PROGRAM KB : Capaian Jumlah Akseptor KB di Solo 2013 Tak Penuhi Target
Ilustrasi Keluarga Berencana

Solopos.com, SOLO—Capaian jumlah akseptor program keluarga berencana (KB) selama Januari-November 2013 di lima kecamatan di Kota Bengawan tak memenuhi target yang ditentukan pemerintah kota (pemkot). Capaian jumlah akseptor tersebut menjadi strategi pemkot untuk menekan pertumbuhan penduduk yang berimplikasi terhadap kemiskinan.

Jumlah akseptor yang terealisasi di Solo sebanyak 9.884 orang. Padahal, target yang dipasang pemkot sebanyak 10.960 orang atau baru terealisasi 90.18%. Angka-angka tersebut mencuat dalam evaluasi pencapaian program KB 2013 di Bale Tawangarum, Balai Kota Solo, Selasa (31/12/2013).

Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan, Pemberdayaan Anak, dan KB (Bapermas PP PA dan KB) Solo, Anung Indro Susanto, menyampaikan paparan hasil evaluasi pelaksanaan program KB di hadapan puluhan kader penyuluh KB. Pertumbuhan penduduk yang cepat tapi tidak diikuti dengan peningkatan partisipasi program KB akan berdampak pada munculnya kemiskinan baru.

“Awal dari kemiskinan itu karena program KB tak berjalan baik. Salah satu faktor yang menyebabkan keluarga miskin karena pendapatan rendah. Keluarga itu tidak bisa membiayai kebutuhan dasar. Apalagi, ada penyakit orang miskin yang aneh-aneh, seperti perokok berat, minum minuman keras dan judi,” jelas Anung.

Anung menguraikan belakangan pertumbuhan penduduk berjalan relatif cepat di Solo. Sementara, kondisi wilayah Solo, imbuhnya, tidak bisa mekar. Permukiman paling padat terjadi di wilayah Serengan dan Pasar Kliwon. Untuk menekan laju pertumbuhan penduduk itu, menurut Anung, kuncinya terletak pada kader penyuluh KB. “Kader KB ini yang menyiapkan generasi muda yang sehat dan sejahtera di masa depan. Jadi kader KB tidak perlu malu, justru itu tugas mulia,” imbuhnya.

Anung menyampaikan tentang empat hal yang bisa dilakukan kader penyuluh KB untuk menekan pertumbuhan penduduk, yakni dengan pengendalian perkawinan, pengendalian angka kelahiran, pendidikan anak usia dini, dan pencegahan remaja menggunakan alat reproduksi secara sembarangan. Dari evaluasi di setiap kecamatan menunjukkan kecenderungan capaian akseptor KB tidak memenuhi target yang ditentukan, kecuali di Jebres.

“Saya memberi apresiasi secara spontanitas kepada kader penyuluh KB yang menjadi juara I dalam capaian akseptor KB terbanyak, yaitu Jebres. Capaian akseptornya paling tinggi, bahkan melebihi target, yakni 178,98%. Saya beri uang Rp1 juta untuk Jebres, silakan nanti beli satai sepulang dari aula ini,” pungkas Anung.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom