Sardono W. Kusumo / Istimewa

Solopos.com, SOLO - Agenda kesenian bertajuk Post Festival (PostFest) yang sebelumnya digelar di Jakarta pada 2017, tahun ini dibawa ke Solo. Acara dilaksanakan selama tiga pekan berturut-turut dengan lokasi enam tempat bersejarah di Kota Solo. Dimulai dari Ndalem Joyokusuman, kampus Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) UNS di Mesen, Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ), Pendapa Balai Kota Solo, Bentara Budaya Balai Soedjatmoko, dan Kampus IELC di Panularan, Laweyan.

Masing-masing ruang dipilih karena memiliki keterkaitan nilai sejarah yang kuat dengan Kota Solo. Selain itu setiap lokasi dinilai memiliki karakter unik dengan dimensi berbeda sosiologis (diwakili UNS), alam (TSTJ), arsitektur (IELC), dan dimensi ekspektasi tertentu (Balai Soedjatmoko). Para pegiat seni andalan Solo dan beberapa kota besar lain bakal merespons ruang-ruang tersebut dengan pentas. Tak sekadar memajang karya, mereka membaca kembali nilai-nilai sejarah setiap venue untuk menampilkan kembali memori kolektif masyarakat.

“Membaca kembali nilai-nilai. Memang [ruang-ruang yang dipilih] selalu punya cerita di baliknya, sehingga bisa menampilkan kembali memori kolektif mereka,” kata anggota Dewan Direktur Postfest Solo Sardono W. Kusumo saat berbincang dengan solopos.com beberapa waktu lalu.

PostFest diisi serangkaian kegiatan mulai pentas seni hingga pameran. Seniman yang berpartisipasi di antaranya pesinden sekaligus komposer andalan Solo, Peni Candra Rini, Dwiki Dharmawan (Jakarta), Chi Him Chik (Hongkong), aktor Tony Broer & Rahman Subur (Teater Tubuh), Wang Jinyu (Shanghai), perwakilan rakyat Pulau Komodo dan Aceh, kolaborasi penari muda Otniel Tasman bersama sutradara Sen Al Ansory dan Mahamboro, dan masih banyak lagi.

Keindahan bangunan joglo di Ndalem Joyokusuman, Baluwarti, Pasar Kliwon, dipilih menjadi lokasi pembukaan Postfest 2019 Sabtu (31/8/2019) mendatang. Dalam acara pembukaan itu Peni menampilkan Suara Gamelan Nyi Menggung yang diiringi gamelan Jawa bersejarah milik orang tua Sardono. Gamelan yang ada sejak era Pakubuwana VII dan Pakubuwana VIII tersebut dibawakan para dosen dan pengajar Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Chi Him menampilkan pentas saksofon dan olahan komputer, sedangkan Dwiki Dharmawan yang membuka pameran Argus Photowork tampil bersama  SMIET.

“Saya lihat lumayan bagus [Ndalem Joyokusuman] kemudian saya lihat pendapanya utuh. Tapi saya melihat dengan cara lain, pengalaman musik klasik Eropa datang dan main ke pendapa Jawa. Mereka bilang pendapa Jawa kualitas akustiknya sama dengan concert hall. Padahal concert hall dibuat dengan arsitektur khusus yang sudah diukur akustiknya,” terang Sardono.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten