Kondisi Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri, Minggu (17/11/2019), setelah tujuh bulan tak turun hujan. (Solopos-Rudi Hartono)

Solopos.com, WONOGIRI — Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Wonogiri tak beroperasi sejak 8 September 2019. Sebab, air Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri dikeluarkan tak melalui turbin.

Kondisi itu terjadi lantaran elevasi atau tinggi muka air WGM Wonogiri rendah menyusul belum adanya hujan yang konsisten. Bahkan, pada November ini elevasi mencapai titik terendah dibanding tahun lalu.

Informasi yang dihimpun solopos.com di Kantor Sub Divisi Jasa Air dan Sumber Air (ASA) III Perum Jasa Tirta (PJT) I, Wonogiri, Minggu (17/11/2019), PLTA Wonogiri tak beroperasi sejak pengeluaran air tampungan WGM dialihkan dari semula melalui turbin ke pintu hollow jet valve (HJV), 8 September lalu pukul 16.00 WIB.

Pada masa itu elevasi WGM tercatat 128,03 meter soerabaia haven vloed peil (shvp) dan air yang dikeluarkan melalui HJV sebesar 23 m3/detik. HJV merupakan pintu tempat air dialirkan saat ketersediaan air WGM sudah minim.

Pintu air di WGM ada tiga. Dua pintu lainnya, yakni spillway atau pintu utama yang dibuka saat elevasi tinggi dan pintu turbin untuk keperluan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang dioperasikan Sub Unit PLTA Wonogiri Unit Pembangkit Mrica PT Indonesia Power Banjarnegara.

Saat solopos.com meminta konfirmasi ke Sub Unit PLTA Wonogiri dekat bendungan WGM, Minggu, supervisor kantor tersebut, Anang Rosihan, tak berada di tempat. Petugas keamanan, Wahyu dan rekannya, mengonfirmasi PLTA berhenti beroperasi sementara sejak September lalu.

Untuk diketahui, terkait layanan listrik, Wonogiri merupakan wilayah kerja Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) PLN Sukoharjo.

Pejabat Executive Account UP3 PLN Sukoharjo, Mughofir, kepada solopos.com menyatakan mestinya pasokan listrik di kota sukses tak terganggu meski PLTA Wonogiri berhenti beroperasi sementara.

Sebab, kebutuhan listrik tetap bisa dipenuhi mengingat daya listrik dari PLN Jateng dan DIY surplus. Hanya, saat ditanya berapa besar energi listrik yang dihasilkan dari PLTA Wonogiri, dia tak mengetahuinya lantaran PT Indonesia Power pengelola PLTA dengan PLN berbeda.

Data yang solopos.com peroleh, elevasi WGM pada Minggu pukul 11.00 WIB tercatat 125,41 meter shvp. Elevasi itu lebih rendah dari pada saat kemarau tahun lalu. Pada 2018 elevasi terendah saat kemarau tercatat lebih kurang 126 meter shvp, akhir Oktober. Lalu hujan mulai turun pada awal November.

Pada elevasi di angka 125 meter shvp, banyak bagian waduk yang menjadi daratan. Banyak warga yang memanfaatkannya sebagai lahan pertanian. Mereka menanam padi, jagung, cabai, dan sebagainya.

Pantauan, kawasan waduk dekat spillway mayoritas menjadi daratan. Tanaman liar tumbuh subur dan tinggi di kawasan daratan tersebut. Bagian yang terdapat air berada cukup jauh dari spillway.

Meski elevasi rendah, tetapi PJT tetap mengeluarkan air tampungan untuk memelihara Sungai Bengawan Solo. Pada Minggu siang itu outflow atau air yang dikeluarkan tercatat 3 m3/detik melalui (HJV). Sejak air dikeluarkan melalui HJV, awal September, elevasi terus menurun.

Pada 1 Oktober 07.00 WIB elevasi tercatat 126,65 meter shvp, sedangkan air yang digelontor sebesar 4 m3/detik. Sehari setelahnya, tepatnya 2 Oktober pukul 10.00 WIB, outflow diturunkan menjadi 3 m3/detik karena elevasi turun. Saat itu elevasi tercatat 126,62 meter shvp. Besaran debit outflow itu dipertahankan hingga Minggu, meski elevasi terus turun. Elevasi berpotensi turun lagi selama hujan belum mengguyur.

Terlebih, inflow atau air yang masuk ke waduk kecil. Rata-rata inflow tercatat 1,84 m3/detik pada Sabtu (16/11/2019). Hal itu berarti air yang masuk ke WGM lebih kecil dari pada air yang dikeluarkan.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten