Pusat Prostitusi PSK di Solo, Mungkinkah Dikukut Mas Gibran?
Ilustrasi Prostitusi, PSK (Solopos/Whisnupaksa Kridhangkara)

Solopos.com, SOLO — Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, berniat memberantas praktik prostitusi. Dia menginstruksikan polisi dan jajarannya untuk melacak praktik ilegal tersebut.

Instruksi tersebut disampaikan Gibran setelah terjun melakukan operasi penyakit masyarakat (pekat) pada Sabtu (27/2/2021). Dalam operasi pekat di Solo tersebut sebanyak 36 PSK diamankan.

“Kemarin operasi pekat bersama Polresta Solo kan baru pertama kali. Lalu banyak masukan di twitter sama michat lebih banyak, akan kami telusuri dan trace satu per satu,” terang Gibran, Senin (1/3/2021).

Baca juga: Solo Bersih dari PSK?

Kini praktik prostitusi yang dilakukan PSK di Solo berpindah ke tempat tertutup seperti penginapan, losmen, hotel melati, bahkan hotel berbintang. Dihimpun dari berbagai sumber, Selasa (2/3/2021), praktik tersebut setidaknya berkembang di tiga lokasi yakni Kestalan dan Gilingan (Kecamatan Banjarsari) serta Kerten (Laweyan).

Beberapa waktu lalu Solopos.com sempat menelusuri kawasan prostitusi di Kestalan tepatnya di Jl Natuna Gang I, beberapa waktu lalu. Ketika itu malam Minggu, kru Solopos.com ditemani seorang kawan dan berpura-pura sebagai tamu.

Kami disambut seorang lelaki paruh baya di ujung gang yang menanyakan keperluan kami. Dia kemudian mengantarkan kami berkeliling dari satu hotel ke hotel lain yang di dalamnya ada sejumlah PSK duduk menunggu dengan dandanan menor dan pakaian terbuka yang usianya sekitar 30-40 tahunan. Lelaki itu mengatakan tarif kencan dengan PSK di Solo itu Rp150.000 yang sudah termasuk tempat menginap.

Baca juga: Terlindas Bus Eka di Sragen, Warga Ngawi Meninggal

Prostitusi Terselubung

Selain di dalam hotel, ada juga sejumlah perempuan lain berusia lebih muda yang mangkal di pinggir jalan menunggu tamu. Salah satu PSK itu menawarkan harga Rp200.000 untuk layanan kencan plus menginap.

Hal tersebut merupakan salah satu gambaran geliat para PSK dan bisnis prostitusi di Solo setelah lokalisasi Silir ditutup. Hal ini membuktikan bahwa penutupan lokalisasi bukanlah solusi mengatasi praktik prostitusi.

Koordinator Nasional Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI) mengatakan penutupan lokalisasi dengan harapan Indonesia bebas aktivitas prostitusi masih menjadi tanda tanya. Sebab, prostitusi berbeda dengan lokalisasi. Dia menegaskan prostitusi akan tetap ada meski lokalisasi ditutup. Penutupan lokalisasi juga mempersulit pengendalian HIV/AIDS.

Baca juga: Bejat, Pemuda Ini Perkosa dan Bunuh Seorang Nenek di Mojokerto

Apalagi belakangan muncul praktik prostitusi online, termasuk dilakukan para PSK di Kota Solo. sejumlah situs media massa online memberitakan prostitusi online di Kota Solo semakin marak selama pandemi Covid-19. Layanan esek-esek itu ditawarkan melalui media sosial, seperti Facebook dan Twitter.

Berdasarkan informasi yang diterima Solopos.com modus pertama menggunakan media sosial seperti Twitter untuk promosi, lalu tawar-menawar dilakukan lewat aplikasi perpesanan seperti WhatsApp. Modus kedua memanfaatkan MiChat, sebuah aplikasi berburu teman yang dilengkapi fitur obrolan.



Berita Terkini Lainnya








Kolom