Puting Beliung Landa 196 Desa di Jateng, Kerugian Ditaksir Rp6,6 M
Sukarelawan dari warga Manggung mengevakuasi rumah roboh akibat puting beliung di Desa Manggung, Ngemplak, Boyolali, Jumat (22/11/2019). (Solopos/Tamara Geraldine)

Solopos.com, SEMARANG — Sejumlah daerah di Jawa Tengah (Jateng) dilanda bencana angin kencang atau puting beliung dalam kurun beberapa hari terakhir.

Catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng, bencana angin puting beliung melanda 196 desa di 99 kecamatan yang berada di 22 kabupaten/kota di Jateng.

Total ada sekitar 171 rumah mengalami rusak berat akibat puting beliung itu. Sementara, sekitar 1.500 rumah mengalami kerusakan ringan dan 4.292 rumah mengalami kerusakan ringan.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Jateng, Sudaryanto, menyebutkan angin puting beliung itu tak hanya mengakibatkan kerugian materi. Bencana angin kencang itu juga menyebabkan jatuhnya korban jiwa.

“Ada dua korban jiwa akibat puting beliung itu. Satu di Klaten, satunya lagi di Boyolali. Kalau total kerugian ditaksir sekitar Rp6,6 miliar,” ujar Sudaryanto kepada wartawan di Semarang, Jumat (13/12/2019).

Sudaryanto pun mengimbau kepada bupati/wali kota yang daerahnya terdampak angin kencang atau puting beliung untuk menerbitkan surat keadaan darurat puting beliung.

Hal itu dilakukan guna mendapatkan bantuan dari pemerintah provinsi (pemprov) melalui dana operasional gubernur.

“Sesuai Pergub 77 dan 78, Pemprov Jateng melalui dana operasional gubernur akan memberikan ganti rugi. Minimal lima rumah, sisanya diganti pemerintah daerah masing-masing. Dananya pak gubernur itu masih banyak, dari Rp33 miliar baru kepakai sekitar Rp6 miliar,” jelas Sudaryanto.

Sudaryanto menambahkan bencana angin kencang atau puting beliung itu masih akan mengancam sejumlah daerah di Jateng pada masa peralihan musim seperti saat ini atau pancaroba.

Oleh karenanya, ia pun meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan jika melihat tanda-tanda datangnya angin puting beliung.

“Kalau mendung dan awannya terlihat seperti jamur dan menghitam, itu semua [masyarakat] harus siaga. Itu tanda-tanda angin puting beliung mau datang. Kondisi ini masih akan mengancam sampai nanti musim hujan benar-benar tiba. Perkiraan BMKG musim hujan benar-benar total itu Januari,” jelas mantan Kepala Dispermadesdukcapil Jateng itu.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho