Potret Kejayaan Kerajaan Mataram dalam Busana Batik
Salah satu karya Owens Joe yang itampilkan dalam Solo Batik Fashion yang digelar di Solo Paragon Lifestyle Mall, Jumat (13-15/10/2017). (Istimewa/ Tim Dokumen Owens Joe)

Desainer Owens Joe ingin mengedukasi masyarakat lewat karyanya.

Solopos.com, SOLO--Mengusung tema Kidung Parang Asmoro desainer Owens Joe mengangkat potret kejayaan Kerajaan Mataraman sebagai dasar karya terbarunya. Dengan dominasi motif parang, sebagai simbol busana raja pada masa tersebut.

Motif parang dibuat oleh Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma yang lahir pada 1593 di Kotagede kasultanan Mataram. Kala itu ia memimpin pemerintahan dari 1613 hingga 1645 saat Kerajaan Mataram mengalami masa kejayaan.

Ada puluhan koleksi yang dipentaskan pada malam kedua mini show Solo Batik Fashion (SBF) 2017 di Atrium Paragon Mall, Sabtu (14/10). Ketua Ikatan Perancang Busana Surakarta (Ikapersata) ini menyebutkan motif parang dulunya hanya boleh dipakai oleh raja, penguasa dan ksatria.

Dengan makna filosofi tak pernah menyerah. Ibarat ombak yang dilambangkan huruf S di laut yang tak pernah berhenti. Simbol itu menggambarkan jalinan tak pernah putus baik dalam hal memperbaiki diri ataupu upaya memperjuangkan kesejahteraan maupun pertalian keluarga.

Konsep rancangannya diaplikasikan dalam ragam busana ready to wear dengan warna-warna natural. Batik parang dikombinasikan dengan karya tenun Indonesia dengan sentuhan parang pada prada emas untuk memberikan kesan glamor.Puluhan rancangan busana siap pakai ini dibuat dari 100% katun asli sehingga nyaman dikenakan. Owens yang mendapat kehormatan di panggung mini show membagi acaranya dalam empat sequence berbeda.

Pada kesempatan pertama ia menyuguhkan motif parang yang dibatik di atas kain tenun dengan warna one-side. Pada sequence kedua ia lebih berani dengan motif parang joget berbentuk kontemporer yang ditambahi dengan prada emas. Ia mengombonasikan kain tenun weru dengan ulos yang rata-rata berupa kostum untuk perempuan muda. Sementara pada pertunjukkan terakhir ia menyelipkan parang seling bung asmara yang ditambahi dengan prada emas dan campuran tenun lurik.

Batik Pria

Tak hanya perempuan, Owens, juga memberikan referensi busana pria yang ia tampilkan pada sequence ketiga. Motif parang dengan desain kontemporer ia aplikasikan dalam kemeja sederhana namun elegan. Tak hanya mini show, koleksi monokrom dengan motif poleng dan polkadot juga melenggang di runaway SBF hari pertama.

Mengusung konsep mix and macth ia ingin mengajak para perempuan Indonesia melek fashion. Namun tidak melupakan akar sejarah salah satunya tradisi batik Nusantara. Ia menyebutkan ragam karyanya malam itu sebagai bentuk kemewahan kain tradisional indonesia untuk fashion dunia.

Owens, Minggu (15/10/2017) malam mengatakan tak ingin menyia-nyiakan kesempatan di panggung SBF. Sebagai desainer ia punya tanggung jawab besar membuat konsep yang besar sehingga mampu mengedukasi masyarakat.

“Butuh waktu lama untuk mempersiapkan seperti ini. Enggak bisa hanya satu bulan karena saya membuat semuanya baru dengan konsep yang matang. Jangan sampai sebagai desainer hanya mengolah karya lama dalam satu panggung fashion show seperti ini,” kata dia.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom