Driver mitra Go-Jek berdemo di depan kantor perwakilan Go-Jek Indonesia di Solo Baru, Sukoharjo, Rabu (13/3/2019). (Solopos/M. Ferri Setiawan)

Solopos.com, JAKARTA – Sebagian masyarakat yang sering menggunakan transportasi ojek online merasa khawatir dan keberatan atas rencana pemerintah menghapus diskon ojek online yang dinilai dapat menimbulkan persaingan tidak sehat.

"Enggak setuju, merugikan penumpang," kata Rizky Fahira, saat dimintai pendapatnya mengenai hal tersebut, Rabu (12/6/2019).

Rizky saat ini masih kuliah di tingkat awal, jika tidak membawa kendaraan bermotor pribadi dia akan naik ojek online. Meski pun tidak setiap hari naik ojek online, dia merasa keberatan dengan rencana penghapusan diskon.

"Kebanyakan orang pindah ke ojek online karena ada diskon dan jadi lebih murah," kata dia sebagaimana diberitakan Antara.

Bernhart Farras, 23, akan berpikir dua kali untuk naik transportasi online jika potongan harga tarif benar-benar dihilangkan karena dia merasa ada kenaikan yang signifikan setelah pemberlakuan tarif baru.

Bernhart semula menggunakan kendaraan pribadi untuk pergi bekerja, namun, saat ini dia setiap hari naik ojek online minimal untuk perjalanan pergi dan pulang ke kantor.

Dia menganggarkan Rp30.000 hingga Rp40.000 per hari untuk naik ojek online. Jika nanti larangan diskon tarif transportasi online berlaku dan dia perlu transportasi online, maka dia memilih menggunakan ojek ketimbang taksi online karena perbedaan tarif yang signifikan setelah tarif batas atas dan batas bawah berlaku.

Keberatan yang sama juga dirasakan Marsya, 26, karena diskon ojek online membantu meringankan pengeluarannya sehari-hari.

"Sedih karena sebagai orang yang sering kesana kemari, ongkos transportasi itu esensial sekali," kata dia.

Dalam sehari Marsya bisa menggunakan ojek online hingga empat kali untuk menunjang aktivitasnya.

Jika diskon ojek online dihapus, dia akan mengurangi frekuensi naik ojek dan lebih banyak menggunakan transportasi online lainnya seperti bus dan angkutan kota atau angkot.

Lain lagi pengalaman Lufthi Anggraeni, dia akan tetap menggunakan ojek online meski pun tidak ada diskon karena alasan waktu. Bagi dia, transportasi umum lainnya memakan lebih banyak waktu perjalanan.

Dia berpendapat ada atau tidak ada diskon tidak berpengaruh banyak karena umumnya dia mendapatkan selisih Rp1.000 antara tarif normal dengan tarif diskon.

Sehari-hari, dia mengeluarkan Rp60.000 hingga Rp100.000 untuk ongkos ojek online.

"Jadi buat saya, dihapus atau nggak, tidak terlalu terasa," kata dia.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meminta tidak ada lagi diskon tarif ojek online karena hanya memberikan keuntungan untuk sementara.

"Diskon ini memang memberikan keuntungan sesaat, untuk jangka panjang itu membunuh. Itu yang kami tidak ingin terjadi," kata Budi.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten