak, Feronika, Ambarwati, Bayu, dan beberapa Putra-Putri Solo asyik bermain jamuran bersama pengunjung.

Di sudut lain, beberapa anak laki laki mengambar garis pembatas di paving. Mereka siap bermain gobak sodor.

Warga Jebres Tengah, Tri Wulandari, sangat senang melihat anaknya bermain permainan tradisional bersama. “Senang melihat anak bermain permainan tradisional. Biasanya anak saya hanya memainkan game di handphone,” ujarnya saat ditemui Solopos.com di Taman Cerdas, Sabtu.

Permainan tradisional mengandung nilai-nilai kebersamaan, toleransi, dan kerja sama. Permainan modern saat ini, menurutnya, sangat individual. "Permainan tradisional tidak bisa sendiri, perlu saling kerja seperti gobak sodor dan delikan. Permainan tradisional perlu diuri-uri sebab mendidik anak-anak untuk bisa bekerja sama,” tambahnya.

Putra Solo III 2018, Sofyan Arfi, mendefinisikan permainan sebagai aktivitas yang memberikan kesenangan kepada anak. Ada banyak keuntungan yang diperoleh anak ketika bermain, semisal perkembangan fisik, kognisi, bahasa, kreativitas, negosiasi, kompetensi sosial, dan masih banyak lagi lainnya.

Sebagai contoh permainan dakon. Menurut Sofyan, permainan itu dapat melatih kemampuan motorik anak yakni saat memegang biji-bijian. Manfaat interaksi juga bisa diperoleh karena permainan tersebut harus dilakukan bersama-sama. Negosiasi untuk menentukan siapa dulu yang akan bermain, kemampuan berhitung, hingga menghasilkan banyak biji dalam lumbung adalah manfaat lainnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten

%d blogger menyukai ini: