Pria-Pria Berwajah Seram Turun Ke Sungai Jl Bhayangkara Solo, Ini Yang Mereka Lakukan!
Sukarelawan membersihkan sampah dan tanaman liar di anak sungai Jl Bahayangkara, Solo, Minggu (8/11/2020). (Solopos/Wahyu Prakoso)

Solopos.com, SOLO — Sekelompok pria berwajah seram turun ke anak sungai Jl Bhayangkara barat Stadion Sriwedari, Solo, Minggu (8/11/2020). Mereka langsung menyusuri sungai guna mencari sampah dan benda-benda lain yang tak seharusnya berada di sungai.

Pria-pria berwajah seram yang ternyata sukarelawan dari beberapa komunitas peduli lingkungan tengah melakukan kegiatan resik-resik sungai. Hal itu sebagai antisipasi bencana pada musim penghujan.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, sukarelawan yang terlibat antara lain adalah pegiat sungai, PSI, Exotic Animal Lover Solo (Exalos), dan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) PMI Solo.

Pemkab Klaten Segera Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Merapi

Sukarelawan menggunakan gergaji mesin untuk memotong batang pohon dalam air sungai Jl Bhayangkara, Solo, tersebut. Mereka kemudian mengangkat kayu-kayu yang sudah mereka potong menggunakan tali tambang.

Salah satu sukarelawan, Yenyen Wahyono, 51, menjelaskan kegiatan tersebut atas inisiatif trio gorong-gorong, Yenyen, Toyib, dan Togenk. Itu merupakan kegiatan kali keempat mereka membersihkan sungai.

Tiga sukarelawan merias wajah mereka agar tampak menyerahkan sesuai tema Halloween karena menilai kondisi anak sungai tersebut tak kalah seramnya. “Sungai tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah maupun warga setempat sehingga banyak sampah dan batang pohon,” katanya.

Pengungsi Merapi Klaten: Suara Gemuruh Gludag-Gludug Bikin Waswas!

Ekosistem

Dinding talut sungai Jl Bhayangkara, Solo, hampir lima meter tingginya. Sukarelawan membutuhkan tali tambang dan tangga untuk naik dan turun.

Ketua Exalos Indonesia, Janu Wahyu Widodo, mengatakan Exalos selalu terlibat dalam kegiatan resik-resik sungai karena berkaitan dengan ekosistem. Anggota Exalos tidak hanya mencari ular dan mengantisipasi penemuan ular.

“Pohon yang rimbun menjadi habitat ular. Ketika hujan dan banjir membuat ular akan naik. Masuk ke rumah-rumah warga,” ungkapnya.

Tambah 57 Kasus Konfirmasi Positif Dalam 2 Hari, Ini Perkembangan Terakhir Covid-19 Solo

Sebelumnya, salah satu anggota Sibat PMI Solo, Toyib, menjelaskan mayoritas anak sungai ditumbuhi tanaman dan sampah sehingga cukup mengkhawatirkan jika musim hujan.

Sampah rumah tangga dan tanaman dapat tersangkut dapat memperpendek usia dinding talut dan tiang jembatan.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom