Pasangan bakal calon presiden Prabowo Subianto (tengah), dan bakal calon wakil presiden Sandiaga Uno (kanan), berfoto bersama Ketua Komando Tugas Bersama Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, saat tiba di kantor Komisi Pemilihan Umum Jakarta, Jumat (10/8/2018). (Bisnis-Dok)

Solopos.com, JAKARTA -- Debat calon presiden dan wakil presiden terakhir pada Sabtu (13/4/2019) malam menyisakan ganjalan pada Partai Demokrat sebagai pendukung Koalisi Adil Makmur. Hal ini karena pernyataan Pabowo Subianto dalam debat yang menyalahkan presiden-presiden sebelumnya.

Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menilai bahwa pernyataan capres nomor urut 02 dalam debat terakhir kurang bijaksana. Pabowo menyebutkan bahwa kegagalan perekonomian saat ini bukan hanya menjadi tanggung jawab capres petahana Joko Widodo, namun kegagalan presiden sebelumnya.

Seperti diketahui, Ketua Umum Partai Demokat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah Presiden RI periode 2004—2014 atau tepat sebelum Jokowi. “Saya tidak menyalahkan Bapak [Jokowi]. Ini kesalahan besar presiden-presiden sebelum Bapak. Kita harus bertanggung jawab,” kata Prabowo dalam debat kelima di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu.

Menurut AHY, Indonesia adalah negara besar yang memerlukan pemimpin yang memiliki nilai-nilai yang luhur, bijaksana. dan menjadi teladan untuk seluruh rakyat.

“Salah satu sikap teladan yang diperlukan adalah memberikan penghargaan kepada setiap usaha, pengorbanan, dan pengabdian para pemimpin sebelumnya dalam memajukan dan membangun bangsa ini,” katanya dalam siaran pers, Minggu (14/4/2019).

Putra pertama SBY itu mengatakan bahwa siapa pun yang terpilih dan menjadi pemimpin negara pastilah putra/putri terbaik bangsa, yang telah berkorban sebesar-besarnya, mulai dari waktu, tenaga, pikiran, keluarga, segalanya.

“Sikap menghargai/mengapresiasi siapa pun, apalagi yang telah berjasa untuk negeri ini, seharusnya menjadi syarat mutlak untuk dimiliki oleh pemimpin bangsa, siapa pun ia,” lanjutnya.

Dengan begitu, katanya, tidak ada ruginya mengapresiasi segala pencapaian oleh para presiden sebelumnya. Tugas selanjutnya, melanjutkan apa yang sudah baik, dan memperbaiki apa yang belum baik, serta menuntaskan apa yang belum tuntas.

Di tempat terpisah, Direktur Eksekutif Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menilai bahwa sikap partai Demokrat Dalam koalisi pendukung Prabowo-Sandiaga Uno memang setengah hati. Sedari awal koalisi dibangun, Sekjen Demokrat Andi Arief melempar isu Jenderal Kardus, kemudian ada sejumlah petinggi Demokrat di daerah yang justru mendukung Jokowi.

“Sikap kecewa Demokrat atas pernyataan Prabowo wajar, makanya mereka memilih dua kaki. Andai kata Jokowi menang lagi, setidaknya Demokrat bisa lebih diterima. Petinggi Demokrat memilih cari aman,” katanya.

Menurutnya, dinamika politik yang ditampilkan Demokrat itu adalah fenomena politik yang sudah menjadi tabiat para politikus di partai apa pun dalam setiap momen kontestasi pemilihan presiden. 

Menurut Karyono, penyataan Prabowo dalam debat membuat kemarahan kubu Demokrat semakin memuncak. Namun, apakah Demokrat akan menarik dukungan terhadap Prabowo, hal itu memang masih jadi tanda tanya.

Namun, AHY  telah menegaskan tetap dalam Koalisi Indonesia Adil Makmur. “Tidak mungkin kami keluar dari Koalisi Indonesia Adil dan Makmur. Tidak mungkin. Pemungutan suara juga tinggal sebentar lagi,” tuturnya, Sabtu.

AHY juga mengaku tidak mau ambil pusing mengenai tiga kader Partai Demokrat yang mendadak walk out pada saat debat capres sedang berlangsung. “Saya tidak ingin berkomentar lebih jauh soal ada yang keluar tadi. Yang jelas, setiap generasi kepemimpinan itu pasti telah melakukan capaian baik di bidang politik, ekonomi dan keamanan,” katanya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten