Ilustrasi sapi (JIBI/Solopos/Dok)

Populasi sapi Bantul merosot dalam beberapa tahun terakhir. Paguyuban pedagang daging sapi meragukan data dari Pemerintah

Solopos.com, BANTUL-Kenaikan harga daging sapi yang secara resmi diterapkan oleh para pedagang sejak lima hari lalu, disinyalir lantaran semakin merosotnya jumlah sapi potong di daerah penopang stok daging sapi.

Diakui sendiri oleh Ketua Paguyuban Pedagang Daging Sapi (PPDS) Segoroyoso, Ilham Jayadi, jumlah populasi sapi siap potong saat ini memang cenderung terus merosot. Menurutnya, selain penetapan kuota sapi potong dari luar DIY, kualitas ternak sapi potong di DIY terbilang buruk.

“Jadi, kami memang menyangsikan data populasi sapi yang dirilis pemerintah [Bantul] beberapa hari terakhir yang katanya mencapai 52.000 ekor,” tegasnya.

Hal itulah yang menurutnya bisa menghambat populasi sapi potong di kalangan peternak. Tak terkecuali dengan Bantul. Diakuinya, Bantul sebagai pemasok sapi potong terbesar di DIY, kenyataannya saat ini memang tengah mengalami krisis stok.

Diakuinya, kuantitas sapi di Bantul memang masih banyak. Hanya saja, jumlah sapi siap potong yang diperuntukkan bagi daging konsumsi, jumlahnya sudah sangat terbatas.

“Kalau perhitungan kami, untuk mencari 20.000 ekor untuk kebutuhan potong kami saja, saya tak bisa menemukannya di Bantul, bahkan di DIY,” tegasnya saat dihubungi, Senin (17/8/2015) siang.

Lebih lanjut, ia menilai, krisis stok sapi siap potong ini lebih karena gagalnya program pembibitan yang dilakukan pemerintah. Dinilainya, program Gertak Birahi yang dirintis pemerintah tak berjalan sesuai rencana. “Ya bagaimana sapi betina mau bunting, wong untuk bunting itu kan dibutuhkan organ reproduksi yang sehat,” tegasnya.

Setidaknya, kegagalan sapi betina untuk bunting itu dipengaruhi oleh 2 hal penting, yakni buruknya kualitas pakan, dan akibat proses persilangan yang gagal. Di Bantul, kebanyakan sapi potong yang digalakkan adalah sapi hasil persilangan antara jenis lokal PO dan sapi limosin.

Padahal, menurutnya, sapi jenis limosin hanya unggul dalam hal bobot badannya saja, namun kualitas bibitnya terbilang rendah. “Jadi saya harap kembalikan saja sapi pada jenis asalnya, yakni PO lokal,” tegasnya lagi.

Selain itu, ia juga berharap kepada pemerintah untuk mengefektifkan pakan ternak yang sehat dan unggul. Pasalnya, kebanyakan peternak yang ada di Bantul tergolong peternak konvensional yang masih mengandalkan jerami sebagai pakan utama dari ternak sapi mereka.

“Jadi penyebabnya [jumlah stok sapi siap potong menipis] bukan karena momentum Idul Adha dan penimbunan, tapi karena memang sapinya yang tidak ada,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dipertahut) Bantul Partogi Dame Pakpahan membantah jika stok sapi siap potong di Bantul menipis. Ditegaskannya, jumlah populasi di Bantul saat ini masih mencapai sekitar 52.000 ekor. “Dari jumlah itu, ada sekitar 20.000 yang betina, sisanya merupakan sapi siap potong,” ucapnya.

Selain itu, ia juga membantah jika ada sapi potong yang dipotong di usia yang belum mencapai usia potong. Diakuinya, peternak di Bantul tentu tak akan berani mengambil resiko menjual dan memotong sapinya yang masih belum masuk usia potong. Pasalnya, para peternak di Bantul kebanyakan masih menganggap sapi merupakan harta rajakaya ketimbang produk konsumsi.

Sebelumnya, ia memang pernah menegaskan menipisnya jumlah sapi yang dipotong memang lantaran banyaknya peternak yang enggan menjual sapinya untuk dipotong. Alasannya adalah peternak kini tengah menunggu momentum Idul Adha. “Kalau Idul Adha kan biasanya harga sapi bisa melonjak,” ucapnya.

Sebagai informasi, di DIY, khususnya Bantul, harga daging sapi kini memang sudah mengalami kenaikan hingga Rp6.000. Hal itu sesuai surat edaran yang dibagikan oleh pihak PPDS kepada seluruh pedagang daging sapi.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten