Titin Sudarti Awet Muda Karena Siswa

Titin Sudarti, guru bimbingan dan konseling (BK) dan pendamping anak berkebutuhan khusus (ABK) di SMP Negeri 22 Solo. - solopos.com/Agnes Yustin Roswita
18 Maret 2019 13:35 WIB Agnes Yustin Roswita Profil Share :

Solopos.com, SOLOMenjadi guru bimbingan dan konseling (BK) sekaligus pendamping anak berkebutuhan khusus (ABK) di SMP Negeri 22, Solo, merupakan hal yang menyenangkan. Begitu kesan yang diungkapkan Titin Sudarti. Wanita kelahiran Boyolali, 11 Juli 1981, mengemban tugas sebagai guru BK dan pendamping siswa berkebutuhan khusus selama lima tahun di sekolah inklusi tersebut.

“Menjadi guru pendamping siswa berkebutuhan khusus sangat menyenangkan. Malah justru memotivasi saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Mereka itu lucu-lucu, jadi saya enggak pernah sedih kalau membimbing mereka. Seru malahan,” kata Titin Sudarti saat ditemui solopos.com di kantornya, belum lama ini. Dia bercerita tentang pengalamannya. Saat itu ia tengah capai seusai menangani perkelahian yang melibatkan siswa reguler. Ketika sedang duduk beristirahat, tiba-tiba salah satu siswa berkebutuhan khusus menyapanya. “Bu Titin, jangan marah-marah. Nanti enggak cantik lagi,” kata Titin menirukan perkataan salah satu siswa berkebutuhan khusus, Fajar, kepadanya.

Ia mengatakan menjadi guru pendamping siswa berkebutuhan khusus akan membuatnya awet muda. Hampir setiap hari ia selalu menemukan hal-hal lucu saat mendampingi mereka. “Tapi siswa berkebutuhan khusus kalau sedang emosi atau marah, susah dikendalikan. Karena mereka kalau emosi tidak stabil,” kata dia. “Kalau siswa berkebutuhan khusus sudah mulai emosi, saya pegangi anak itu dan saya minta menatap mata saya. Saya sering bilang begini ‘lihat mata Bu Titin! Tidak boleh marah-marah. Sabar!’ Biasanya habis itu langsung reda emosinya dan pelan-pelan membaik,” kata Titin.

Wanita yang menyelesaikan studi ilmu psikologi di Universitas Muhammadiyah Surakarta tersebut mengaku ilmu yang dipelajarinya sangat berguna di pekerjaannya sekarang. “Kalau mereka melakukan kesalahan, saya peringatkan secara bertahap. Awal-awal mereka saya ingatkan dengan volume suara yang rendah. Kalau mereka mengulanginya, saya ingatkan lagi dengan volume suara yang agak tinggi. Kadang saya agak keras dengan mereka, supaya mereka harus mengerti mana yang benar dan mana yang salah,” jelas Titin.