Para tukang mengikuti pelatihan pembangunan rumah tahan gempa di Kantor Desa Kragilan, Kecamatan Gantiwarno, Klaten, Kamis (20/6/2019). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN -- Sebanyak 60 warga Desa Kragilan, Kecamatan Gantiwarno, Klaten, mendapat pelatihan pembangunan rumah tahan gempa di balai desa setempat selama dua hari, Rabu-Kamis (20-21/6/2019).

Mereka tak hanya mendapat teori tapi juga praktik langsung menyiapkan material bangunan dan membangun rumah. Mereka berbagi tugas, ada yang merangkai, mengaduk semen, dan lain-lain.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten selaku penyelenggara pelatihan menghadirkan narasumber salah satunya Prof. Sarwidi, guru besar Universitas Islam Indonesia (UII) yang dikenal sebagai pakar konstruksi bangunan tahan gempa untuk memberikan materi.

Pada hari kedua, para tukang praktik mendirikan bangunan tahan gempa. Praktik dilakukan dengan membangun struktur bangunan kamar mandi.

Sebagian peserta, salah satunya Sri Mulyono, sebenarnya sudah tidak asing dengan teori maupun praktik mendirikan bangunan tahan gempa. Berkaca pada gempa bumi 2006 lalu, banyak rumah warga Kragilan yang ambruk termasuk tempat ia tinggal.

Pascagempa, bantuan dari berbagai kalangan berdatangan termasuk bantuan pembangunan rumah dari program Rekompak-JRF. Sri Mulyono menjadi salah satu tukang yang mendirikan bangunan tahan gempa dari program tersebut.

Pelatihan yang digelar BPBD di Kantor Desa Kragilan tersebut menjadi media bagi dia menyegarkan pengetahuan mendirikan bangunan tahan gempa. Sri Mulyono mengungkapkan untuk mendirikan bangunan tahan gempa tak asal berdiri.

Ada ketentuan yang harus dipenuhi. Salah satu kunci mendirikan bangunan tahan gempa yakni kuatnya tulang bangunan. Besi yang digunakan berdiameter 12 milimeter. Sementara antartulang dihubungkan pengait berbahan besi ke masing-masing sisi sepanjang 20-40 sentimeter.

Hal senada disampaikan tukang bangunan lainnya, Hartita, 52. Pria yang juga tinggal di Desa Kragilan itu menjelaskan tujuan tambahan sambungan pengait itu agar tulang bangunan tak mudah terlepas ketika ada getaran.

Soal kedalaman fondasi, Hartita menuturkan tergantung ukuran dan bentuk bangunan serta kondisi tanah. Ia mencontohkan untuk hunian sederhana satu lantai, kedalaman fondasi minimal 60 sentimeter selama kondisi tanah stabil.

Sementara untuk jenis bangunan berlantai dua, kedalaman fondasi bisa mencapai 2,5 meter hingga 3 meter. Hartita mengatakan untuk mendirikan bangunan tahan gempa butuh biaya lebih besar dibanding mendirikan bangunan tanpa memperhatikan aspek keselamatan terhadap gempa bumi.

Ia mencontohkan untuk rumah ukuran 6 meter x 6 meter, butuh biaya hingga Rp75 juta hanya untuk mendirikan struktur bangunan. Sementara jika tak memperhatikan aspek keselamatan bahaya gempa bumi, biaya pendirian struktur bangunan hanya sekitar Rp50 juta.

Kabid Rehabilitasi dan Rekonstrukti BPBD Klaten, Ahmad Wahyudi, mengatakan ada tiga unsur mendirikan rumah tahan gempa yakni penguatan struktur, pengamanan dinding, dan atap yang lebih aman.

Penguatan struktur bisa dilakukan dengan memperkuat hubungan antar tulang kolom, sloof (struktur bangunan yang terletak di atas fondasi), dan fondasi. Antartulang kolom, sloof, dan fondasi dihubungkan dengan besi pengait.

Sementara pada tulang dinding dipasang angkur, besi pengikat dinding dengan struktur bangunan. “Dengan begitu ketika ada getaran, dindingnya tidak mudah ambruk. Yang paling berisiko menimbulkan dampak itu karena dinding roboh,” kata dia.

Soal atap, Ahmad menjelaskan semakin ringan semakin memperkecil dampak ketika gempa bumi terjadi. Ia mencontohkan seperti penggunaan baja ringan serta galvalum untuk atap.

“Namun, itu perlu dipikirkan soal potensi bencana lainnya seperti angin puting beliung kekuatannya seperti apa,” ungkapnya.

Ahmad menuturkan pelatihan mendirikan bangunan tahan gempa tersebut ditujukan ke tukang di Kecamatan Gantiwarno, Wedi, dan Bayat. Tiga kecamatan itu termasuk daerah rawan potensi gempa bumi.

“Dari pelatihan ini, harapan kami para tukang bisa mematuhi aturan soal pendirian bangunan yang memperhatikan aspek tahan gempa. Apalagi Klaten termasuk daerah rawan gempa bumi seperti yang terjadi pada 2006 lalu,” kata Ahmad.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten