Politik "Salam dan Sapa" Jadi Kunci Ipong Muchlissoni Pimpin Ponorogo
Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni berbincang dengan Pemimpin Redaksi Solopos saat berkunjung ke rumah dinas Bupati Ponorogo, Selasa (22/10/2019). (Abdul Jalil-Madiunpos.com)

Solopos.com, PONOROGO -- Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni, memastikan diri maju sebagai petahana dalam Pilkada Ponorogo 2020. Ipong optimistis akan berhasil mempertahankan kursi bupati untuk periode yang kedua ini.

Tahun ini merupakan tahun keempat Ipong memimpin Kabupaten Ponorogo. Ia mengisahkan perjuangannya dalam memperoleh kursi orang nomor satu di Kabupaten Ponorogo itu pada Pilkada 2015.

Dia bercerita sejak remaja ia sudah meninggalkan Ponorogo dan pindah ke Kalimantan untuk menimba ilmu. Hingga akhirnya Ipong sukses menjadi pengusaha di Kalimantan. Selain pengusaha, Ipong juga dikenal sebagai seorang politikus. Ipong pun berhasil meraih kursi legislatif di DPRD Kalimantan Timur.

Setelah 30 tahun merantau di Kalimantan, Ipong tertarik untuk pulang ke kampung halaman. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk maju di Pilkada Ponorogo 2015.

Jalan terjal pun harus dilalui Ipong untuk bisa menduduki kursi orang nomor satu di Ponorogo. Terlebih elektabilitas pria yang baru memiliki satu cucu ini rendah. Ia memaklumi karena lama meninggalkan kampungnya.

Dalam pilkada 2015, Ipong harus berhadapan dengan calon petahana Bupati Ponorogo, Amin. "Saya saat itu lawannya Pak Amin yang merupakan calon petahana dan calon bupati Sugiri-Sukirno. Saat itu elektabilitas saya ya masih rendah. Jauh dari dua lawan saya," kata dia saat menerima kunjungan dari Tim Redaksi Solopos di rumah dinas Bupati Ponorogo, Selasa (22/10/2019) sore.

Ipong bercerita elektabilitas yang rendah ini tidak lantas membuatnya berkecil hati. Justru, suami dari Sri Wahyuni ini merasa tertantang dan bekerja lebih keras untuk mendapatkan dukungan masyarakat.

Salah satu cara yang dilakukan Ipong yaitu rutin bertatap muka dengan masyarakat. Setiap hari, ia bisa bertatap muka dengan ratusan orang di sepuluh lokasi yang berbeda. Selain bertatap muka, ia tidak lupa menyalami satu per satu orang yang datang dalam kegiatannya.

"Saya itu bisa setiap hari keliling di 10 lokasi. Saya kasih hiburan. Semua orang yang datang saya salami satu-satu," ujarnya.

Menurut Ipong, pola tatap muka dan bersalaman ini menjadi kunci penting kesuksesannya memenangi Pilkada Ponorogo 2015. Ia menyebut sentuhan langsung kepada masyarakat itu sangat penting untuk menarik simpati. Dengan pola seperti itu, beberapa waktu kemudian elektabilitasnya melonjak cukup tinggi, mencapai 70%.

Hingga akhirnya Ipong berhasil menang dalam Pilkada 2015.

Pola tatap muka dan berkumpul dengan masyarakat ini, kata Ipong, tetap ia lakukan setelah menjadi Bupati Ponorogo. Ipong masih rutin berkunjung ke desa-desa, bertemu dan berkumpul dengan masyarakat.

"Hari ini saya berkunjung ke empat desa. Rabu besok ke dua desa. Saya kalau datang ke desa ya seperti itu, menyalami satu-satu warga yang datang," kata dia.

Baginya, jabatan politik sebagai bupati itu menjadi salah satu cita-citanya. Ia merasa cocok dengan jabatan politis ini. Karena dirinya bisa beraktualisasi lebih maksimal untuk menyejahterakan masyarakat.

Melalui jabatannya sebagai bupati, Ipong mengaku bisa lebih luas memberikan manfaat kepada masyarakat. Salah satunya, seperti saat dirinya mengeluarkan kebijakan intensif kepada guru ngaji. Sebanyak 8.700 guru ngaji diberi uang intensif Rp100.000/bulan.

Selain itu, kebijakan populis lain yang telah direalisasikan yaitu pemberian dana Rp300 juta per desa per tahun. Dana desa ini diberikan untuk membangun infrastruktur yang ada di desa-desa.

"Saya saat ke sini itu melihat banyak infrastruktur jalan di Ponorogo rusak dan tidak diperhatikan. Infrastrukturnya jelek. Tapi saat ini sudah berubah," jelas dia.

Ipong berujar kemungkinan akan menggunakan pola komunikasi yang sama saat Pilkada Ponorogo 2020.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom