Ilustrasi jamu gendong. (Solopos-dok)

Solopos.com, WONOGIRI – Kisah Sumiyem si pedagang jamu gendong di Wonogiri menunjukkan eksistensi minuman tradisional tersebut. Sayangnya, Sumiyem memilih berhenti berjualan jamu lantaran adanya larangan berjualan di rumah sakit dan kantor pemerintah sekitar empat tahun lalu.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Solopos.com, keberadaan produsen jamu di Wonogiri tersebar di 22 kecamatan dengan jumlah terbesar di Kecamatan Kismantoro sebanyak 124 penjual jamu gendong. Secara menyeluruh, produsen di bidang jamu berjumlah 515 usaha, terdiri atas 110 usaha jamu, 374 jamu gendong, 7 jamu instan, dan 2 jamu seduh serta 22 jamu tradisional.

Kepala Dinas KUKM dan Perindag Wonogiri, Wahyu Widayati, mengatakan pemerintah belum memiliki program secara khusus untuk pengembangan Jamu Wonogiri. Tetapi, secara makro, Dinas KUKM dan Perindag terus mendorong agar UMKM, yang di dalamnya termasuk usaha jamu, bisa naik kelas.

Mereka terus berbenah agar produk mereka mampu bersaing di pasaran melalui peningkatan kualitas produk, pengurusan izin, kemasan, hingga pemasaran produk.

“Ada inovasi secara mandiri di sana. Kami juga mendorong agar produk UMKM bisa masuk ke toko swalayan atau diikutkan ke dalam pameran-pameran,” beber Wahyu Widayati, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Senin (6/1/2020).

Menurut Wahyu Widayati, jamu tidak bisa disajikan secara tunggal karena kurang menarik untuk pembeli. Jamu biasanya masuk ke dalam pameran atau promosi bersama produk UMKM lainnya. Ia juga mendorong agar UMKM berinovasi terhadap produk jamunya misalnya dengan membikin jamu instan sehingga lebih praktis dan tahan lama.

“Jamu gendong biasanya disajikan pas seremoni pembukaan acara. Jika ada tiga hari acara, hari pertama akan disajikan jamu gendong.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten