Kategori: Sragen

PROYEK TOL SOKER : Ganti Rugi Dinilai Jauh di Bawah Harga Pasar Sragen


Solopos.com/Kurniawan/JIBI/Solopos

Solopos.com, SRAGEN--Proses pembebasan lahan di Desa Krikilan, Masaran, Sragen, untuk pembangunan jalan tol Solo-Kertosono (Soker) masih terkendala adanya warga yang menolak ganti rugi.

Informasi yang dihimpun solopos.com di Balai Desa Krikilan, Rabu (21/5/2014), masih ada tiga keluarga yang menolak ganti rugi yang ditawarkan. Mereka tinggal di satu bidang tanah di RT 002 Dusun Pandak.

Salah seorang warga yang menolak ganti rugi, Heri S. Priyono, saat ditemui solopos.com di kediamannya, mengatakan sikapnya dilatarbelakangi rendahnya nilai ganti rugi yang ditawarkan.

"Masa satu meter persegi tanah ditawar Rp400.000, satu meter bangunan Rp1,6 juta. Padahal harga pasar satu meter tanah Rp700.000 dan satu meter bangunan Rp2,4 juta," tutur dia.

Selain itu, Heri melanjutkan, ada rumah yang hanya terkena sebagian jalur tol. Namun belum ada kesepatan untuk mengganti rugi seluruh bagian rumah. "Masa rumah mau dibelah," tutur dia.

Persoalan rendahnya nilai ganti rugi proyek jalan tol juga disampaikan Sugiyem, 45, warga Pandak, Krikilan. Perempuan itu sudah menerima ganti rugi dan telah menempati rumah barunya.

Namun menurut dia nilai ganti rugi yang diterimanya sebesar Rp88.400.000 terhitung kecil. "Untuk membuat rumah saja tidak cukup. Saya masih harus tambah biaya batu bata," tutur dia.

Terpisah, Kepala Desa (Kades) Krikilan, Sunarwan, ditemui solopos.com di kantornya mengaku menerima sejumlah keluhan warga tentang rendahnya nilai ganti rugi pembebasan lahan jalan tol Soker.
Salah satunya dari tiga keluarga di Pandak yang saat ini masih bersikeras mempertahankan aset mereka. "Tiga keluarga ini masih satu keluarga dan tinggal di sebidang tanah," kata dia.

Sunarwan menjelaskan sebagian warga yang telah menerima uang ganti rugi telah membongkar bangunan dan pindah. Namun tidak sedikit warga yang hingga kini belum pindah.

Di sisi lain, menurut dia, alat berat proyek jalan tol mulai masuk Krikilan Selasa (20/5/2014) sore. Kedatangan dua buldoser, Sunarwan mengatakan, sempat membuat warga kaget dan cemas. Pasalnya seorang petugas proyek meminta warga segera pindah. "Katanya pada Jumat [23/5] ini warga sudah harus pindah. Hal ini kami sayangkan. Sebab Pemdes Krikilan tidak diberitahu," tutur dia.

Saat solopos.com dan Sunarwan mengecek lokasi lahan yang mulai diratakan alat berat di Pandak, dua buldoser sudah tidak ada. Tapi terdapat lahan yang sudah diratakan alat berat.

Share
Dipublikasikan oleh
Anik Sulistyawati