Ponpes di Sragen Wajib Miliki Surat Keterangan Aman dari Covid-19

Kemenag melakukan monitoring dan evaluasi dengan cara keliling ke ponpes untuk memastikan penerapan protokol kesehatan.

SOLOPOS.COM - Santri Ponpes Trensains Muhammadiyah Dawe, Sambungmacan, Sragen, salat dengan menjaga jarak. (Istimewa/Ponpes Trensains)

Solopos.com, SRAGEN — Penerapan protokol kesehatan pada 155 pondok pesantren (ponpes) di Kabupaten Sragen mendapat pengawasan ketat mengingat Sragen kembali memasuki zona merah akibat penambahan kasus Covid-19.

Setiap ponpes di Sragen wajib mendapatkan surat keterangan aman Covid-19.

Koordinator Posko Siaga Covid-19 Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Sragen, Ahmad Ulin Nur Hafsun, saat berbincang dengan Solopos.com, Kamis (26/11/2020) siang, menyampaikan sosialisasi dan pembinaan sudah dilakukan jauh hari, bahkan Bupati Sragen sudah keliling ke 20 kecamatan.

Kejari Solo Musnahkan Barang Bukti Kejahatan, Mayoritas dari Kasus Narkotika

Dia melanjutkan Kantor Kemenag melakukan monitoring dan evaluasi dengan cara keliling ke ponpes untuk memastikan penerapan protokol kesehatan.

“Saya lihat sejumlah ponpes sudah membentuk satgas Covid-19 di setiap ponpes. Selain itu, kami mengecek sarana dan prasaranan protokol kesehatan, pengaturan jadwal kegiatan, jaga jarak, kebiasaan hidup sehat, hingga pemeriksaan surat keterangan aman Covid-19. Terakhir memastikan santri dan guru sehat serta tidak menerima tamu dan santri tidak boleh keluar ponpes,” ujarnya.

Ulin, sapaannya, sudah melihat ada pengetatan itu di Ponpes Darul Quran, Ibnu Abbas, dan An-Najah Gondang. Upaya ini dilakukan karena peningkatan kasus Covid-19 Sragen yang signifikan dan adanya kasus covid-19 di ponpes Klaten.

Eks Kades Trobayan Sragen dan Suami Dituntut 2,5 Tahun Penjara

Pada bagian lain, penerapan protokol kesehatan kekat dilaksanakan pengelola Ponpes Trensains Muhammadiyah Sragen, Dukuh Dawe, Desa Banaran, Kecamatan Sambungmacan, Sragen.

Menghentikan Kedatangan Santri

Pejabat Humas Ponpes Trensains Muhammadiyah Sragen Hakim Zanky, Kamis, menyatakan ponpes menghentikan kedatangan santri untuk siswa Kelas X dan XI. Dari 275 orang santri, baru 85 orang santri Kelas XII yang datang dan membiasakan protokol kesehatan.

“Kedatangan santri gelombang pertama masuk mulai 1 November 2020. Untuk gelombang kedua untuk Kelas X dan XI dihentikan dulu sampai waktu yang tidak ditentukan. Sejak kedatangan 85 orang santri itu dilakukan pengetatan protokol kesehatan, yakni 3M [memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak] dan 3I [meningkatkan iman, imun, dan aman],” ujar Zanky.

Zanky menyampaikan sebelum mengikuti aktivitas di ponpes, setiap santri pun wajib melewati 10 pos yang disediakan.

Ikut Terjaring OTT, Iis Rosita Dewi Istri Menteri Edhy Prabowo Dilepaskan KPK

Mulai dari penyemprotan disinfektan pada kendaraan santri, berganti pakaian di pos II, menurunkan barang bawaan santri oleh petugas satgas Covid-19, sterilisasi barang bawaan, cuci tangan, registrasi, menadi dan ganti pakaian, cek kesehatan, karantina selama 14 hari, dan mengikuti kegiatan dengan protokol kesehatan.

“Kami juga ada kebijakan harian, seperti kegiatan belajar mengajar hanya lima jam, durasi istirahat delapan jam, olahraga 30 menit, berjemur 30 menit, meningkatkan kualitas menu makanan, suplemen herbal dan empon-empon, cek suhu setiap hari, penerapan protokol khusus bagi guru dan karyawan, tidak menerima kunjungan tamu wali santri,” ujarnya.

Berita Terbaru

Pabrik di Wonogiri Boleh Beroperasi Selama PPKM, Asal...

Solopos.com,WONOGIRI -- Pabrik di Wonogiri tidak mengurangi jam operasional selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Namun protokol kesehatan harus...

Satpol PP Karanganyar Minta Jogo Tonggo Ikut Awasi Pedagang

Solopos.com,  KARANGANYAR -- Satpol PP Karanganyar mengajak Satgas Jogo Tonggo untuk berkolaborasi mengawasi warung dan angkringan saat malam hari...

Warga Isolasi Mandiri Karena Covid-19 di Jetis Karanganyar Dapat Rp20.000 Per Hari

Solopos.com, KARANGANYAR -- Pemerintah Desa Jetis, Kecamatan Jaten, Karanganyar, memiliki strategi khusus merawat warga yang menjalani isolasi mandiri karena...

Deteksi Dini Penularan Covid-19 di Sukoharjo Makin Agresif

Solopos.com, SUKOHARJO – Upaya deteksi dini penularan Covid-19 di Sukoharjo kian agresif dengan melakukan uji swab dan rapid test....

Satgas Covid-19 Solo: Dampak PPKM Baru Bisa Dirasakan 2 Pekan Lagi

Solopos.com, SOLO -- Ketua Pelaksana Satgas Penanganan Covid-19 Solo, Ahyani, mengatakan dampak pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakata atau PPKM pada...

Langgar Prokes, 5 Pedagang Pasar Kebakkramat & Palur Dilarang Jualan

Solopos.com, KARANGANYAR -- Dinas Perdagangan, Tenaga Kerja, Koperasi (Disdagnakerkop) dan UKM Karanganyar menyidak Pasar Kebakkramat dan Pasar Palur untuk...

Ini Temuan Satpol PP Selama Satu Pekan PPKM di Wonogiri

Solopos.com, WONOGIRI -- Satu pekan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM di Wonogiri, pusat perbelanjaan, warung makan dan...

Tim Ahli Satgas Klaten Usulkan Pasien Covid-19 Isolasi Mandiri Diberi Penanda Khusus

Solopos.com, KLATEN – Tim Ahli Satgas Penanganan Covid-19 Klaten, Ronny Roekmito, mengusulkan pemberian tanda khusus bagi warga terkonfirmasi positif...

Cegah Persebaran Covid-19 dengan Nyatakan Saya Siap Divaksin

Solopos.com, SRAGEN — Warga asal Dukuh Rejosari RT 004, Desa Donoyudan, Kalijambe, Sragen, Johan Wahyudi, 49, menyatakan siap divaksin...

Belasan Hajatan Digelar Pekan Ini Di Gondangrejo Karanganyar, Camat: Abaikan Prokes, Bubarkan!

Solopos.com, KARANGANYAR -- Pemerintah Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar, mengancam membubarkan hajatan semasa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) apabila tidak mematuhi...