Tutup Iklan

Puser Parto

 Solopos Digital Media - Panduan Informasi dan Inspirasi

SOLOPOS.COM - Solopos Digital Media - Panduan Informasi dan Inspirasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (14/8/2019). Esai ini karya Ambrusius Kuncoro Brahmowisang, guru Sejarah di SMAN 1 Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah celcus73@yahoo.com.

Solopos.com, SOLO — Patriotisme tergerus budaya dan teknologi baru. Di kalangan peserta didik kekaguman kepada tokoh-tokoh perjuangan bangsa Indonesia tergeser oleh kekaguman kepada selebritas; misalnya kekaguman terhadap selebritas dari Korea Selatan, Jepang, dan sebagainya.

Ini menunjukkan patriotisme di kalangan peserta didik mengkhawatirkan. Perlu penguatan pendidikan karakter untuk partiotisme. Penguatan pendidikan karakter (PPK) merupakan gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan.

PPK untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari gerakan nasional revolusi mental (Pasal 1 ayat (1) Perpres No. 87/2017).

PPK bertujuan membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi emas Indonesia dengan jiwa Pancasila dan pendidikan karakter yang baik guna menghadapi dinamika perubahan pada masa depan.

Tujuan lain PPK adalah mengembangkan pendidikan nasional yang meletakkan pendidikan karakter sebagai jiwa utama dalam penyelenggaraan pendidikan bagi peserta didik dengan dukungan pelibatan publik yang dilakukan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal dengan memerhatikan keragaman budaya di Indonesia (Pasal 2 ayat (1) dan (2) Perpres No. 87/2017).

PPK merupakan usaha sistematis untuk menanamkan dan mengimplentasikan nilai-nilai Pancasila. PPK dilaksanakan dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan karakter meliputi nilai-nilai religius, jujur, toleran, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan bertanggungjawab (Pasal 3 Perpres No. 87/2017).

Integrasi Pendidikan Karakter

Salah satu cara membentuk karakter generasi bangsa yaitu dengan menanamkan nilai-nilai patriotisme melalui integrasi pendidikan karakter dalam pembelajaran sejarah. Nilai-nilai karakter luhur dapat membentuk karakter peserta didik secara efektif.

Harapannya peserta didik menjadi generasi tangguh dalam menghadapi segala persoalan. Nilai-nilai patriotisme tidak dapat tumbuh secara spontan  pada diri peserta didik, harus ditanamkan sejak dini, salah satunya melalui pendidikan karakter pembelajaran sejarah.

PPK menjadi fokus pelaksanaan di seluruh jenjang pendidikan. Saat ini permasalahan  karakter  urgen untuk  diselesaikan. Permasalahan   ini   juga   merupakan   tanggung   jawab para  pendidik, termasuk di SMAN 1 Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri.

Pembelajaran di kelas diharapkan dapat menjadi wadah bagi penanaman  karakter, khususnya patriotisme secara tepat. Pelaksanaan pembelajaran puser parto merupakan salah satu cara  menguatkan patriotisme di kalangan peserta didik.

Puser parto adalah kependekan dari puisi sejarah para tokoh. Ini adalah pengungkapan pengalaman psikologi seseorang terhadap para tokoh sejarah perjuangan bangsa Indonesia melalui kegiatan literasi yang diwujudkan dalam bentuk untaian kata, bahasanya dipadatkan, dan mengandung nilai-nilai patriotisme.

Memahami dan mengembangkan kompetensi dasar serta  menginfiltrasikan pendidikan karakter patriotisme merupakan langkah awal yang dapat dilakukan pendidik. Kemudian dilanjutkan membuat rancangan pelaksanaan pembelajaran/RPP dan ditindaklanjuti dalam kegiatan pembelajaran di kelas.

Lima Tahap

Puser parto menjadi strategi pendidik untuk mengintegrasikan PPK dalam pembelajaran sejarah, khususnya patriotisme di SMAN 1 Wuryantoro. Strategi ini dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran discovery learning  dengan menggunakan lima tahapan.

Pertama, menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, mengajukan demonstrasi salah satu puisi sejarah karya Leon Agusta yang berjudul Ode Buat Proklamator. Kedua, membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas kelompok yang berhubungan dengan materi melalui penciptaan karya puisi sejarah para tokoh.

Ketiga, mendorong siswa mengumpulkan informasi dari berbagai sumber belajar tentang karakter dan peran para tokoh perjuangan sekitar proklamasi kemerdekaan. Keempat, membantu siswa merencanakan dan menyiapkan karya yang telah dibuat dalam kelompok melalui presentasi.

Kelima, membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi terhadap proses pembelajaran. Puser parto efektif bagi proses pembelajaran karena peserta didik dipaksa mencari serta menemukan karakter dan peran para tokoh proklamasi kemerdekaan Indonesia melalui  proyek yang mereka diskusikan dalam kelompok, yaitu karya puisi yang sesuai kaidah mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Cara ini efektif untuk menguatkan patriotisme  peserta didik. Hal ini berdasarkan nilai angket patriotisme, seluruh peserta didik berpredikat baik. Pembelajaran puser parto juga menghasilkan dampak tercapainya kompetensi hasil belajar siswa, baik aspek pengetahuan maupun aspek keterampilan, dengan ketuntasan untuk seluruh peserta didik. 

Semoga peserta didik mencapai kompetensi karakter khususnya patriotisme yang pada masa mendatang dapat menjiwai dalam kehidupan mereka sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Berita Terkait

Berita Terkini

Anggota DPR: Kurang Anggaran Bikin Digitalisasi Buku Solo Tak Maksimal

Wakil Ketua Komisi X DPR Agustina Wilujeng menyebut digitalisasi buku di perpustakaan Solo tidak maksimal karena kurang anggaran.

Bharada Korban KKB Dimakamkan di Aceh

Bhayangkara Dua (Bharada) Muhammad Kurniadi gugur dalam baku tembak dengan KKB di Kiwirok.

Duh, 150 Hakim di Jatim Diadukan karena Melanggar Kode Etik

Sedikitnya 150 hakim di Jawa Timur diadukan ke Komisi Yudisial karena melanggar kode etik.

Epidemiolog Kaget Kasus Corona RI Bisa Turun Cepat

Pandu sendiri mengaku kaget dengan angka penyebaran Covid-19 di Indonesia bisa turun dengan cepat.

Buronan 12 Tahun Terdeteksi Gara-Gara Menggugat Cerai Istri

Sang buronan terdeteksi setelah namanya muncul di Pengadilan Agama Subang, Jawa Barat sebagai penggugat cerai istrinya.

BST Kemensos Disetop? Kadinsos Wonogiri: Tunggu Surat Resmi Saja!

Dinas Sosial Wonogiri masih menunggu surat keputusan resmi dari Kemensos terkait informasi mengenai penghentian BST dampak pandemi Covid-19.

320 Petani Milenial Klaten Diusulkan Ikut Pelatihan di Kementan

Pemkab Klaten mengusulkan ratusan petani milenial yang umurnya di bawah 40 tahun ikut pelatihan dari Kementerian Pertanian.

Apa Kabar Rencana Gedung RSUD Sukoharjo di Bekas Terminal Kartasura?

Saat pemerintahan Bupati Wardoyo Wijaya, lahan bekas Terminal Kartasura diproyeksikan untuk gedung unit II RSUD Ir Soekarno Sukoharjo.

Kapolda Jateng Janji Beri Pekerjaan Pensiunan Polisi Silver Semarang

Janji itu dilontarkan Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol. Ahmad Luthfi setelah video pensiunan polisi silver itu marak di media sosial.

Tak Sanggup, Pengelola Serahkan Rusunawa Begalon I ke Wali Kota Solo

Pengelola Rusunawa Begalon I Solo menyerahkan pengelolaan rusunawa tersebut ke Wali Kota Solo karena sudah tidak sanggup.

Miris! Manusia Silver Semarang Ternyata Pensiunan Polisi

Kasus manusia silver di Semarang tak kalah mengundang keprihatinan.

Dari Kamar Mungil, Gadis Boyolali Mendulang Rejeki

Gadis di Boyolali mendulang rejeki dari dalam kamar yang mungil melalui kreativitasnya menempel barang bekas.

Piala Sudirman 2021: Indonesia Bekuk Rusia, Unggul 3-0 Berkat Minions

Tim Indonesia memastikan memetik kemenangan di laga perdana Piala Sudirman 2021. Hal itu setelah Tim Indonesia mampu unggul 3-0 atas Tim Rusia.

Populasi Kucing Jalanan Soloraya Naik saat Pandemi Corona, Mau Adopsi?

Pegiat komunitas pencinta kucing, Rudimeong, mengajak masyarakat untuk mengadopsi kucing jalanan ketimbang membeli.

Tim Kriket Putra Bali Raih Emas Pertama PON XX Papua

Kalahkan tim kriket putra Papua dengan skor 76-63.

Eksploitasi Anak, Dulu Bocah Silver kini Bayi Silver

Kasus eksploitasi anak dengan dijadikan objek mengamen tidak hanya terjadi saat ini.