PSBB Setelah Empat Kali Revisi
Arif Budisusilo (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO — Puluhan juta orang di seantero jagat terinfeksi dan jutaan orang lainnya mati. Sudah begitu, banyak orang frustrasi karena impitan kesulitan ekonomi. Bahkan, wabah Covid-19 yang semakin menjadi-jadi membuat pusing Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Mbak Ani, begitu para koleganya biasa menyapa Menteri Keuangan dua presiden (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Joko Widodo) yang pernah menjabat Direktur Pelaksana Bank Dunia itu, tampak pontang-panting mengelola anggaran dan menangani aneka tantangan ekonomi.

Yang jelas, sepanjang tahun 2020,  profil defisit anggaran menganga lebar. Di satu sisi pemasukan pajak terbatas dan di pihak lain pengeluaran berbagai stimulus ekonomi membengkak. Data terakhir menjelaskan defisit anggaran sudah melampaui Rp900 triliun, sebuah rekor buruk yang belum pernah terjadi dalam sejarah ekonomi Indonesia.

Bukan cuma anggaran. Target pertumbuhan ekonomi pun berulang kali direvisi. Hingga Desember 2020 lalu Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sudah empat kali merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2020.

Tentu pada bulan pertama tahun 2021 ini belum ketahuan berapa realisasi pertumbuhan ekonomi tahun silam karena biasanya ada jeda statistik. Mungkin baru Februari 2021 angkanya ketahuan. Namun, yang pasti bukanlah angka yang menggembirakan.

Akibat krisis kesehatan berkepanjangan sebagai dampak dari pandemi Covid-19, aktivitas ekonomi memang menyusut drastis. Perekonomian terpuruk karena mobilitas manusia berkurang drastis. Pergerakan manusia dibatasi aturan protokol kesehatan maupun karena kesadaran pribadi untuk menghindari penularan virus.

Mobilitas manusia menjadi sangat berkurang akibat kebijakan lockdown, pembatasan sosial, dan penghentian atau larangan penerbangan dan lainnya. Berkurangnya mobilitas manusia itu berdampak ganda ke semua sektor aktivitas ekonomi lainnya.

Kelesuan ekonomi terjadi di mana-mana. Kondisi ini terjadi tidak hanya di Indonesia, tetapi juga dunia. Sekadar contoh, data statistik Badan Pusat Statistik (BPS) awal tahun ini merangkum penjelasan itu. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada November 2020–ini data yang paling akhir–anjlok drastis 86% jika dibandingkan dengan jumlah kunjungan pada November 2019 saat belum terjadi pandemi Covid-19.

Selama Januari–November 2020, jumlah kunjungan wisatawna mancanegara ke Indonesia hanya mencapai 3,89 juta orang atau turun 73,6% jika dibandingkan dengan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada periode yang sama tahun 2019 yang berjumlah 14,73 juta orang.

Jelas, dampaknya luas. Seluruh aktivitas ekonomi terkait turisme di Indonesia terguncang. Bali dan Jogja, yang perekonomiannya sangat mengandalkan sektor pariwisata, menjadi daerah yang paling menderita. Mulai dari perhotelan, transportasi, industri kreatif, industri makanan, hiburan hingga industri terkait dengan pariwisata lainnya terpuruk.

Melihat satu sektor aktivitas ekonomi itu saja sudah mengerikan, apalagi banyak sektor yang lain. Maka, tak mengherankan pada awal Desember 2020 lalu, Menteri Keuangan membuat proyeksi terbaru, bahwa kue ekonomi Indonesia tahun 2020 akan terkontraksi makin dalam, setelah pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda bakal segera bisa diatasi.

Proyeksi Desember 2020 itu merupakan revisi keempat sepanjang tahun 2020, yang menjelaskan bahwa kue ekonomi akan menyusut alias tumbuh negatif -2,2% hingga -1,7%, padahal saat pandemi Covid-19 baru mulai di Indonesia pada akhir Maret 2020, sebulan kemudian pemerintah memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi akan terkoreksi, tetapi masih dalam trayektori positif 0,4% hingga 2,3%.

Saat itu, banyak pihak masih menduga pandemi Covid-19 bisa cepat dikendalikan, bahkan diyakini puncaknya pada Juni 2020 dan Juli 2020 dan berakhir pada Setember 2020. Pada Juni 2020, saat wabah semakin menjadi-jadi, pemerintah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi 0,4% hingga 1%, alias tumbuh makin lambat.

Lalu memasuki Oktober 2020, saat Covid-19 justru semakin menunjukkan tanda-tanda menyebar intensif, pemerintah kembali merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi  pada -1,7% hingga -0,6%. Jelas bahwa pemerintah pun kesulitan mengelola kebijakan yang kemudian berdampak pada ekonomi akibat pandemi Covid-19 ini. Menteri Keuangan sempat berdalih,”Hampir semua negara dan institusi tidak bisa memproyeksi secara akurat.”

***

Sejak awal saya meyakini bahwa keberhasilan mengendalikan pandemi Covid-19 akan sangat menentukan kinerja ekonomi dalam jangka panjang. Maka dari itu, Bisnis Indonesia sejak awal menyerukan tindakan drastis  untuk memutus  mata rantai persebaran virus Corona yang menjadi pemicu Covid-19.

Bukan sekadar disiplin pada protokol kesehatan. Lebih dari itu, butuh kebijakan yang firm. Termasuk mengunci Jakarta agar tidak terjadi pergerakan “transportasi virus” keluar Jakarta. Biaya lockdown atau karantina wilayah Jakarta–waktu itu–tentu relatif jauh lebih murah ketimbang wabah menyebar ke seluruh negeri.

Apalagi, berlangsung berkepanjangan seperti terjadi saat ini. Bahkan, APBN 2020 pun defisit hingga Rp900 triliun lebih. Rekor defisit buruk yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah republik ini.

Kita lihat Vietnam, Malaysia, dan Thailand, tiga negara dengan penduduk relatif lebih sedikit daripada Indonesia, relatif berhasil mengendalikan pandemi Covid-19 karena langkah yang tegas sejak awal. Kalau diasumsikan Indonesia lebih kompleks karena jumlah penduduknya besar, rasanya ada pembandingnya, yang bisa jadi jauh lebih kompleks lagi, yakni Tiongkok.

Pembedanya adalah sistem pemerintahan yang otoriter, sebagaimana Vietnam, ternyata jauh lebih firm saat menghadapi situasi genting dan krisis. Tiongkok, kita boleh suka atau tidak, terbukti sangat berhasil mengendalikan pandemi Covid-19, bahkan hanya dalam tempo tiga bulan.

Maka, korelasinya jelas dengan perkembangan ekonomi. Lihat saja potret ekonomi Tiongkok, yang menutup total Kota Wuhan–kota yang dikenal sebagai tempat wabah kali pertama dilaporkan–sekitar tiga bulan. Negeri itu tak sampai mengalami pertumbuhan ekonomi negatif. Bahkan, wabah Covid-19 di Tiongkok hari-hari ini seolah-olah sudah hilang lenyap.

Tentu kita tidak boleh meratapi apa yang sudah terjadi. Terus bersikap optimistis akan jauh lebih bijak dan membantu. Maka, ketika memasuki tahun 2021 ini pemerintah memutuskan menerapkan pembatasan sosial berskala besar alias PSBB Jawa dan Bali, saya tidak terlalu heran.

Pada akhirnya, pandemi yang berkepanjangan justru tidak baik untuk ekonomi. Maka, harus ada sacrifice dalam jangka pendek, untuk menikmati gain ekonomi dalam jangka panjang. Lockdown di Kota Wuhan, Tiongkok, adalah contoh nyata dari bentuk pengorbanan ekonomi jangka pendek itu.

Setelah lockdown, gain pemulihan ekonomi pun didapatkan dengan relatif lebih cepat. Dalam konteks itulah, PSBB Jawa-Bali, apa pun istilah yang dipakai, yang akan diterapkan pada 11-25 Januari 2021 adalah pengorbanan jangka pendek itu. Seberapa firm kebijakan tersebut dilaksanakan di lapangan, ini isu lain lagi.

Bahwa terjadi pertentangan pendapat di kalangan pembantu presiden wajar saja. Begitu pula pertentangan pendapat dengan para pelaku bisnis terkait dengan kebijakan tersebut. Namun, yang jelas, hari ini, Indonesia terbukti sangat tertinggal dengan negara-negara di tetangga sebelah dalam pengendalian Covid-19.

Gambaran itu semestinya membuat semua pihak menyadari bahwa semakin lama wabah ini melanda akan kian terpuruk pula kinerja ekonomi. Maka, bagi saya sederhana saja. Entah ada hubungannya atau tidak, yang jelas kebijakan ini diambil setelah Presiden Joko Widodo merombak kabinet.

Bolehlah berharap, dengan perombakan kabinet baru-baru ini akan melahirkan mindset baru bahwa pemulihan ekonomi tidak bisa terjadi apabila penanganan pandemi Covid-19 berjalan setengah-setengah. Bagi saya, penanganan pandemi Covid-19 harus dengan kebijakan yang firm. Dan jadi prioritas.

Dengan itu, jika pengendalian pandemi berhasil, maka ekonomi akan jalan dengan sendirinya. Jadi, jangan dibalik; ekonomi dulu baru kita semua sehat. Apalagi, sudah terbukti dengan kesehatan dan ekonomi berjalan beriringan pun, ternyata tidak bisa seirama. Nah, bagaimana menurut Anda?



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom