PKL SOLO : PKL Jl. Gatot Subroto Ogah Masuk Pasar
Salah satu sudut lokasi di Jl. Gatot Subroto yang kini tidak lagi digunakan untuk berjualan pedagang kaki lima (PKL), Kamis (21/7/2016). PKL sudah mulai meninggalkan Jl. Gatot Subroto maupun Jl. Dr. Radjiman sejak awal pekan ini. (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos)

PKL Solo di Jl. Gatot Subroto tak mau masuk pasar.

Solopos.com, SOLO - Sejumlah pedagang kaki lima (PKL) di Jl. Gatot Subroto dan Jl. Dr. Radjiman (Coyudan) enggan menempati pasar-pasar yang disediakan Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) Solo sebagai tempat relokasi.

Salah satu PKL, Joko Lestari, 56, lebih memilih berjualan makanan di dekat rumah di Jl. Wirengan, Kelurahan Baluwarti, Pasar Kliwon ketimbang menggunakan salah satu tempat relokasi yang disediakan DPP Solo, yakni Pasar Penumping. Dia pesimis apabila harus berjualan di pasar yang berada di Kelurahan Penumping, Laweyan tersebut. Suasana Pasar Penumping berubah begitu sepi setelah pukul 10.00 WIB.

"Saya dapat tempat relokasi di Pasar Penumping. Setelah saya survei, Pasar Penumping ternyata sudah tidak ada orang mulai sekitar pukul 09.00-10.00 WIB. Saya jelas takut kalau memaksakan diri berjualan di Pasar Penumping. Kalau tidak laris, saya dan keluarga mau makan apa? Akhirnya ya saya memilih tidak menggunakan pasar," kata Joko kepada Solopos.com di Jl. Wirengan, Baluwarti, Kamis (21/7/2016).

Joko menyebut sebagaian besar PKL di Jl. Gatot Subroto sebenarnya enggan pindah berjualan ke sejumlah pasar yang disediakan DPP Solo sebagai tempat relokasi atas konsekuensi adanya proyek penataan kawasan strategis. Hampir semua PKL ingin tetap berjualan di Jl. Gatot Subroto. Dia berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Solo mengembalikan PKL ke Jl. Gatot Subroto setelah proyek penataan rampung.

"PKL jelas ingin bertahan di Jl. Gatot Subroto. Kalau bisa PKL boleh kembali berjualan di sana. Pemerintah nanti bisa menyediakan lokasi khusus bagi PKL. Kami sebanarnya siap ditata. Seandainya bisa, pemerintah bisa menyediakan gerobak baru yang seragam kepada PKL. Nanti kami bisa terlihat lenih baik. Kami juga akan siap mematuhi jam buka-tutup berjualan di Jl. Gatot Subroto setalah ditata," ujar Joko.

Pantauan Espos, Rabu siang, Jl. Gatot Subroto maupun Jl. Dr. Radjiman sudah steril dari PKL. Tidak tampak lagi aktivitas PKL di sepanjang trotoar Jl. Gatot Subroto sisi barat dan sisi timur maupun trotoar Jl. Dr. Radjiman sisi utara dan selatan. Beberapa PKL di Jl. Gatot Subroto meninggalkan lembar catatan di sekitar bekas tempat berjualan masing-masing sebagai sarana pemberitahuan atau pengumuman kepada warga bahwa mereka telah pindah.

Salah satu PKL makanan, Parman, 63, memilih menempati salah satu gang di sekitar Jl. Gatot Subroto. Dia mengaku sudah mengantongi izin dari warga sekitar, khususnya sang pemilik rumah di wilayah Kelurahan Kemlayan, Serengan, tersebut untuk mengelar lapak dagangan di dalam gang. Parman menyebut keberadaan lapaknya di gang tidak akan mengganggu aktivitas masyarakat.

"Urusan perut tidak bisa main-main. Kami takut kehilangan pelanggan kalau pindah ke pasar-pasar. Di pasar kan sepi. Pembeli kami sejak dulu rata-rata adalah karyawan toko yang ada di sepanjang Jl. Gatot Subroto. Saya memilih pindah berjualan di gang dekat Jl. Gatot Subroto saja. Yang punya rumah juga membolehkan saya berjualan," kata Parman.

Sebelumnya, DPP Solo telah menyiapkan lima tempat relokasi yang bisa menampung PKL Jl. Gatot Subroto dan PKL Jl. Dr. Rajiman berjumlah 60 orang. Kelima tempat tersebut, antara lain area Sriwedari bersama PKL Gerobak Kuning, Pasar Penumping, Pasar Kliwon, Pasar Kadipolo, dan Pasar Kebangan. DPP telah memberikan surat penempatan kepada semua PKL di Jl. Gatot Subroto maupun Jl. Dr. Radjiman sebagai izin masuk ke tempat relokasi pilihan masing-masing.

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom