Kategori: Nasional

Perhatikan Kantin, AC, hingga UKS agar Sekolah Tatap Muka Sukses


Solopos.com/Cahyadi Kurniawan

Solopos.com, JAKARTA—Pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah perlu menekankan pentingnya protokol kesehatan 3M, khususnya di kalangan civitas academica. Selain itu, penting pula memastikan kesiapan protokol kesehatan pada infrastruktur sekolah, seperti pengelolaan kantin, AC, hingga UKS.

Sukarelawan dari KawalCovid19, Ronald Bessie, menceritakan protokol kesehatan 3M pada individu membutuhkan peran guru sebagai teladan siswa. Guru harus memakai masker, misalnya, sebelum meminta murid disiplin memakai masker. Begitu pula dengan protokol kesehatan lain, seperti mencuci tangan pakai sabun, menjaga jarak, serta menghindari kerumunan.

Sedangkan protokol kesehatan terkait infrastruktur menekankan prinsip protokol ventilasi, durasi, dan jarak (VDJ). Di ruang kelas, contohnya, meja siswa harus harus berjarak jarak minimal dua meter. Siswa harus membuka jendela selama PTM berlangsung. Apabila memakai AC, atur AC pada suhu 25 derajat Celcius, bukan lebih rendah.

“Harus ada pengaturan tangga dan koridor masuk sekolah, flow-nya masuk dari mana, keluar lewat mana. Ada sukarelawan yang menjaga agar murid tidak berkerumun dan berinteraksi dengan anak kelas lain. Di tangga, bedakan jalur naik dan turun,” ujar dia dalam talkshow virtual yang REFO Indonesia, Selasa (20/4/2021).

Layanan Prapesan

Sebelum siswa masuk, sekolah harus melakukan skrining kepada para siswa, baik aturan maupun pemeriksaan fisik. Aturan itu misalnya murid yang demam tidak boleh belajar di sekolah. Di gerbang sekolah ada juga guru yang memastikan semua murid memakai masker, mengecek suhu tubuh, dan mencuci tangan sebelum masuk kelas.

Untuk memudahkan mencuci tangan, harus ada penambahan fasilitas ini di tempat-tempat yang terjangkau. Jumlah tersebut menyesuaikan jumlah siswa tanpa menimbulkan kerumunan. Durasi mencuci tangan biasanya 20 detik per orang. Fasilitas mencuci tangan idealnya tersambung langsung dengan sumber air. “Apabila tidak tersedia fasilitas mencuci tangan bisa pakai hand sanitizer di beberapa tempat. Duplikasi hand sanitizer lebih mudah, tapi butuh banyak biaya. Harga hand sanitizer 10 kali lipat daripada harga sabun cuci tangan,” imbuh Ronald.

Kemudian, kantin juga harus mempersiapkan protokol kesehatan ketat. Pelayanan di kantin bisa mengadopsi sistem prapesan guna menghindari kerumunan. Aktivitas makan yang berisiko tinggi terhadap penularan perlu diatur dengan larangan berbicara selama makan. Jika tidak memungkinkan menjaga jarak, beri pembatas di meja antarpengunjung yang makan.

Jam Istirahat

Sekolah juga perlu mengantur jam istirahat sesuai kelompok umur agar tidak terjadi kerumunan. Melalui sistem prapesan, makanan diberi nama dan disiapkan di meja. “Kalau tidak bisa [memastikan protokol kesehatan], lebih baik tidak ada [kantin]. Karena ini terkait keamanan,” sambung dia.

Protokol VDJ juga berlaku untuk ruang perpustakaan, tempat ibadah, dan ruang UKS. Ruang UKS seharusnya menyiapkan khusus fasilitas untuk isolasi sementara. Tujuannya memisahkan murid yang sakit akibat cedera atau lelah dengan murid yang bergejala Covid-19. Minta segera orang tua agar menjemput anaknya yang bergejala Covid-19 agar mendapatkan penanganan lebih lanjut.

“Pilih olahraga yang minim kontak tubuh, seperti bulutangkis, lompat tali, lari, senam, dan lainnya. Lalu, pelajaran kesenian hindari materi menyanyi dan memainkan alat musik tiup. Sebagai alternatif, pilih kesenian dengan menggambar, melukis, mewarnai, bermain perkusi dengan tidak bertukar kuas ataupun pensil warna,” tutur Ronald.

Satgas Covid Sekolah

Kebutuhan disinfeksi setelah pemakaian ruangan bisa menjadi pilihan lantaran berbiaya besar. Sebagai gantinya, bersihkan saja permukaan yang kerap disentuh dan pastikan siswa menjalankan protokol kesehatan 3M dan VDJ dengan ketat. “Anak-anak itu the great imitater. Kita harus walk the talk. Kita harus pakai masker dan memberi contoh kepada mereka. Supaya tidak riweh, kami menyarankan sistem sif, misal kelas I-I pukul 7.00 WIB-9.00 WIB. Berikutnya kelas lain,” pesan Ronald.

Epidemiolog dari FKM dan Keperawatan UGM, Bayu Satria Wiratama, mengatakan sekolah harus membentuk Satgas Covid-19 di sekolah. Hal ini penting lantaran tidak bisa semua menjadi tanggung jawab guru atau staf. Satgas inilah yang berfungsi memastikan murid dan guru melaksanakan protokol kesehatan. Satgas ini harus terdiri atas guru, karyawan sekolah, orang tua siswa, dan perwakilan murid sebagai peer, termasuk puskesmas dan perwakilan yayasan apabila ada. Pelibatan stakeholders yang banyak juga perlu karena sifatnya kompleks.

“Satgas ini sifatnya sukarela. Tujuannya anak-anak mereka bisa kembali bersekolah dengan nyaman. Maka butuh kerja sama orang tua dan guru,” ujar dia.

 

Share
Dipublikasikan oleh
Ayu Prawitasari