Punden-Punden Kota Solo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 15 April 2021. Esai ini karya Albertus Rusputranto P.A., dosen di Institut Seni Indonesia Surakarta.

Punden-Punden Kota Solo

SOLOPOS.COM - Albertus Rusputranto P.A. (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Di belakang rumah saya ada punden. Masyarakat dusun tempat saya tinggal menyebut punden itu Sendang Panguripan. Sendang ini mirip seperti sumur dengan tangga berundak ke bawah. Berada di tengah halaman berbatas pagar bata, di antara beberapa pohon besar.

Setiap Kamis Pahing pada bulan Sura, selepas asar, beberapa dari kami masih menggelar bancakan (merti desa) sederhana di situs tersebut. Saya, sebagai warga pendatang, baru dua kali turut acara itu. Menurut cerita para sepuh, dulu semua penduduk dusun hadir setiap kali merti desa digelar.

Kala itu ada juga warga dusun lain (dalam satu desa) yang turut serta. Sendang Panguripan ini sumur tertua di desa tempat saya tinggal. Lebih tua dibanding sumur (punden) di dusun-dusun lain (dalam satu desa). Itulah makanya merti desa di dusun-dusun lain belum diselenggarakan kalau merti desa di Sendang Panguripan belum digelar. Sampai sekarang “aturan” tersebut masih dijalankan.

Merti desa di dusun tempat saya tinggal dari dulu memang sederhana. Hanya berdoa dan makan bersama. Sampai sekarang masih tetap sama. Bedanya, yang turut serta dalam ritual tersebut sekarang tidak sebanyak dulu. Ada beberapa hal penyebabnya. Di antaranya, menurut keterangan tetangga, karena banyak pendatang baru.

Mereka secara emosional tidak punya ikatan dengan sejarah cikal bakal dusun, banyak yang tidak bisa meluangkan waktu untuk turut dalam kegiatan merti desa (karena aktivitas produktif sehari-hari mereka), dan ada pula yang menganggap ritual semacam itu tidak sesuai dengan ajaran agama yang dianut.

Sendang Panguripan, sebagai punden, memang kurang terawat. Meskipun kadang saya masih menjumpai ada yang caos dhahar, memberi sesaji, kepada ingkang mbahureksa sendang, masih ada aturan-aturan dan, atau, larangan-larangan yang tidak boleh dilanggar setiap kali berada di area sendang, serta masih ada cerita-cerita gaib beredar seputar kesaktian ingkang mbahureksa sendang.

Dua kali saya menyaksikan Sendang Panguripan dikuras, dibersihkan (menjelang merti desa). Menurut salah seorang warga yang “bertugas” menguras, debit air sendang menyusut banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sendang Panguripan rupanya semakin surut pamornya.

Memperhatikan Sendang Panguripan, saya jadi teringat dengan situs punden-punden di kampung-kampung Kota Solo (kampung-kampung di Kota Solo banyak yang dulu adalah kawasan pedesaan dan, atau, pedusunan tepi sungai yang teraglomerasi menjadi kampung perkotaan) dan mengira-ira bagaimana nasibnya.

Kalau Sendang Panguripan yang masih berada di kawasan yang secara administratif berstatus dusun saja surut pamornya, lalu bagaimana pamor punden-punden di Kota Solo (dan, atau, kota-kota lainnya)? Salah satu punden yang masih dikenal di Kota Sala adalah Sumur Mbah Meyek.

Wayang Kulit

Konon danyang (ingkang mbahureksa) sumur tersebut bernama mbah Meyek. Situs tersebut berlokasi di Kampung Bibis Kulon, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari. Masyarakat Kampung Bibis Kulon sampai sekarang masih terus menyelenggarakan upacara merti desa (meskipun daerah tersebut sudah bukan lagi desa).

Setiap kali diselenggarakan merti desa (pada Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon pada bulan Sura), puncak acaranya selalu pementasan wayang kulit. Tidak boleh tidak. Kalau merti desa dan syarat utamanya, pementasan wayang kulit, tidak diselenggarakan, dipercaya akan mengakibatkan bencana bagi kampung mereka.

Selain Sumur Mbah Meyek tidak banyak lagi situs punden di Kota Soloyang dikenal oleh masyarakat, bahkan–banyak terjadi--oleh warga kampung tempat situs-situs punden tersebut berada. Banyak kajian tentang keberadaan punden dan kebudayaan masyarakat tempat situs tersebut berada.

Punden dilihat tidak hanya sebagai penanda kepercayaan masyarakat tetapi juga identitas komunitas (termasuk sejarah cikal bakal sebuah komunitas) dan, bahkan, situs perlawanan terhadap “yang dominan”. Kuntowijoyo dalam buku Raja, Priyayi, dan Kawula (2004), misalnya, menunjukkan fenomena “soemoer elok” di Kampung Bratan (1914), Laweyan.

Permukaan air sumur itu--berkat dhemit Gajahan--bisa mencitrakan sosok dua orang haji sedang berzikir, seekor harimau dan gajah, lintang alihan dan rembulan, dan banyak cerita lagi, sebagai ekspresi perlawanan terhadap budaya karaton dan elite perkotaan (budaya dominan) di Solo waktu itu.

Kuntowijoyo, dalam buku tersebut, menjelaskan konsumsi simbol keraton semakin jauh dari pusat nagari semakin menipis. Semakin menipisnya eksistensi simbol keraton ini berbanding terbalik dengan semakin kuatnya ekspresi perlawanan simbolis para kawula. Keberadaan danyang-danyang atau dhemit-dhemit kampung dilihatnya sebagai perlawanan terhadap Kanjeng Ratu Kidul yang dipercaya oleh keraton sebagai pelindung kerajaan.

Longgarnya ikatan simbolis komunitas warga Kota Solo ini bukan tidak mungkin  disebabkan oleh, salah satunya, keberadaan komunitas kampung-kampung kota yang ada sebelum Keraton Kasunanan Surakarta berdiri di Desa Sala (dipindahkan dari Kartasura). Kampung-kampung kota yang dulu adalah komunitas pedesaan/pedusunan tepi sungai.

Komunitas-komunitas warga tersebut mempunyai ikatan primordial yang kuat, bahkan setelah desa-desa mereka dilebur menjadi satu kawasan kota bernama Surakarta Hadiningrat (yang kemudian terbagi dua dengan Kadipaten Mangkunegaran, lalu disatukan lagi dalam konsep kota modern oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda sampai kemudian menjadi kota/kotamadya pada era pascarevolusi kemerdekaan).

Kampung-kampung yang ada di Kota Solo pada akhirnya memang tidak semuanya bermula dari desa-desa yang teraglomerasi. Ada juga perkampungan yang muncul setelah Keraton Kasunanan Surakarta berdiri di Desa Sala (dan munculnya Kadipaten Mangkunegaran). Kampung-kampung tersebut terbentuk dari praktik magersari.

Para kawula/rakyat yang diperkenankan magersari di tanah-tanah para bangsawan atau para sentana (yang mendapat hadiah tanah dari Sinuhun dan, atau, Adipati Mangkunegara). Ada juga kampung yang bermula dari komunitas profesi, komunitas bangsa, kawasan pasar, dan sebagainya.

Latar belakang terbentuknya kampung di Kota Solo akhirnya memang berbeda-beda (tidak semuanya aglomerasi dari komunitas desa/dusun), namun ikatan yang menentukan terbentuknya kampung sama: kesetaraan. Kampung yang bermula dari praktik magersari pun pada perkembangannya tidak ditentukan oleh patronnya, bukan oleh para ndara, tapi oleh warga magersarinya, para kawula.

Kampung terbentuk oleh ikatan primordial dalam wacana kesetaraan. Warga magersari di Kota Solo biasanya berasal dari kawasan pedesaan, kebanyakan kerabat sang patron sendiri (banyak sentana yang dulu berasal dari desa). Kampung yang terbentuk dari komunitas profesi juga tidak jauh berbeda: berasal dari desa (misalnya komunitas undhagi, sayangan, kalang, kemasan, dan sebagainya).

Selain itu, yang agak berbeda, ada juga yang bermula dari komunitas bangsa atau ras yang berbeda (misalnya komunitas Bali, komunitas Madura, komunitas Tionghoa, komunitas Arab, dan sebagainya). Warga kampung yang bermula dari komunitas bangsa atau ras yang berbeda ini pun diikat dalam ikatan primordialitas dan kesetaraan.

Kesetaraan di kalangan kawula dan warga kota lainnya yang tidak mempunyai ikatan patron-klien (tiyang mardika) bukannya sama sekali tidak terstruktur dalam tatanan strata. Stratifikasi dalam kesetaraan itu tetap ada. Dalam komunitas tersebut tetap ada yang duduk sebagai elite komunitas.

Biasanya disebut sebagai ”yang dituakan”. Biasanya mereka adalah orang-orang yang dipercaya mempunyai kelebihan, baik profan maupun sakral. Dalam hubungan patron-klien dalam kawasan magersari, merekalah yang menjadi jembatan penghubung antara para ndara dan para kawula (warga magersari).

 Jangkep

Memang setidaknya ada empat bentuk cikal bakal kampung di Kota Solo. Ada yang bermula dari komunitas pedusunan/desa yang sudah ada sebelum kota ini terbentuk, ada yang bermula dari komunitas magersari, ada yang bermula dari komunitas profesi (dan ini masih bisa dibedakan menjadi dua: para kawula keraton/kadipaten dan kalangan tiyang mardika) dan ada pula yang bermula dari komunitas bangsa/ras (para perantau).

Meskipun begitu, karakter masing-masing komunitas berbeda-beda, masing-masing mempunyai keunikan sendiri. Perbedaan-perbedaan tersebut yang membuat Kota Solo kaya ragam, plural. Perbedaan-perbedaan tersebut embrio suburnya demokrasi di kota ini, meskipun dikenal–apalagi dalam wacana pariwisata--sebagai kota eks vorstenlanden (tanah raja-raja).

Ekspresi feodal diterima dalam kerangka primordialitas yang plural dan demokratis. Sebagaimana komunitas-komunitas manusia yang beradab, warga kampung Kota Solo ini menyejarah. Sejarah dan keberadaban didudukkan dalam konsep sangkan paraning dumadi, keberadaan dan tujuan hidup yang beradab ditentukan juga dari cikal bakal.

Komunitas-komunitas warga yang hidup di Kota Solo berupaya dengan sadar membangun keutuhan hidup dan keberlanjutan hidup mereka di atas fondasi tersebut. Dari konsep sangkan paraning dumadi inilah mereka tahu yang disebut jangkep. Dan itulah keutamaan hidup mereka.

Manusia yang berhasil dalam konsep tersebut bukanlah yang kaya raya, berkuasa, berpengetahuan, atau yang kondhang kaonang-onang, tapi yang jangkep. Manusia yang bisa merangkai, menyatukan, dan menemukan keutuhan hidup yang menyejarah. Keutamaan tersebut mereka tandai dalam simbol-simbol, di antaranya diekspresikan sebagai situs punden.

Punden ini penanda atas cita-cita terbentuknya keutuhan dan keberlanjutan hidup: jangkep dalam sangkan paraning dumadi. Itulah makanya punden dalam komunitas masyarakat yang masih mempunyai ikatan primordial kuat sangat dihormati. Menghormati punden sama saja menghormati sejarah, keberadaan, tujuan hidup, dan keberlanjutan hidup mereka sendiri.

Punden bukan sekadar cikal bakal dalam arti kemasalaluan, punden adalah sekarang dan proyeksi-proyeksi masa depan. Punden dalam sebuah komunitas masyarakat tentu bentukan. Pernah tidak ada sebelumnya (maka sering disebut sebagai cikal bakal juga).

Artinya, kalau itu bentukan, berarti kita bisa dan boleh menciptakan punden-punden baru dan atau–bahkan-- menciptakan pemaknaan “baru” atas punden yang sudah ada. Seperti halnya simbol-simbol kebudayaan dalam masyarakat.

Seperti halnya kreasi simbolis, penciptaan punden (dan atau pemaknaan baru atas keberadaan punden yang ada) ini adalah kreasi yang berlandaskan kesadaran menakar kedalaman-kedalaman hidup pada setiap zaman: hal ihwal sangkan paraning dumadi.

Baik punden yang ada dengan pemaknaan lama yang masih lestari, punden lama dengan pemaknaan sekarang, maupun punden-punden baru yang bertolak dari hasil takaran kedalaman-kedalaman hidup sekarang, semuanya menyoal hal ihwal sangkan paraning dumadi.

Punden adalah pernyataan identitas sebuah komunitas (yang akarnya kuat mencengkeram) sekaligus penanda, pengingat, atau peneguh kehendak mereka untuk menemukan keutuhan hidup dalam sangkan paraning dumadi.

Meskipun sekarang kondisinya tidak seperti dulu lagi, setidaknya Sendang Panguripan di belakang rumah saya masih dihormati sebagai punden komunitas masyarakat dusun tempat saya tinggal. Artinya beberapa dari kami masih memegang keutamaan hidup berkomunitas yang beridentitas, beradab, dan menyejarah.  Lalu, bagaimana dengan komunitas warga yang hidup di kampung-kampung di Kota Solo? Apakah masih ada punden di tengah kehidupan mereka sehari-hari?

Berita Terkait

Berita Terkini

Resiliensi Sektor informal

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 4 Mei 2021. Esai ini karya Muhammad Taufik Nandito, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyan Surakarta dan aktif di Lingkar Studi Sasadara di Kleco, Kota Solo.

Mitos Kekinian

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 5 Mei 2021. Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Solopos Institute.

Narasi Tunggal Soal Mudik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat. 7 Mei 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Hadiah Lebaran dari Mas Edi

Buat saya, di tengah pandemi seperti saat ini, orang-orang seperti Mas Edi inilah bantalan kuat bagi ketahanan ekonomi Indonesia.

Wajah Pendidikan Kita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 3 Mei 2021. Esai ini karya Anicetus Windarto, peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Realino Sanata Dharma Yogyakarta.

Musnahkan Kebebalan Kawanan!

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 30 April 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Menolak Jalan Impunitas

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 29 April 2021. Esai ini karya St, Tri Guntur Naryawa, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Wantok

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 28 April 2021. Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos.

Rumah Tempat Debat dan Mufakat

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 26 April 2021. Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncel Bilik Literasi.

Pelajaran Dari Gawok

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 23 April 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Sinergi Mencegah Perkawinan Anak

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 21 April 2021. Esai ini karya Retno Winarni, guru Bahasa Indonesia di SMAN Kerjo, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.

Bisnis Monyet Tanaman Hias

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 20 April 2021. Esai ini karya Nadia Aliya Azki, mahasiswa Program Studi Manajamen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta.

(Andai) Demokrasi Tanpa Oligarki

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 19 April 2021. Esai ini karya Siti Farida, Kepala Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Jawa Tengah.

Perlawanan Perempuan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 21 April 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Singkong Goreng dan Segelas Wine

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 16 April 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI)

Punden-Punden Kota Solo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 15 April 2021. Esai ini karya Albertus Rusputranto P.A., dosen di Institut Seni Indonesia Surakarta.

Membaca Perempuan Kini

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 24 April 2021. Esai ini karya Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Bukan Cuma Kebaya dan Sanggul

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 22 April 2021. Esai ini karya Elly Jauharah Asriani, guru Matematika di MTsN 7 Klaten, Jawa Tengah.

Menunggu Musikus Jadi Kaya Raya

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 17 April 2021. Esai ini karya Tito Setyo Budi, doktor Kajian Musik, wartawan, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Kabupaten Sragen.

UUD 1945 dan the Living Constitution

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 13 April 2021. Esai ini karya Salma Abiyya, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Menyikapi Waktu Subuh Yang Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 12 April 2021. Esai ini karya Muh. Nursalim, Ketua Komisi Kajian Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Sragen.

Investasi Sosial Wakaf Uang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 9 April 2021. Esai ini karya Wawan Sugiyarto, analis Pusat Analisis dan Harmonisasi Kebijakan Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan dan peraih gelar akademis PhD di Queensland University of Technology, Brisbane, Australia.

Dihantui Masa Lalu

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 14 April 2021. Esai ini karya Rini Yustiningsih, jurnalis Solopos.

Teror dan Agama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 6 April 2021. Esai ini karya Arif Yudistira, tuan rumah Pondok Filsafat Solo.

Berolahraga di Atas Bus Berjajar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 5 April 2021. Esai ini karya Agus Kristiyanto, Guru Besar Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga Fakultas Keolahragaan Universitas Sebelas Maret.

Cerita dari Bontang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 7 April 2021. Esai ini karya Suwarmin, wartawan Solopos.

Mencegah Terorisme Lagi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 3 April 2021. Esai ini karya Soleh Amini Yahman, psikolog dan dosen di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Catur dan Uang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 1 April 2021. Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo.

Film sebagai Sumber Sejarah Alternatif

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 31 Maret 2021. Esai ini karya Anicetus Windarto, peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Realino Sanata Dharma Yogyakarta.

Harapan Kota Solo Bebas dari Sampah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 29 Maret 2021. Esai ini karya Mochamad Syamsiro, Direktur Center for Waste Management and Bioenergy dan dosen di Jurusan Teknik Mesin Universitas Janabadra Yogyakarta.

Lupakan Saja Swasembada Gula

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 24 Maret 2021. Esai ini karya Jojo, kandidat Doktor Ilmu Ekonomi Pertanian Institut Pertanian Bogor atau IPB University.

Tema dan Kontroversi Lama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 27 Maret 2021. Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi.

Sisi Lain Proyek Mercusuar Presiden Joko Widodo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 27 Maret 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Filantropi Ruwahan Era Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 25 Maret 2021. Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Fakultas Adab dan Bahasa Institut Agama Islam Negeri Surakarta.

Pekerjaan Rumah Mas Wali

Soloraya akan menjadi megapolitan baru. Apalagi bila Mas Wali dapat memimpin langkah sinergi dan kolaborasi dengan pemerintahan lainnya di kawasan Soloraya.

Youtube Lebih daripada Televisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 20 Maret 2021. Esai ini karya Imam Subkhan, pengelola studio dan pembuat konten yang tinggal di Karanganyar.

Aspek Pajak dalam Zakat ASN

Rencana pemerintah untuk memotong gaji Aparatur Sipil Negara (ASN) sebesar 2,5% untuk pungutan zakat kembali naik ke permukaan.

Prospek Cerah Budi Daya Porang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 16 Maret 2021. Esai ini karya Bara Yudhistira, dosen Ilmu Teknologi Pangan dan peneliti di Pusat Pengembangan Kewirausahaan Universita Sebelas Maret.

Irasionalitas Impor Beras

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 15 Maret 2021. Esai ini karya Haris Zaky Mubarak, peneliti sejarah dan Direktur Jaringan Studi Indonesia.

Rekayasa Sosial dan Ubah Laku

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 3 Maret 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Rumah Versus Sekolah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 19 Maret 2021. Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015), tertarik dengan tema-tema filsafat pendidikan, filsafat agama, dan ekonomi politik.

Pencurian Artefak Bersejarah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 18 Maret 2021. Esai ini karya Christianto Dedy Setyawan, guru Sejarah di SMA Regina Pacis Solo dan anggota staf Litbang Soeracarta Heritage Society.

Toleransi Bukan Sekadar Kata-Kata

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 17 Maret 2021. Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Solopos Institute dan Pemimpin Proyek Internalisasi Literasi Keberagaman Melalui Jurnalisme di SMA/SMK di Soloraya yang dikelola Solopos Institute.

Jebakan Wacana Tiga Periode

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 17 Maret 2021. Esai ini karya Ronny P. Sasmita, analis senior di Indonesia Strategic and Economic Action Institution.

Prospek Cerah Budi Daya Porang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 16 Maret 2021. Esai ini karya Bara Yudhistira, dosen Ilmu Teknologi Pangan dan peneliti di Pusat Pengembangan Kewirausahaan Universitas Sebelas Maret.

Irasionalitas Impor Sejuta Ton Beras

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 15 Maret 2021. Esai ini karya Haris Zaky Mubarak, peneliti sejarah dan Direktur Jaringan Studi Indonesia.

Penguatan Demokrasi di Daerah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 13 Maret 2021. Esai ini karya M. Dwi Sugiarto yang tertarik dengan tema-tema demokrasi dan pemilihan umum, pernah menjadi anggota Panitia Pengawas Kecamatan Teras pada pemilihan kepala daerah Kabupaten Boyolali 2020.

Pendidikan Nonformal yang Terlupakan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 9 Maret 2021. Esai ini karya Muhammad Ivan, Sarjana Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Jakarta dan analis kebijakan di Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Macet Itu Menyenangkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 12 Maret 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, jurnalis senior Bisnis Indonesia atau GrupJaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Prioritas Pembangunan Desa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 6 Maret 2021. Esai ini karya Mulyanto, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret dan Ketua Bidang Kajian dan Publikasi ISEI Solo.

”Ular Besi” Vorstenlanden

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 3 Maret 20201. Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan pelaju KRL dan Prameks Solo-Jogja.

UNS di Sepuluh Besar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 10 Maret 2021. Esai ini karya Tundjung W. Sutirto, dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret Solo.

AHY versus Moeldoko

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 8 Maret 2021. Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo.

Perpisahan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 10 Maret 2021. Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos.

Pengadaan Tanah untuk Tol Solo-Jogja

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 2 Maret 2021. Esai ini karya Himawan Pambudi, sosiologi perdesaan yang bekerja sebagai pekerja sosial di Yayasan Satunama dan warga yang tinggal di Kabupaten Klaten dan terdampak pembangunan tol Solo-Jogja.

Media Massa dan Media Sosial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 1 Maret 2021. Esai ini karya Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Green Wasathiyyah Campus

Green Wasathiyyah Campus adalah kepedulian terhadap sustainability/keberlanjutan, bagaimana manusia tidak hanya sekadar memikirkan cara bertahan hidup di masa sekarang tetapi juga berpikir untuk kehidupan jangka panjang.

Subsidi Agrobisnis Pangan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 22 Februari 2021. Esai ini karya Agus Wariyanto, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah.

Orang Kaya Baru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 23 Februari 2021. Esai ini karya Yohanes Bara, mahasiswa Magister Manajemen Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan pengelola Tobemore Learning Center di Cangkringan, Sleman, DIY.

Clubhouse dan Kesan Pertama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 26 Februari 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Menerka Pesta Demokrasi 2024

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 25 Februari 2021. Esai ini karya Nursahid Agung Wijaya, Kepala Subbagian Keuangan Umum dan Logistik Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Wonogiri.

Keruntuhan Imajinasi Publik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 27 Februari 2021. Esai ini karya Abdul Jalil, jurnalis Solopos dan mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret.

Buzzer, Politik, dan Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 20 Februari 2021. Esai ini karya Dwi Munthaha, peneliti di Bhuminara Institute dan mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta.

The Chinese Way

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 19 Februari 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Sinetron New Normal

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 25 Februari 2021. Esai ini karya Rini Yustiningsih, jurnalis Solopos.

Jurnalisme Mesin Pencari

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 8 Februari 2021. Esai ini karya Djoko Subinarto, bloger dan kolumnis.

Mengabaikan Kompetensi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 17 Februari 2021. Esai ini karya Edy Purwo Saputro, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Mengkritik sebagai Kultur

Gagasan ini dimuat Harian Solopos esisi Selasa, 16 Februari 2021. Esai ini karya Damar Tri Afrianto, dosen di Institut Seni dan Budaya Indonesia Sulawesi Selatan.

Larry King dan Komunikasi Efektif

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 15 Februari 2021. Esai ini karya Satrio Wahono, alumnus Magister Filsafat Universitas Indonesia dan dosen di Universitas Pancasila.

Alat Uji PCR Masih Jauh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 5 Februari 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, jurnalis Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Bonus Demografi di Tengah Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 30 Januari 2021. Esai ini karya Sri Hartanti Sulistyaningsih, Statistisi Ahli Muda Badan Pusat Statistik Kabupaten Boyolali.

Akeh Apike

Tentang berfikir positif, ketimbang larut pada racun pikiran negatif. Tentang menebar harapan, ketimbang menabur virus ketakutan, apalagi kecemasan.

Menertawakan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 3 Februari 2021. Esai ini karya Sholahuddin, aktif di Solopos Institute.

Cetak Biru Pemajuan Kesenian

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 6 Februari 2021. Esai ini karya B.R.M. Bambang Irawan, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret dan Ketua Dewan Kesenian Kota Solo periode 2017-2020.

Meneguhkan Komitmen Kebangsaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 1 Februari 2021. Esai ini karya Ajie Najmuddin, Ketua Lembaga Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama Kota Solo.

Politisasi Kesehatan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 20 Januari 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Transformasi Jangan Pergi Kala Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 29 Januari 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Kekuatan (Doa) Perempuan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 27 Januari 2021. Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, lahir di Kota Solo.

Dekonstruksi Makna Bencana

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 26 Januari 2021. Esai ini karya Anicetus Windarto, peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Realino Sanata Dharma Yogyakarta.

Rejuvenate

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 27 Januari 2021. Esai ini karya Ichwan Prasetyo, Jurnalis Solopos.

Apakah Anda Punya Waktu?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 25 Januari 2021. Esai ini karya Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Memberdayakan Batik Solo Trans

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 13 Januari 2021. Esai ini karya Djoko Setijowarno, dosen di Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Katolik Soegijapranata dan Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia.

Stadion Serbaguna Manahan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 12 Januari 2021. Esai ini karya Agus Kristiyanto, guru besar Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga di Fakultas Keolahragaan Universitas Sebelas Maret dan anggota tim ahli Sport Development Index.

Oposisi Simbolis Petani

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 9 Januari 2021. Esai inikarya Tri Rahayu, jurnalis Solopos.

PSBB Setelah Empat Kali Revisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 8 Januari 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, jurnalis senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Wilayah Bebas dari Korupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 5 Januari 2021. Esai ini karya Raden Hary Sutrasno, pengawas di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Klaten dan alumnus Magister Hukum Universitas Gadjah Mada.

Park Seo-joon dan Boga Indonesia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 6 Januari 2021. Esai ini karya Setyaningsing, esais dan penulis buku Kitab Cerita (2019) dan Kaum Novel (2020), penikmat es kacang merah.

Dilema Iklan Pemerintah Daerah di Media Massa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 4 Januari 2021. Esai ini karya Abdul Jalil, mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret.

Wajah Jurnalisme Masa Depan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 2 Januari 2021. Esai ini karya Diah Ayu Candraningrum, dosen Komunikasi Digital di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara, Jakarta, dan mahasiswa Program Doktor Studi Ilmu Komunikasi Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Jakarta.

Pembangkit Listrik Tenaga Sampah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 30 Desember 2020. Esai ini karya Mochamad Syamsiro, Direktur Center for Waste Management and Bioenergy dan dosen Jurusan Teknik Universitas Janabdara Yogyakarta.

Game Theory Perombakan Kabinet

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 29 Desember 2020. Esai ini karya Dwi Munthaha, peneliti di Bhuminara Institute dan mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta.

Herry Priyono dan Manusia Ekonomi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 28 Desember 2020. Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo.

Menanti Kinerja Wali Kota Rasa Presiden

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 22 Desember 2020. Esai ini karya Nurmadi H. Sumarta, mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan dan dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

Natal dan Regulasi Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 26 Desember 2020. Esai ini karya Aloys Budi Purnomo, Pastor Kepala Campus Ministry Unika Soegijopranoto Semarang.

Kampus Hijau untuk Siapa?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 19 Desember 2020. Esai ini karya Suryanto, dosen di Fakultas Ekonomi dan Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Sebelas Maret.

Sejarah Terapan dan Sejarawan Solutif

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 16 Desember 2020. Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret.

Ibu dalam Sejarah dan Tulisan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 23 Desember 2020. Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi.

Kapan Keluar dari Resesi Ekonomi?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 14 Desember 2020. Esai ini karya B.R.M. Bambang Irawan, mahasiswa Program Doktor Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

Korupsi Dua Menteri dan Kebangkitan KPK

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 12 Desember 2020. Esai ini karya Mohammad Jamin, dosen Sosiologi Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret.