Agus Kristiyanto/Istimewa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (25/4/2019). Esai ini karya Agus Kristiyanto, guru besar Kebijakan Pembangunan Olahraga Fakultas Keolahragaan Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah aguskriss@yahoo.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Tahun 2019 merupakan era baru dalam proses seleksi penerimaan mahasiswa baru, terutama bagi seluruh calon mahasiswa yang hendak memasuki bangku kuliah di perguruan tinggi negeri di Indonesia.

Pada awal Januari pemerintah melalui Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi meluncurkan sebuah institusi khusus yang diberi kewenangan dan tugas untuk meningkatkan mutu proses seleksi mahasiswa baru di seluruh program studi, terutama untuk jenjang S1.

Institusi tersebut bernama Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) yang diketuai Ravik Karsidi. LTMPT melaksanakan tugas menghimpun dan mengeksekusi kebijakan seleksi yang bertumpu pada tiga jalur seleksi, yakni Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), dan Jalur Mandiri. 

Ketiga jalur seleksi tersebut dikembangkan sebagai pilihan cara adil bagi para lulusan SMA/MA/SMK dan sederajat serta lulusan Kelompok Belajar Paket C agar memiliki kesempatan melanjutkan studi di perguruan tinggi melalui pintu masuk sesuai dengan karakteristik mereka.

Pintu masuk SNMPTN bagi calon yang memiliki kemampuan akademis yang tinggi, minat dan bakat yang kuat, serta memiliki rekam jejak prestasi yang sesuai dengan program studi pilihan. Minimum 30% kursi atau daya tampung program studi disediakan  melalui jalur ini.

Pintu masuk SBMPTN melalui seleksi tes masuk menyediakan kuota sebesar minimum 40% dari daya tampung program studi. Sedangkan Jalur Mandiri diberi kuota maksimum 30% dari daya tampung tiap program studi.

Khusus untuk seleksi calon mahasiswa baru pada jalur SBMPTN, lebih khusus lagi pada program studi bidang seni dan olahraga ada hal baru yang cukup menarik, yakni uji keterampilan (UK) yang ditiadakan kemudian diganti dengan penilaian portofolio.

SBMPTN yang memperebutkan minimum 40% daya tampung program studi menggunakan formula perpaduan hasil ujian tulis berbasis komputer (UTBK) dan hasil penilaian portofolio olahraga. Mekanisme ini sempat mendapat reaksi spontan dari para pemimpin fakultas/jurusan/ program studi bidang tersebut tentang peniadaan UK, baik pada program studi bidang seni maupun olahraga.

Pengalaman Buruk Portofolio 

Penggantian UK dengan portofolio tidak serta-merta diterima karena pada umunya kalangan perguruan tinggi olahraga memiliki pengalaman buruk portofolio yang sebelumnya diterapkan di jalur SNMPTN. Berdasarkan evaluasi dan pertimbangan komprehensif serta niat untuk memperbaiki mutu portofolio, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi melalui LTMPT membuat kebijakan portofolio untuk jalur seleksi SBMPTN.

Mulai tahun ini pola seleksi yang memadukan hasil UTBK dan hasil penilaian portofolio diberlakukan di program studi bidang olahraga. Program studi tersebut cukup bervariasi di program studi olahraga di perguruan tinggi keolahragaan seluruh Indonesia, berupa Program Studi Ilmu Keolahragaan, Pendidikan Jasmani, Pendidikan Jasmani Sekolah Dasar, atau Pendidikan Kepelatihan Olahraga.

Kelak akan lebih bervariasi tatkala nama program studi tak terikat ketat dengan persoalan nomenklatur. Harapannya memang pada masa depan akan lahir program studi-program studi keolahragaan yang kreatif dan inovatif. Bagaimanakah portofolio untuk seleksi calon mahasiswa baru olahraga?

Portofolio sebagaimana telah dipahami oleh kebanyakan ahli evaluasi di seantero dunia adalah sebuah instrumen penilaian yang sangat lengkap untuk menilai aspek rekam jejak dan hasil unjuk kinerja calon mahasiswa. Portofolio menggambarkan secara lengkap informasi deskripsi diri calon mahasiswa berkaitan dengan rekam jejak prestasi maupun pelaporan unjuk kinerja pada aspek tertentu.

Kelebihan portofolio adalah sebagai dokumen yang mampu menyajikan objek evaluasi yang terintegrasi informasinya dalam ikatan yang utuh tentang calon mahasiswa. Portofolio bukan sekadar deskripsi diri, tetapi juga berisi informasi tentang bukti-bukti dokumen valid, informasi grafis, dan dokumen visual yang terpercaya.

Sebenarnya eksekusi kebijakan penilaian portofolio yang dihadirkan untuk mengganti UK dalam bidang olahraga sudah dipertimbangkan cukup masak. Beberapa pertimbangan atau alasan SBMPTN menggunakan protofolio adalah sebagaimana hasil evaluasi pelaksanaan UK pada 2017 dan 2018 oleh tim evaluasi Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Narasinya diolah bebas secara argumentatif tanpa mengubah esensi dari temuan evaluasi.

Relevan dengan Digitalisasi

Pertama, persentase ketidakhadiran calon mahasiswa peserta UK olahraga cukup tinggi, yakni pada 2017 sebanyak 6.317 orang calon mahasiswa atau sebesar 21,61% dari yang seharusnya hadir mengikuti UK. Pada 2018 ada sebanyak 6.372 orang calon mahasiswa yang tidak hadir atau sebesar 22,23% dari yang seharusnya mengikuti UK.

Artinya kehadiran calon mahasiswa hanya berkisar 72%-78% yang  siap dipilah lolos atau tidak. Dengan respons cepat mungkin dapat dikemukakan bahwa mereka yang tidak hadir itu memang tidak memiliki minat mengikuti UK. Layak untuk ditinggal saja dan pasti tidak diterima tanpa nilai UK.

Nilai UK dalam SBMPTN memang memiliki bobot yang setara dengan nilai UTBK, tapi jarang yang berpikir bahwa kemungkinan mereka yang berhalanagn hadir itu justru adalah para calon mahasiswa yang sebenarnya potensial menjadi mahasiswa unggul pada kemudian hari jika diterima.

Kedua, peserta yang mengikuti UK bersifat membeludak di tempat dan dalam waktu yang sama sekadar mengikuti UK dalam rangkaian tes di beberapa lokasi dan beberapa bidang tes yang disiapkan oleh panitia lokal.

Ini harus melibatkan banyak petugas lapangan yang terdiri  atas dosen dan mahasiswa yang pada saat bersamaan mungkin harus menghentikan kegiatan riset dan perkuliahan.  UK apa pun bidangnya sebenarnya sekadar untuk memilah calon, bukan benar-benar memilih calon melalui uji face-to-face.

Ketiga, hasil evaluasi yang diberikan untuk program studi-program studi  penyelenggara UK ternyata memiliki variasi dan disparitas penilaian yang sangat tinggi. Ada persoalan yang mendasar terkait hasil eksekusi akhir dalam penentuan range skor kelolosan UK. Artinya, selama ini ada hal yang layak didiskusikan kembali terkait dengan standar penilaian UK SBMPTN yang seharusnya berstandar nasional.

Penerapan portofolio sebagai pengganti UK olahraga adalah sebuah solusi yang dipilih untuk mengatasi persoalan yang telah dikemukakan di atas. Portofolio sama sekali tidak mengurangi kesempatan dan kewenangan perguruan tinggi keolahragaan dalam memilih calon yang diharapkan.

Sangat Leluasa Menyeleksi

Jalur yang lain seperti SNMPTN, apalagi Jalur Mandiri, merupakan pintu masuk perguruan tinggi keolahragaan yang bisa sangat leluasa menyeleksi calon mahasiswa. Penentu seleksi penilaian portofolio SBMPTN tetap melibatkan para dosen terpilih dari perguruan tinggi keolahragaan.

Model portofolio dalam jangka panjang akan bermanfaat membiasakan para pelajar seluruh Indonesia agar lebih sadar terhadap minat, bakat, dan potensi diri. Melalui perangkat teknologi mereka belajar jujur dan terbuka dalam mendeskripsikan rekam jejak diri serta kualitas kinerja untuk berbagai keperluan.

Salah satu yang terpenting adalah untuk mendaftarkan diri masuk perguruan tinggi yang menjadi pilihan. Portofolio juga merupakan pilihan yang tepat digunakan di jalur SBMPTN karena relevan dengan semangat era digitalisasi informasi teknologi 4.0, serta jawaban keberpihakan pemenuhan tuntutan pemerataan akses pendidikan untuk semua.

Program studi keolahragaan (apalagi di perguruan tinggi negeri) faktanya belum merata di seluruh wilayah Indonesia, tetapi minat, bakat, potensi calon mahasiswa itu pasti ada di Sabang hingga Merauke.

 

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten