TP4D Kejari Wonogiri meninjau proyek JLK di kawasan kota, Kamis (3/10/2019). (Istimewa/Kejari Wonogiri)

Solopos.com, WONOGIRI -- Proyek jalan lingkar kota (JLK) segmen I dan II berubah dari rencana karena menyesuaikan kondisi lapangan. Perubahan itu berpotensi meningkatkan biaya.

Hal itu terungkap saat Tim Pengawal Pengamanan Pemerintah dan Pembangunan Daerah (TP4D) Kejaksaan Negeri (Kejari) Wonogiri meninjau proyek JLK di kawasan kota, Kamis (3/10/2019) siang.

Peninjauan dipimpin Kepala Kejari (Kajari), Agus Irawan Yustisianto. Dia bersama Ketua TP4D, Amir Akbar Nurul Qomar dan anggotanya, pejabat Dinas Pekerjaan Umum (DPU), kontraktor, dan konsultan menelusuri lokasi menggunakan sepeda motor trail.

Hal itu karena medan tak bisa dilalui mobil. Kajari saat ditemui Solopos.com di kantornya, Jumat (4/10/2019), menyampaikan TP4D harus terus mengawasi proyek JLK meski medannya penuh tantangan.

Baca juga: Perhatikan! Ada Perubahan Pengaturan Lalu Lintas di Kretek Bang dan Jembatan Pokoh Wonogiri

Langkah itu untuk memastikan proyek tepat kualitas, volume, dan waktu. Dia mengaku baru kali pertama meninjau lokasi yang karakteristik lokasinya penuh bebatuan dan terjal menggunakan sepeda motor trail.

Ketua TP4D yang juga Kasi Intelijen Kejari, Amir, menjelaskan ada beberapa perubahan pekerjaan, seperti harus memapras tanah bukit yang lebih banyak dari pada perencanaan dan memindahkan pekerjaan pembangunan tembok tebing atau talut.

Kontraktor harus memapras tanah bukit lebih banyak agar tanjakan/turunan jalan tidak curam. Jika sesuai rencana sebelumnya, pemaprasan hanya di bagian puncak bukit.

Padahal, bukit yang harus dipapras tinggi. Menurut Amir, perubahan itu tak masalah selama mengedepankan asas kemanfaatan.

Perubahan tersebut bukan tanpa konsekuensi. Biaya proyek berpotensi meningkat lantaran volume pekerjaan bertambah. Terlebih, bukit yang dipapras ada beberapa.

Baca juga: Proyek Jalan Lingkar Kota Wonogiri Terancam Mandek Lagi

Perubahan lainnya terkait pembangunan talut bukit. Rencana awal, ada talut yang dibangun di lokasi yang potensi longsornya kecil.

Setelah proyek realisasi, tebing yang potensi longsornya tinggi justru tak dibangun. Oleh karena itu, TP4D meminta pekerjaan pembangunan talut yang semula di lokasi yang potensi longsornya rendah dipindah ke lokasi yang potensi longsornya tinggi.

“Saat kami memeriksa pekerjaan di segmen I, progres proyek mencapai 22,2 persen sedangkan targetnya Rp21,85 persen. Artinya, progres positif karena bisa melampaui target. Kalau di segmen II progresnya 38,55 persen atau ada defiasi positif 0,7 persen dari target,” ulas Amir.

Segmen I panjangnya lebih kurang 2 km senilai mencapai Rp24 miliar. Sementara segmen II 1,75 km dengan anggaran Rp17,162 miliar. Proyek JLK 2019 terdiri atas tiga segmen dengan total panjang 5,2 km.

Lelang paket pekerjaan segmen III belum lama ini rampung. Anggaran proyek itu mencapai Rp14 miliar.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten