Anak-anak bermain di sekitar pohon bulu di Karangtengah, Jaten, Selogiri, Wonogiri, Jumat (30/8/2019). (Solopos-Rudi Hartono)

Solopos.com, WONOGIRI -- Siswa-siswi SDN Karangtengah, Jaten, Selogiri, Wonogiri, bermain di bawah pohon bulu yang sangat rindang di depan sekolah mereka, Jumat (30/9/2019).

Warga sekitar menyebut pohon tersebut danyangan. Usianya lebih dari 100 tahun, sehingga memiliki diameter pohon sangat besar. Lingkar area bawah pohon mencapai 56 langkah biasa orang dewasa. Tingginya mencapai puluhan meter. Saat daun tak meranggas, pohon itu seperti payung raksasa. Area yang dipayunginya mencapai ratusan meter persegi.

Warga sekitar pohon bulu, Tumi, 65, kepada solopos.com mengatakan tidak ada yang tahu siapa penanam pohon tersebut. Dia memperkirakan usia pohon bulu sudah lebih dari 100 tahun.

Dia menyebut pohon itu sudah ada sejak tiga atau empat generasi keluarganya sebelumnya. Sebagian warga meyakini pohon itu keramat. Setiap malam satu Sura warga menggelar acara di area sekitar pohon.

“Kalau dulu banyak yang masih ritual di pohon itu. Biasanya orang yang menggelar hajatan. Dulu pada hari tertentu juga ada yang ritual minta sesuatu. Tapi sekarang tidak lagi yang seperti itu. Kegiatan hanya saat malam satu Sura,” ucap Tumi.

Menurut dia pohon di depan rumahnya itu memiliki sifat baik. Cabang pohon berukuran besar yang kering kadang jatuh. Namun, dari dulu hingga sekarang tidak pernah ada korban jiwa maupun luka.

Padahal, setiap hari ada orang yang berada di bawah pohon, seperti anak-anak SDN Karangtengah bermain di sekitar pohon dan para orang tua yang menunggu anak-anaknya pulang sekolah di bawah pohon itu. Bahkan, setiap saat ada warga yang melintas di jalan dekat pohon.

“Cabang pohon kalau jatuh pasti pas tidak ada orang. Padahal, peristiwa seperti itu bisa terjadi sewaktu-waktu. Warga meyakini pohon ini mengayomi, sifatnya baik. Jadi, orang tak khawatir saat berada di dekatnya,” ulas Tumi.

Dia menceritakan pernah ada kejadian aneh lainnya. Dahulu ada orang dari luar Wonogiri yang mengambil getah pohon bulu itu untuk mengobati udun atau bisul yang tak kunjung sembuh. Dia melakukan hal itu atas petunjuk orang sakti.

Saat akan mengambil getah itu, salah satu orang berbincang dengan Tumi. Tak lama setelah diobati, bisul itu sembuh. Kemudian ada orang yang menemui Tumi dan memberi uang sebagai bentuk syukur. Namun, Tumi menolaknya.

“Dulu ada cabang pohon yang menjuntai ke jalan. Warga tak ada yang berani memotong. Lalu minta bantuan orang pintar. Alhamdulillah setelah itu tetap tak terjadi apa-apa,” kata Tumi.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten