Puncak Musim Hujan Awal 2019, Siklon Tropis Berpotensi Terulang
Hujan deras mengguyur Jl. Ir. Juanda, Pucangsawit, Jebres, Solo, Sabtu (10/11/2018) sore. (Solopos-Irawan Sapto Adhi)

Solopos.com, JOGJA -- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogja memprediksi puncak musim hujan akan terjadi pada awal 2019. Curah hujan saat itu diperkirakan mencapai 100 mililiter per hari.

Kepala BMKG Jogja Dwikorita Karnawati menyatakan cuaca ekstrem saat ini semakin sering terjadi. Dia mencontohkan adanya siklon tropis yang melanda beberapa daerah di Indonesia pada 2017, yakni Siklon Cempaka dan Dahlia dengan jeda waktu satu bulan.

Selain itu, BMKG mencatat aktivis kegempaan selama 20 tahun rata-rata terjadi 5.500 kali pertahun. "Khusus di tahun 2018 kami mencatat sudah terjadi sekitar 8.000 kali gempa," katanya usai penandatanganan kerja sama BMKG dan Pemkot Jogja, di Taman Pintar, Rabu (14/11/2018).

Menurut mantan Rektor UGM ini, kejadian siklon tropis di Indonesia sebenarnya sejak dulu termasuk langka. Namun sejak terjadi pada 2017, dimungkinkan potensi yang sama ke depan dapat terulang lagi.

"Kami punya SOP di mana setiap akan terjadi potensi cuaca esktrem, kami informasikan kepada masyarakat tiga jam sebelumnya. Ini dilakukan agar masyarakat bisa mengantisipasi potensi bencana. Makanya perlu ditekankan budaya untuk waspada cuaca,” terang Dwikorita.

Untuk membangun budaya waspada cuaca itu, BMKG memutakhirkan kerja sama dengan Pemkot terkait penempatan alat peraga meteorologi, klimatologi dan geofisika di Taman Pintar Jogja. Wahana itu menjadi edukasi pengunjung Taman Pintar, terutama anak-anak generasi Y dan Z yang akan melanjutkan kehidupan.

Sementara itu Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti berharap pemutakhiran alat peraga BMKG itu bisa menunjang jumlah kunjungan wisatawan ke Taman Pintar. Apalagi kini Taman Pintar rata-rata dikunjungi 1 juta pengunjung/tahun sehingga harus dikembangkan dan diperbarui.

"Bencana tidak bisa ditolak, sehingga budaya waspada cuaca ini yang perlu dibangun. Wahana ini bagian dari edukasi masyarakat terhadap kesiapasiagaan dan waspda perubahan iklim dan cuaca,” kata Haryadi.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom