Positivisme yang Positif
Ichwan Prasetyo (Istimewa/Dokumentasi pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Gaya berpikir yang dipengaruhi paradigma positivisme adalah (salah satu) pangkal merebaknya pola pikir menerima begitu saja suatu pesan tanpa mau repot untuk sedikit jeli dan berpikir kritis.

Berpikir kritis sesungguhnya adalah fitrah kemanusiaan untuk menangkap makna sebuah pesan. Positivisme memengaruhi alam pemikiran kehidupan masyarakat sehari-hari. Dalam bahasa Jawa, positivisme identik denga ”wis pokoke”. Tidak mau dibantah.

Begitu salah satu hal yang bisa saya anggap sebagai ”penyimpulan” dalam esai berjudul Titik dan Koma karya Sholahuddin yang terbit di Harian Solopos edisi Senin, 20 Juli 2020. ”Penyimpulan” ini menarik untuk ditelaah.

Positivisme adalah cara berpikir yang memandang ilmu pengetahuan dengan segala cabangnya telah mencakup seluruh objek. Cara berpikir positivisme menganggap tidak ada ruang sedikit pun bagi filsafat untuk mengkaji objek tertentu.

Tidak ada ruang untuk berfilsafat kecuali mengkaji hukum-hukum ilmiah yang mengantarkan semua cabang ilmu menjadi kajian yang lengkap atau dengan menganggap cabang-cabang ilmu itu tunduk pada suatu metode dan mencakup bidang-bidang yang berbeda dari sebuah studi umum.

Positivisme dalam kancah filsafat modern bermula dari Auguste Comte. Ia adalah filsuf Prancis yang hidup pada 1798-1857. Positivisme berorientasi pada realitas. Metode berpikir ini menolak pembahasan mengenai suatu objek yang ada di balik realitas (yang tak diketahui secara pasti).

Dasarnya adalah akal manusia tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui entitas apa pun yang di luar alam indrawi atau persepsi dan alam yang tak kasatmata. Orientasi realistis ini yang kemudian menjadi pangkal positivisme logis kontemporer.

Pola pikir yang dikembangkan Comte ini menegaskan pengetahuan yang benar hanyalah yang berdasar pada fakta-fakta. Segala yang di luar fakta, misalnya metafisika, bukanlah pengetahuan. Positivisme mencukupkan pada hal-hal yang bisa diamati atau diobservasi secara indrawi.

Comte membagi sejarah pengetahuan manusia menjadi tiga tahap. Pertama, teologi. Manusia memercayai kekuatan di luar alam, kekuatan di luar yang bisa ditangkap indra. Kekuatan ini menyebabkan bencana, kematian, wabah, peperangan, dan sebagainya.

Manifestasi kekuatan ini adalah dewa-dewa, Tuhan, daya adikodrati yang memiliki kemampuan yang melampaui daya manusia. Tahap ini dibangun dari animisme, politeisme, hingga monoteisme

Kedua, metafisis. Pengetahuan manusia berkembang. Kekuatan di luar daya manusia, yang tak tertangkap indra, dikonstruksi menjadi abstaksi metafisis. Alam secara umum dianggap memiliki daya atau kekuatan.

Tidak ada kekuatan adikodrati, yang ada hanyalah alam sebagai keseluruhan konsepsi metafisis lainnya. Ketiga, positif. Pengetahuan manusia mencapai puncak. Manusia tak mencari hal-hal di luar yang bisa diamati. Semua hanya mengacu pada fakta. Pengetahuan berkembang pesat, mencapai kepastian kebenaran.

Comte menggunakan frasa ”filsafat positif” dalam uraian tentang pola pikir berbasis fakta-fakta itu, yang kemudian dikenal sebagai positivisme. Filsafat ia maknai sebagai sistem umum tentang konsep-konsep manusia. Positif ia maknai sebagai teori yang bertujuan menyusun fakta-fakta yang teramati; kenyataan faktual, berdasar fakta.

Positivisme menegaskan pengetahuan autentik adalah pengetahuan yang berdasarkan pada akal, pengalaman, dan verifikasi positif. Positivisme menggunakan metode ilmiah untuk menggantikan metafisika dalam sejarah pemikiran.

Dalam ilmu sosial kontemporer, positivisme mendapatkan kritik berkali-kali. Praktisi positivisme era baru mengakui ada bias pengamat (subjek yang melakukan pengamatan) dan keterbatasan struktural.

Kredo positivisme memosisikan metode ilmiah--logika investigasi, penyelidikan, penelitian--di semua ilmu (sosial dan alam) sama. Era baru memusatkan metode ini pada sains sebagai produk yang dapat berbentuk pernyataan linguistik atau numerik.

Investigasi, penyelidikan, penelitian bertujuan menjelaskan dan memprediksi; untuk mengembangkan pemahaman prinsip umum dengan menemukan syarat yang diperlukan dan kondisi yang tepat untuk memahami fenomena atau menciptakan sebuah model yang sempurna.

Ketika prinsip umum diketahui, kita dapat memanipulasi kondisi untuk menghasilkan prediksi. Kredo positivisme lainnya adalah pengetahuan ilmiah harus dapat diuji. Penelitian untuk membuktikan hanya melalui cara empiris, bukan argumentasi.

Fenomena harus diamati dengan indra manusia. Penelitian dibuktikan dengan menggunakan logika konfirmasi. Ilmu pengetahuan tidak sama dengan pandangan umum (common sense). Para peneliti harus berhati-hati, tidak memasukkan pandangan umum dalam penelitian.

Positivisme bertujuan agar ilmu pengetahuan bebas nilai atau netral. Tujuan akhirnya adalah menghasilkan pengetahuan tanpa memperhatikan pengaruh pandangan politik, moral, atau nilai-nilai yang dipegang oleh yang terlibat dalam penelitian. Sains harus dinilai dengan logika yang idealnya menghasilkan prinsip universal.

Dengan demikian positivisme memang punya sisi positif. Pada saat yang sama positivisme juga punya keterbatasan. Metode filsafat memang jamak dan layak menuai kritik. Bukankah filsafat adalah jalan tiada akhir untuk menemukan kebaikan?

Dengan pemahaman demikian kritik atas suatu metode (berpikir) adalah keniscayaan. Saya berpandangan sisi positif dari positivisme diperlukan. Positivisme yang positif justru kita perlukan har-hari ini. Bahwa banyak orang hari-hari ini menjadi penganut fatalisme, ajaran atau paham bahwa manusia dikuasai oleh nasib, bisa jadi bermula dari keengganan menggunakan akal, mengamati fakta, menelaah pengalaman, dan memverifikasi fakta.

Pathokaning Kandha

Fatalisme yang dicampuri menihilkan sains kemudian dibumbui kepercayaan pada teori konspirasi (yang tak dilandasi fakta, tak diselidiki, dan tak diverifikasi) jamak memunculkan ”wis pokoke”. Tampaknya hari-hari ini justru inilah yang berkembang. Positivisme (yang positif) malah dibutuhkan untuk mengoreksi ini.

Pagebluk Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 adalah faktual. Ada fakta yang tersaji. Fakta itu bisa diverifikasi dengan fakta lain. Penerapan protokol kesehatan bisa mencegah persebaran Covid-19 adalah faktual. Fakta ini juga bisa diverifikasi dengan fakta lain.

Metode ilmiah, sebagai ”balungan” positivisme, relevan dengan pagebluk ini. Bahwa kemudian ada sekelompok orang yang tak percaya pada pegebluk ini, menganggap ini sebagai hasil konspirasi sehingga berujung tak percaya pada protokol kesehatan, jelas mengingkari fakta tanpa menggunakan fakta.

Mereka ini juga golongan ”pokoke”, tak mau dibantah dengan fakta (yang ilmiah). Mereka jelas tak menggunakan metode positivisme. Kalau mereka menggunakan positivisme, bisa jadi tidak akan terjerembap pada ”pokoke” pagebluk Covd-19 itu konspirasi elite global yang kemudian menihilkan protokol kesehatan dan yang lebih fatal adalah mengampanyekan ketidakpercayaan kepada kalangan medis dan pemerintah yang menangani pagebluk ini.

Relevan dengan telaah tentang positivisme (yang positif) adalah ajaran tentang pathokaning kandha warisan Ki Ageng Suryomentaram. Tentu saja Ki Ageng suryomentaram bukan pengusung filsafat positivisme ala Comte.

Relevansinya adalah pada kredo setiap kali berbicara harus paham siapa yang berbicara (termasuk paham tentang diri sendiri ketika berbicara), paham siapa yang diajak bicara, dan paham apa yang dibicarakan.

Pathokaning kandha punika weruh ingkah kandha punapa, ingkan dipun kandhani punapa, ingkang dipun kandhakaken punapa. Hari-hari ini ketika “pokoke” yang menjadi pegangan, bisa jadi karena pathokaning kandha diingkari bahkan dibuang jauh-jauh. Tom Nichols menyebut gejala ini sebagai matinya kepakaran.

Frasa ”matinya kepakaran” adalah terjemahan judul buku karya Tom Nichols, The Death of Expertise. Matinya kepakaran adalah situasi ketika semua orang merasa tahu semua hal meskipun bukan ahli di bidang tertentu yang dibicarakan dan bahkan tak punya kompetensi sama sekali di suatu bidang tertentu yang dibicarakan itu.

Nichols mengatakan orang awam tetap butuh dokter bila sakit, mencari pengacara bila punya masalah hukum, atau mengandalkan pilot untuk mengemudikan pesawat yang kita tumpangi. Tetap butuh pakar. Pakar adalah kompetensi spesial yang dimiliki seseorang pada bidang atau pekerjaan tertentu.

Kepakaran itu menyebabkan punya otoritas menjelaskan, menguraikan, merumuskan, dan menyelesaikan masalah. Pakar punya pathokaning kandha. Dia paham ketika berbicara hanya pada kompetensi yang dia kuasai, weruh ingkang kandha punapa.

Dia paham siapa yang diajak berbicara (orang awam), weruh ingkang dipun kandhani punapa. Dia sangat paham apa yang dibicarakan, weruh ingkang dipun kandhakaken punapa. Menerima kepakaran adalah positivisme. Menjadi pakar (terutama di bidang sains) juga butuh positivisme. Pakar yang bukan berkredo ”pokoke”, tapi pakar yang selalu menguji fakta dengan fakta dan dengan verifikasi.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom