"""
<p><em>Kalangan PKL sepakat alun-alun Klaten harus bersih dari wahana permainan.</em></p>\n
<p><strong>Solopos.com, KLATEN</strong> – Ratusan pedagang kaki lima (PKL) yang tergabung dalam Paguyuban Sekar Melati Klaten menyepakati ruang terbuka hijau (RTH) di Alun-alun Klaten steril dari wahana permainan dan gerobak makanan, mulai awal pekan lalu.</p>\n
<p>Kesepakatan tersebut dibuat menyusul munculnya keluhan beberapa warga di Kabupaten Bersinar yang menyayangkan rumput alun-alun tak hijau gara-gara digunakan sebagai wahana permainan.</p>\n
<p>Salah satu PKL di kompleks Alun-alun Klaten, Jumiyem, 50, mengaku sudah mendengar keluhan warga terkait digunakannya RTH di alun-alun sebagai wahana permainan oleh beberapa pedagang. Kondisi tersebut sudah berlangsung kurang lebih empat pekan terakhir. Lantaran dikeluhkan warga, para PKL berembuk untuk membuat kesepakatan bersama awal pekan lalu.</p>\n
<p>“Hasil kesepakatan Selasa lalu, para PKL semuanya [wahana permainan dan kuliner] tidak boleh beraktivitas di atas rumput hijau di alun-alun. Lokasi yang diperbolehkan, di sekeliling alun-alun. Saya juga berharap, rumput di alun-alun ini bisa hijau dan tumbuh subur. Saya siap menjaga alun-alun ini karena memang di sini tempat mencari makan. Setiap harinya, saya membayar retribusi ke Pemerintah Kabupaten Klaten senilai Rp1.500,” kata pedagang makanan itu di Alun-alun Klaten, Kamis (30/3/2017).</p>\n
<p>Petugas Humas Paguyuban Sekar Melati Klaten, Joko Pratikno, 52, mengatakan para PKL juga sepakat tidak mengganggu pengguna jalan di depan Alun-alun Klaten.</p>\n
<p>“Jumlah PKL di alun-alun mencapai 300 orang. Setiap hari, ditarik retribusi oleh Pemkab Klaten [Rp1.500 per hari]. Dari dahulu, paguyuban PKL sudah melarang anggotanya beraktivitas di atas rumput alun-alun. Ternyata, ada satu-dua orang yang ngeyel,&#8221; kata dia.</p>\n
<p>&#8220;Agar tidak merugikan semuanya, kami bersepakat hanya memanfaatkan di pinggir alun-alun, tidak menggelar barang dagangan di jalur lambat di depan alun-alun, mulai beraktivitas pukul 15.00 WIB setiap harinya, dan setiap tenda yang digelar tidak boleh melebihi enam meter,” tambah Joko Pratikno.</p>\n
<p>Koordinator Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Pasar Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah Klaten, Didik Sudiarto, mengaku sudah melarang setiap PKL beraktivitas di RTH alun-alun. Dia menerangkan kerusakan rumput di alun-alun karena dijadikan sebagai wahana permainan juga sudah ramai diperbincangkan di media sosial (medsos) beberapa waktu terakhi.</p>\n
<p>“Kami akan menjalin kerja sama dengan Satpol PP Klaten juga terkait pemantauan di alun-alun. Kalau ada yang melanggar kesepakatan di internal PKL itu, kami akan menegur mereka terlebih dahulu. Pada prinsipnya, beraktivitas di RTH alun-alun memang dilarang. Hal ini mohon dipahami para PKL. Untuk retribusi harian di alun-alun tidak sampai angka Rp500.000 per hari. Kan jumlah pedagang tak selalu 300-an orang tiap harinya,” katanya.</p>\n
<p>Salah satu warga asal Bareng Kecamatan Klaten Tengah, Khasanah, 33, mengatakan rerumputan di alun-alun mengalami kerusakan karena sering digunakan untuk wahana permainan beberapa pekan lalu.</p>\n
<p>“Sebagai warga, hanya bisa berharap para PKL hendaknya tidak beraktivitas di atas rumput alun-alun. Terutama, PKL yang menawarkan wahana permainan. Eman-eman kalau rusak. Kan sudah disediakan tempat khusus untuk PKL,” kata dia.</p>\n
"""