Prabowo-Sandi Pindahkan Markas ke Jateng karena Tak Pede Garap Jatim?
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri) didampingi Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno (kanan) memberikan keterangan pers di kediaman Prabowo, Jalan Kertanegara, Jakarta, Kamis (9/8/2018) malam. Prabowo dan Sandiaga Uno resmi maju mencalonkan diri sebagai pasangan capres dan cawapres pada Pilpres 2019. (Antara-Sigid Kurniawan)

Semarangpos.com, JAKARTA — Koalisi Indonesia Adil Makmur atau KIAM dinilai sengaja mengalihkan fokus ke Jawa Tengah karena tidak percaya diri menggarap pemilih Jawa Timur yang condong kepada pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Sosiolog dari Universitas Airlangga (Unair) Hotman Siahaan menduga pemilih calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno di Jatim dalam Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019 mayoritas berasal dari konstituen KIAM, terutama Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera. Menurutnya, gabungan pemilih parpol pengusung bisa menyumbangkan suara hingga 30% ke Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019.

“Suara Prabowo turun dari Pilpres 2014. Karena itu, dia mendekati Jateng,” katanya saat dihubungi Bisnis.com, Rabu (19/12/2018).

Pada Pilpres 2014, Prabowo yang berpasangan dengan Hatta Radjasa mendapatkan 10,28 juta suara atau 46,83% dari total suara sah di Jatim. Sementara itu, Jokowi yang bertandem dengan Jusuf Kalla memperoleh 11,67 juta suara atau 53,17% dari total suara sah.

Di Jateng, jumlah dan persentase suara Prabowo-Hatta lebih kecil lagi. Pasangan itu meraih 6,48 juta suara (33,35%), sedangkan Jokowi-JK meraup 12,96 juta suara (66,65%).

Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi pun bertekad untuk meraup suara lebih besar di Jateng pada Pilpres 2019. Bahkan, baru-baru ini KIAM melontarkan wacana relokasi markas pusat tim kampanye ke Solo, Jateng.

Optimisme memenangkan Jateng didasari fenomena Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) Jateng 2018 yang mengejutkan publik. Pasangan Sudirman Said-Ida Fauziah yang dijagokan parpol oposisi meraih 7,27 juta suara (41,22%), sedangkan Ganjar Pranowo-Taj Yasin yang merepresentasikan parpol penguasa mendapatkan 10,36 juta suara (58,78%).

Namun, situasinya berbeda dengan Pilgub Jatim 2018 karena parpol pendukung Prabowo tidak mencalonkan jagoan sendiri. Pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak dan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno sama-sama mewakili parpol pengusung Jokowi.

Hotman memperkirakan suara Jokowi-Ma’ruf di Jatim semakin melonjak lantaran Gubenur Jatim terpilih Khofifah dan Gubernur Jatim periode 2009-2019, Soekarwo, mendukung petahana. Dua politisi populer tersebut menjadi kekuatan utama kampanye Jokowi-Ma’ruf di provinsi itu.

“Dua pendekar Soekarwo dan Khofifah sama-sama bangun jaringan. Saya perkirakan suara Jokowi lebih dari Pilpres 2014, sekitar 70%,” kata Guru Besar Ilmu Sosiologi Unair ini.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom