Petani di Trayu, Banyudono, memanen tembakau, meski harga jual anjlok. Foto diambil Rabu (14/10/2015). (Muhammad Ismail/JIBI/Solopos)

Solopos.com, EROMOKO — Produksi tembakau kering di Kecamatan Eromoko Kabupaten Wonogiri pada 2019 ini mencapai 1.723 ton atau setara Rp45 miliar. Perolehan itu lebih tinggi ketimbang panen tahun lalu mencapai 1.422 ton atau setara Rp38,5 miliar.

Meski tergolong tinggi, capaian produksi tembakau tahun ini masih terkendala soal ketersediaan air. Pada 2019 sendiri, luas lahan yang ditanami tembakau mencapai 1.222 hektare atau lebih tinggi ketimbang 2018 yakni 898 hektare. Peningkatan capaian itu dipicu oleh banyaknya petani yang turut menanam tembakau.

“Karena kurangnya air ini, produksi tembakau di Baleharjo turun dari tahun lalu Rp12 miliar menjadi sekarang Rp9 miliar,” kata Ketua Kelompok Tani Baleharjo, Miswanti, saat dihubungi Solopos.com, akhir pekan kemarin.

Namun di sisi lain, cuaca panas ini bagus untuk pengeringan. Meski, kadang cuaca terlalu panas juga mengakibatkan tembakau terlalu kering. Di tanah, kelembaban udara hilang mengakibatkan penurunan kualitas tembakau. Pancaran matahari yang terlalu panas memicu hilangnya nikotin, penurunan berat, dan penurunan kualitas.

Menurut Miswanti, di Eromoko pernah mengalami cuaca bagus untuk menanam tembakau pada 2017. Saat itu, hujan dan cuaca panas bergantian selang-selang dan saat panen tiba cuaca cenderung terus panas. Tahun ini, hujan terakhir di Wonogiri terjadi pada April 2019 lalu.

“Jadi tidak bisa menanam. Saya sendiri setengah hektare tidak bisa ditanami. Hasilnya juga turun dari 5 ton menjadi 3,5 ton tembakau kering,” terang petani yang menanam tembakau sejak 2010 ini.

Petani tembakau di Eromoko pada umumnya adalah petani dengan sistem kemitraan. Seluruh hasil tembakau akan dibeli oleh mitra asalkan memenuhi standar yang disyaratkan. Hal ini dinilai lebih mennguntungkan petani. Tembakau hasil panen rata-rata dibeli Rp30.000-Rp35.000 per kilogram.

“Lain cerita kalau tembakau dibeli pengepul. Ada kejadian di daerah lain, tembakau belum dibayar malah dikembalikan karena ada kenaikan cukai. Dalam kemitraan enggak ada model seperti itu,” urai Miswanti.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten