Profil Lo Kheng Hong, Investor Saham Berjuluk Warrent Buffet Asal Indonesia

Lo Kheng Hong yang dikenal dengan sebutan Waren Buffet asal Indonesia ini merupakan Investor kawakan yang mempunyai banyak keahlian di bidang investasi saham.

 Lo Kheng Hong (Bisnis)

SOLOPOS.COM - Lo Kheng Hong (Bisnis)

Solopos.com, JAKARTA — Para pebisnis saham mungkin tak asing dengan Lo Kheng Hong. Pria yang dikenal dengan sebutan Waren Buffet asal Indonesia ini merupakan Investor kawakan yang mempunyai banyak keahlian di bidang investasi saham.

Pak Lo, sapaan akrab Lo Kheng Hong, terkenal lantaran andal melihat peluang yang ada di pasar saham indonesia. Namun, siapa sangka investor sukses sekelas Lo Kheng Hong ternyata pernah mengalami titik terendah atau masa-masa tersulit dalam hidupnya.

Hal itu diungkapkan Lo Kheng Hong dalam ketika diwawancarai oleh dosen Universitas Prasetia Mulya sekaligus Founder Hungry Stocks Academy Lukas Setia Atmaja.

Baca Juga: Sukses Budidaya Cacing, Diwa Foundation Dapat Bantuan dari Pegadaian

Dalam video singkat berdurasi 4 menit 25 detik tersebut, Lukas Setia Atmaja menanyakan apakah Lo Kheng Hong pernah berada di titik terendah ketika menjadi investor saham?

“Tentu ada, yang paling buruk itu ketika saya membeli saham BUMI dalam jumlah besar. Saya membeli saham BUMI dalam jumlah besar, dan nilai sahamnya turun ke Rp50 rupiah,” ujar Lo Kheng Hong seperti diunggah akun Instagram Lukas Setia Atmaja (@Lukas_setiaatmaja) beberapa waktu lalu.

Lo Kheng Hong melanjutnya dirinya beruntung karena memiliki kekuatan untuk tidak menjual saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI).

Baca Juga: Indonesia Jadi yang Pertama di Asia Tenggara yang Punya Pabrik Baterai Mobil Listrik

Bahkan, dia mengaku malah membeli lebih banyak saham milik grup Bakrie tersebut. Dalam sesi wawancara tersebut, LKH juga memaparkan ketika dalam masa sulitnya tak pernah merasa bahwa dirinya akan miskin.

Lo Kheng Hong tak menampik dia kehilangan uang sangat banyak kala itu. Namun, dia mengaku beruntung bisa berpikir positif meski berada di titik terendah dalam hidupnya.

“Saya tidak fokus kepada berapa banyak harta saya yang hilang, tetapi saya fokus pada berapa banyak harta saya yang masih ada sisa. Meskipun BUMI Rp50, harta saya masih banyak. Masih lebih kaya dari kebanyakan orang sehingga saya gak stres,” ungkapnya seperti dilansir Bisnis.

Baca Juga: Jadi Tuan Rumah, Pemerintah Siap Ambil Manfaat KTT G20 Pada 2022

Tidak Bermalas-Malasan

Ketika berada di titik terendah, Lo Kheng Hong justru mendapatkan ilmu yang terhebat. Waktu berada di titik terendah, lanjutnya, ilmu sahamnya justru bertambah, bertambah hebat. “Saya menjadi membeli saham secara berhati-hati dan berfikir lebih lama,” ujar Lo Kheng Hong dalam sesi tersebut.

Lo Kheng Hong yang lahir 20 Februari 1959 adalah seorang investor value Indonesia jenis individu. Lo Keng Hong terlahir sebagai anak sulung dari 3 bersaudara di keluarga yang sederhana. Ayahnya berasal dari Pontianak yang merantau ke Jakarta. Lo Kheng Hong semasa kecil merasakan kehidupan yang susah. Rumahnya di Jakarta sempit, hanya berukuran 4 x 10 meter. Pada 1989, Lo Kheng Hong memulai sepak terjangnya di dunia saham. Saat itu, ia berusia 30 tahun.

Inilah perbedaannya dengan Warren Buffet. Warren Buffet memulai terjun di dunia saham pada saat ia berusia 11 tahun. Setelah setahun memenggeluti dunia saham, ia kemudian pindah bekerja di Bank Ekonomi. Di sana, ia bekerja di bagian pemasaran. Setahun berselang, ia mendapat promosi mejadi kepala cabang di tempat ia bekerja.

Baca Juga: Awas Jangan Sampai Tertipu, Kenali Jenis-Jenis Arisan

Lo Kheng Hong merupakan orang yang pekerja keras. Terbukti dengan riwayatnya dalam bekerja. Dalam setahun saja, ia sudah bisa menjadi seorang kepala cabang di Bank Ekonomi. Namun setelah ia bekerja selama 17 tahun, ia memilih untuk berhenti bekerja di bank dan fokus untuk menjadi seorang investor saham.

Terhitung hingga tahun 2012, Lo Kheng Hong sudah mengelola sekitar 30 jenis saham. Ia mengalokasikan hampir seluruh asetnya untuk investasi. Pada tahun tersebut ia memiliki aset berupa saham bernilai Rp2,5 triliun.

Dalam bayangan kebanyakan orang, pasti bekerja di bidang investasi saham identik dengan bermalas-malasan di rumah dan tinggal menunggu hasil investasi. Namun tidak bagi Lo Kheng Hong.

Seperti dikutip dari simulasikredit.com, dia memanfaatkan waktu luangnya untuk melakukan hal yang bermanfaat yaitu membaca, berpikir, dan berinvestasi. Tiga kegiatan tersebut biasa disebut dengan RTI (reading, thinking, investing). Lo Kheng Hong juga rutin melakukan perjalanan ke luar negeri. Dalam setahun, setidaknya Lo Kheng Hong melakukan perjalanan ke luar negeri sebanyak 2 kali. Dia pun kini telah menikmati kebebasan finansial yang diidamkan banyak orang.

Berita Terkait

Espos Premium

Samudra Biru Penjara

Samudra Biru Penjara

Keahlian kunci merehabilitasi narapidana ternyata berada di luar ranah kementerian yang bertanggung jawab atas eksistensi dan pengelolaan penjara.

Berita Terkini

Kompak Turun! Berikut Harga Emas Pegadaian Jumat, 17 September 2021

Jelang akhir pekan, harga emas batangan 24 karat di Pegadaian pada hari ini, Jumat (17/9/2021) untuk cetakan UBS dan Antam serentak turun dibandingkan dengan harga kemarin.

Catat, Penonton Bioskop Harus Sudah Vaksin Lengkap

Sejumlah bioskop di Soloraya kembali beroperasi pada Kamis (16/9/2021). Meskipun demikian, pengunjung mesti mematuhi aturan agar bisa nonton film di layar lebar.

Tumbuh Signifikan, Transaksi Saham di Soloraya Tembus Rp3,369 Triliun

Jumlah investor dan nilai transaksi di pasar saham Soloraya melejit signifikan pada 2021. Bahkan, nilai transaksi saham ini tembus Rp3,369 triliun pada Agustus 2021.

Susul Solo dan Jakarta, Pengguna Indosat Ooredoo di Surabaya Bisa Nikmati 5G

Indosat Ooredoo bermitra dengan Nokia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Oulu Finlandia, meluncurkan Nokia 5G Experience Center

 Indosat (ISAT) dan Tri Bergabung Dirikan Indosat Ooredoo Hutchison

Merger ISAT dan Tri disepakati oleh masing-masing induk usaha melalui penandatanganan transaksi definitif untunk penggabungan bisnis telekomunikasi di Indonesia dengan nama Indosat Ooredo Hutchison.

Tempati Kantor Baru di Solo, BPRS CSU Berkomitmen Bantu UMKM

Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) BRS Central Syariah Utama (CSU) resmi menempati kantor barunya di Jalan Rajiman No 439 Laweyan, Solo, pada Rabu (14/9/2021).

BP Jamsostek Gelar Vaksinasi Sasar Ojol di Terminal Tirtonadi

BP Jamsostek menyelenggarakan program vaksinasi Covid-19 untuk pengemudi ojek online dan masyarakat umum di Convention Hall Terminal Tirtonadi,

Mau Menangkan Persaingan Pasar, Harus Punya 5 Jurus

Event roadshow marketing Indonesia Marketeers Festival, kembali lagi untuk ke sembilan kalinya.

Kurangi Limbah Makanan, Nava Hotel Prakarsai Gerakan Anti Food Waste

Nava Hotel turut serta mendukung upaya pemerintah dalam program GRASP 2030 atau Gotong Royong Atasi Susut dan Limbah Pangan 2030 melalui kampanye Anti Food Waste.

Tarif Gratis Selama Uji Coba Selesai, Segini Tarif Normal KA Bandara YIA

KAI memberlakukan tarif Rp0 selama masa sosialisasi layanan Kereta Api (KA) Bandara Yogyakarta International Airport (YIA).

Klaim BPJS Ketenagakerjaan Diprediksi Membengkak hingga Rp40,6 Triliun

Ketenagakerjaan atau BP Jamsostek memproyeksikan klaim jaminan sampai dengan akhir tahun ini akan membengkak dari perkiraan awal.

Dukung PON XX Papua, PLN Gelontorkan Rp313 Miliar

PT PLN (Persero) mengucurkan dana Rp313 miliar untuk mendukung penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua.

Rencana Diproduksi pada 2022, Harga Vaksin Merah Putih Dipatok Rp71.000 Saja

PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia menyampaikan Vaksin Merah Putih yang diproduksi perusahaan rencananya dijual di bawah US$5 atau Rp 71.000.

Sukses Berbisnis Ikan Cupang, Siswa SMP Ini Bisa Ekspor ke Singapura dan Malaysia

Pandemi Covid-19 bukan halangan bagi mereka yang terus bergerak dan mencari peluang-peluang bisnis, salah satunya Elang Kamil, pemilik Elbetta Cupang.

Kompak Naik! Cek Harga Emas Pegadaian Kamis 16 September 2021

Harga emas batangan 24 karat yang dijual di Pegadaian pada Kamis (16/9/2021) meningkat untuk cetakan UBS dan Antam.