Petani ikan mendaratkan ikan di Waduk Gajah Mungkur (WGM), Cakaran, Desa Sendang, Wonogiri, Selasa (19/11/2019). (Solopos/Cahyadi Kurniawan)

Solopos.com, WONOGIRI -- Puluhan ton ikan yang dipiara petani di keramba Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri mati akibat cuaca ekstrem akhir-akhir ini.

Harga jual ikan yang masih hidup pun anjlok hingga di bawah Rp20.000 per kilogram (kg). Normalnya harga ikan di keramba WGM mencapai Rp25.000 per kg.

Ketua Paguyuban Petani Ikan Nila Kencana, Sugiyanto, mengatakan puluhan petani ikan merugi akibat ikan mati pada Jumat-Minggu (15-17/11/2019) lalu. Kerugian yang dialami petani beragam mulai dari lima kuintal hingga empat ton.

Es Teh di Warung Dekat Puskesmas Purwodiningratan Jebres Solo Viral, Apa Istimewanya?

“Iya, benar. Ada puluhan ton ikan mati akibat cuaca ekstrem,” kata dia saat dihubungi Solopos.com, Selasa (19/11/2019).

Fenomena itu merupakan siklus tahunan yang terjadi saat pancaroba dari musim kemarau ke musim penghujan. Saat turun hujan pertama, suhu udara berubah dari panas menjadi dingin dengan cepat. Akibatnya, ikan-ikan mati.

“Secara teori, saat hujan, tidak ada ombak di perairan. Hal itu mengakibatkan perairan kekurangan oksigen. Ikan mati karena kekurangan oksigen,” terang dia.

Kejadian itu sebetulnya bisa diantisipasi dengan teknik penjarangan populasi hingga separuhnya. Jika dalam satu petak diisi 2.000 ikan dikurangi menjadi 1.000 ikan.

Kisah Penjual Soto Yang Mendadak Buta Setelah Berobat ke RS Mata Solo

Namun, pada musim ini, pasar ikan tengah lesu. Akibatnya petani kesulitan menjual ikan-ikan dewasa.

“Penjarangan yang mestinya dilakukan malah gagal karena ikan masih ada di petak. Harga ikan juga turun menjadi di bawah Rp20.000 per kg karena kejadian kemarin,” tutur Sugiyanto.

Kendati situasi berangsur normal, ia masih khawatir hujan yang jarang terjadi belakangan ini memicu terulangnya kejadian Jumat lalu. Cuaca kembali panas dan akan menjadi dingin saat hujan terjadi.

“Saya belum tahu apakah hujan nanti bikin ikan mati lagi atau tidak sebab hujan belum turun secara rutin,” beber dia.

Bosan Jadi Tertuduh, Warga Minta Viaduk Gilingan Solo Segera Direnovasi

Petani ikan lainnya, Sugianto, 42, asal Bendorejo, Sendang, mengatakan sejak dua bulan terakhir ia tidak menebarkan benih di keramba miliknya. Debit air waduk surut lebih parah dibanding tahun lalu.

Debit air yang kecil membikin ia khawatir ikan mati karena waduk dangkal. “Saat terjadi ombak, lumpur akan teraduk akibatnya amonia dalam lumpur terlepas. Ikan bisa mati karena kekurangan oksigen. Ikan juga lebih lama membesar karena dibikin lapar agar bisa bertahan dalam kondisi seperti itu,” kata dia saat ditemui Solopos.com di WGM, Selasa.

Kabar Duka: Artis Cecep Reza Si Bombom di Sinetron Bidadari Meninggal Dunia

Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (Dislapernak) Wonogiri, Sutardi, menyatakan kemarau panjang selama tujuh bulan membikin waduk surut lebih parah ketimbang sebelumnya. Hal itu mengakibatkan ikan waduk mati sebagai imbas pendangkalan.

Berdasarkan laporan yang ia terima ada satu ton ikan yang mati. “Sekarang sudah normal lagi. Perubahan cuaca dari siang ke malam ini berdampak terhadap ikan,” ujar dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten