PROYEK PANAS BUMI KARANGANYAR : Geolog Pastikan Eksploitasi Geothermal Tak Rusak Lingkungan
Warga dan aktivis menggelar long march ke Cemoro Kandang, Tawangmangu, Karanganyar. untuk menolak rencana eksploitasi geothermal Gunung Lawu. (Kurniawan/JIBI/Solopos)

Proyek panas bumi Karanganyar untuk pembangkit listrik tak bakal merusak lingkungan.

Solopos.com, KARANGANYAR -- Geolog dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Yogyakarta, Danisworo, mengatakan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTPB) relatif tidak merusak lingkungan.

Pernyataan itu dia sampaikan saat dimintai tanggapan mengenai kekhawatiran warga Karanganyar terhadap rencana eksploitasi geothermal Gunung Lawu untuk PLTPB. "Kalau panas bumi sebetulnya relatif tidak merusak lingkungan. Panas bumi ditampung, dipakai untuk menggerakkan turbin. Jadi potensi kerusakan [alam] itu sangat kecil," tutur dia saat dihubungi Solopos.com via ponsel, Minggu (5/3/2017). (Baca juga: Karanganyar Galang 1.000 Tanda Tangan Tolak Eksploitasi Geothermal Gunung Lawu)

Danisworo menjelaskan hasil pengeboran menghasilkan uap air. Uap tersebut ditampung, diambil tenaganya, lalu mencair lagi. Setelah itu air dimasukkan lagi ke dalam sumber panas bumi. Dari proses itu ada tahap pembaruan.

"Mungkin masyarakat banyak yang belum paham masalah geothermal. Itu tidak akan merusak lingkungan, apalagi terjadi seperi lumpur Lapindo," ujar dia.

Disinggung ancaman terhadap terjadinya kebocoran panas bumi, Danisworo menilai relatif aman sebab lokasi pengeboran dilakukan di lapisan bebatuan yang sangat keras dan padat. Tapi dia tidak menampik potensi terjadinya kebocoran di instalasi di permukaan tanah akibat dari human error.

Bisa juga karena pipa di bagian atas pengontrol gasnya terlalu besar. Namun, dia menilai kemajuan teknologi bisa mengantisipasi hal itu. Danisworo juga mengatakan teknologi saat ini sudah bisa membuat jaringan pipa berkarakter fleksibel.

Konstruksi pipa seperti itu relatif tahan terhadap goncangan akibat gempa. Konstruksi itu bisa rusak hanya bila terjadi sesar atau patahan di suatu lapisan bebatuan.

"Itu [sesar] baru bisa memengaruhi. Tapi kalau hanya goncangan gempa biasa saya kira pipa itu sudah didesain sedemikian rupa. Selama tidak terjadi sesar atau dislokasi, saya kira aman," kata dia.

Menurut dia, terjadinya sesar bisa memicu bahaya. "Tapi saya kira geolognya sudah memperhitungkan kondisi daerah itu. Bila tektoniknya aktif, mungkin bisa terjadi geseran," tambah dia.

Setahu Danisworo potensi gempa di Gunung Lawu lebih dipengaruhi tingkat keaktifan gunung itu sendiri. "Saya kira tidak ada patahan-patahan yang bisa memicu terjadi sesar," tutur dia.

Danisworo mendasarkan pendapatnya pada usia Gunung Lawu yang kurang dari 2,58 juta tahun. Di gunung yang usianya belum mencapai 2,58 juta tahun, tidak ada gejala terjadinya sesar atau patahan.

Danisworo menerangkan proyek PLTPB tidak membutuhkan lahan luas untuk konstruksi bangunannya sehingga keberadaan bangunan tidak sampai merusak kawasan hutan. "Biasanya bangunan di atas tanah hanya beberapa untuk menggerakkan turbin. Tapi tidak sampai harus menggunduli hutan atau butuh lahan yang luas," sambung dia.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho