Mawan Tri Hananto Manfaatkan Digital Marketing untuk Batik

Mawan Tri Hananto
05 Februari 2019 16:45 WIB Cahyadi Kurniawan Profil Share :

Bisnis batik lazimnya menjadi bisnis dengan modal berlipat. Selain ongkos produksi tinggi, pengrajin harus menyiapkan sejumlah stok sebelum melepas ke pasar. Kebutuhan modal berlipat ini umumnya dipenuhi melalui mekanisme kredit.

Hal itulah yang membuat Mawan Tri Hananto, 38, tertantang mengubah metode penjualan batik konvensional itu. Ia membuat terobosan dengan menyajikan mock up atau replika batik yang ditawarkan secara digital kepada calon pelanggannya. Setelah desain disepakati, order batik pun dimulai. Dengan cara inilah bisnis Sidobatik milik Mawan menerapkan strategi digital marketing.

“Saya enggak punya modal untuk bikin batik, maka saya wajibkan DP [down payment-uang muka] setengahnya. Uang itu bisa buat beli kain, cat, membayar pembatik, dan lainnya. Setelah pesanan jadi, pemesan diminta melunasi baru kemudian barang dikirim kepada pemesan,” kata Mawan saat ditemui Solopos.com di workshop Sidobatik di Lingkungan Bulurejo, Kelurahan Mlokomanis Kulon, Ngadirojo, Wonogiri, belum lama ini.

Melalui mock up itu pula Sidobatik sempat melakukan ekspor batik ke Amerika Serikat sebanyak tiga kali. Kemudian, belum lama ini, dua warga Kanada menyambangi workshop-nya ingin melihat produksi batik Sidobatik secara langsung. Warga Kanada itu lalu memesan delapan motif Sidobatik masing-masing panjangnya sekitar 13,7 meter tanpa putus.

Dengan sistem DP, Mawan bisa membangun bisnis tanpa melakukan kredit kepada bank. Usaha batiknya sendiri dibangun dengan modal Rp25 juta dari hasil tabungannya Rp15 juta dan pinjam orang tuanya Rp10 juta. “Saya enggak perlu membikin stok karena ada mock up. Batik yang dulunya dikenal dengan bisnis modal berlipat, sekarang bisa lebih murah. Ternyata bisa kok bikin usaha tanpa utang,” terang pria kelahiran Wonogiri, 5 Mei 1981 ini

Melalui usaha batiknya juga kini ada puluhan perempuan menggantungkan hidupnya dari membatik. Selain mahir memainkan canting ke kain, para ibu ini bekerja memberikan aneka warna yang menjadi ciri khas Sidobatik dengan teknik colet. Pengrajinnya tersebar di sejumlah kecamatan di Wonogiri.