Ilustrasi pemilu. (Solopos/dok)

Solopos.com, SUKOHARJO -- Dua kader potensial disiapkan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sukoharjo untuk diusung dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 mendatang.

Penjajakan masih dilakukan dengan partai politik (parpol) lain maupun figur publik lainnya. Sesuai Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU), parpol atau gabungan parpol yang mengusung bakal cabup-cawabup wajib memenuhi persyaratan minimal sembilan kursi legislatif atau 20 persen suara sah pada Pemilu 2019.

PDIP yang meraih 20 kursi di DPRD Sukoharjo bisa mengusung sendiri calon bupati-wakil bupati (cabup-cawabup). Partai berlambang banteng moncong putih itu tak perlu berkoalisi dengan parpol lain untuk mengusung cabup-cawabup pada Pilkada Sukoharjo.

Sementara partai lainnya yang harus berkoalisi masih menunggu sembari memantau perkembangan dinamika politik menjelang pendaftaran cabup-cawabup ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sukoharjo.

PKB hanya mendapat tiga kursi di parlemen pada Pemilu 2019. Artinya, PKB harus berkoalisi dengan partai lain jika ingin mengusung cabup-cawabup pada pilkada.

“Bagi kami, jika ada kader terbaik bakal didukung semaksimal mungkin. Saat ini, ada dua kader terbaik yang duduk di legislatif yakni Mohammad Toha dan Suhardi,” kata Ketua DPC PKB Sukoharjo, Syarif Hidayatullah, saat berbincang dengan Solopos.com, Kamis (19/9/2019).

Mohammad Toha merupakan Wakil Bupati Sukoharjo periode 2000-2005 dan 2005-2010. Saat ini, Mohammad Toha merupakan anggota DPR RI dari Fraksi PKB. Sementara Suhardi merupakan anggota DPRD Sukoharjo periode 2015-2019 dan 2019-2024.

Kendati demikian, Syarif tahu diri PKB harus berkoalisi dengan parpol lain untuk mengusung calon pada pilkada. “Harus ada persamaan visi dan misi dengan partai lain untuk berkoalisi. Setelah berkoalisi, apakah partai lain setuju atau tidak dengan kader yang kami tawarkan. Jika partai lain menolak kami juga tak bisa berbuat banyak,” ujar dia.

Saat ini, pengurus PKB telah berkomunikasi dengan partai lain namun belum bisa menentukan arah politik. Selain pengurus partai lain, komunikasi intens juga dilakukan dengan sejumlah figur publik yang meramaikan bursa cabup-cawabup pada pilkada.

Syarif menyebut tak menutup kemungkinan koalisi pada Pilkada 2015 kembali terulang. Kala itu, PKB berkoalisi dengan PAN mengusung cabup-cawabup, Nurdin-Anis Mudhakir.

“Jikapun berkoalisi dengan PAN seperti Pilkada 2015 tetap tak bisa mengusung pasangan calon. Jumlah kursi PAN di parlemen hanya lima kursi sementara PKB tiga kursi. Masih kurang satu kursi untuk mengusung pasangan calon,” papar dia.

Dorongan dan dukungan agar Toha maju sebagai cabup kian santer menjelang pelaksanaan pilkada. Saat pulang kampung, Toha kerap mendatangi berbagai kegiatan masyarakat seperti hajatan pernikahan dan melayat warga yang meninggal dunia. Kala itu, Toha berinteraksi dengan masyarakat.

Selain itu, Toha mengaku kerap didatangi kelompok masyarakat yang meminta agar dirinya ikut berkompetisi dalam pilkada. “Saat jagong atau menghadiri pertemuan masyarakat, saya kerap diminta masyarakat untuk maju sebagai cabup. Insya Allah. Berbagai kemungkinan bisa terjadi menjelang pelaksanaan pilkada,” kata dia saat berbincang dengan Solopos.com belum lama ini.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten