Aris Setiawan/Istimewa

Solopos.com, SOLO -- Sebagian besar di antara kita pasti terheran-heran melihat sebuah pisang diberi lakban dan ditempelkan di dinding lalu terjual dengan harga Rp1,6 miliar. Itu menjadi bagian dari serangkaian karya seni rupa yang dipamerkan di Arts Basel Miami pada akhir 2019 lalu.

Peristiwa itu menjadi perbincangan, bikin gaduh, di dunia seni saat ini. Siapa pun dapat memberi lakban pada sebuah pisang dan menaruh pisang itu di dinding, tapi tidak seorang pun yang memiliki ide seperti itu, kecuali Maurizo Cattelan, seniman dari Italia.

Gagasan membawa pisang di arena seni tersebut dia pikirkan selama setahun lebih. Artinya, karya berjudul Comedian itu sarat dengan berbagai perhitungan yang matang. Peristiwa ini kemudian mengingatkan kita tentang gerakan ”avant-garde” (garda depan) dalam dunia seni.

Gerakan itu muncul menjelang akhir abad ke-19 pada saat seni telah terkooptasi dan dibentuk berdasarkan selera sekelompok kecil orang-orang borjuis yang, ironisnya, seolah-olah memiliki otoritas penuh dalam menilai karya seni bermutu.

Pemicunya pada 1863, saat beberapa lukisan ditolak tampil di arena Paris Salon, sebuah pameran bergengsi yang diinisiasi oleh Academie des Beaux-Arts. Karya-karya yang ditolak dianggap tidak mengandung dimensi keadiluhungan, keindahan, kemuliaan, dan mengagumkan.

Karya-karya itu dipandang sebagai karya picisan dan mengganggu stabilitas (ukuran) ideal tentang estetika seni. Lukisan Edouard Manet dengan judul Le dejeuner sur I’herbe yang menampilkan dua laki-laki berpakaian rapi dengan dua perempuan telanjang dianggap melanggar norma kesusilaan, padahal dalam realitasnya prostitusi telah menjadi wabah baru di Paris kala itu.

Apa-apa yang ditampilkan di panggung pameran haruslah menghindari sesuatu yang dianggap tabu dan kontroversial. Dengan kata lain harus mencerminkan kesantunan dan kesopanan, sebagai gambaran ideal dari seni bermutu (good arts). Beberapa seniman yang karyanya ditolak kemudian membuat pameran tandingan berjudul Salon des Refuses atau “eksibisi dari yang tertolak”.

Ide dan Wacana di Balik Karya

Yang luar biasa, pameran tandingan itu mengejutkan publik. Bukan tentang apa yang dipamerkan, tapi ide dan wacana di balik karya-karya yang dipamerkan itu. Gerakan avant-garde kemudian lebih pada upaya melawan dan menolak batasan tentang seni yang selama ratusan tahun dianggap membelenggu dan mengungkung, terutama oleh institusi pendidikan- seni.

Seni avant-garde memberi tawaran alternatif bahwa seni tak melulu tentang keindahan, tetapi juga menyangkut pada persoalan kontekstualisasi yang lebih luas, mampu menyuarakan dari apa yang tak tampak oleh mata dan tak terjangkau oleh kuasa kata dan bahasa.

Sering kali karya-karya dalam kategori itu sulit dimengerti, membingungkan (memusingkan?), mendobrak batas, dan memantik berbagai tafsir yang tak tunggal. Di bidang seni rupa, pada 1917, Marcel Durchamp, berupaya menampilkan tempat kencing laki-laki berjudul Fountain di pameran yang digagas Society of Independent Artists.

Tentu saja karya itu ditolak. Durchamp dipandang sekadar memindahkan barang dari toilet ke panggung pameran yang siapa pun bisa melakukan. Kala itu yang disebut seniman adalah orang yang menciptakan karya dari apa yang tak ada menjadi ada, tak berwujud menjadi berwujud.

Siapa menyangka, Durchamp justru menjadi pelopor pada awal abad ke-20. Ia membawa paham aneh tapi diyakini kebenarannya, bahwa seniman tak harus membuat sendiri karyanya, barang-barang yang sudah ada–terutama di sekeliling kita--dapat menjadi karya seni apabila seniman menganggapnya demikian. Oleh karena itu, pisang yang diberi lakban karya Maurizo Cattelan adalah representasi dari cara kerja yang diwariskan Durchamp.

Avant-garde sebagai gerakan perlawanan pada seni arus utama justru menemui kematian kala telah menjadi bagian dari arus utama itu. Karya-karya seni ”aneh” kemudian menjadi ”biasa” dan semakin banyak masyarakat yang mengapresiasi dan menyukai.

Karya-karya seni avant-garde sering kali terjual lebih mahal dibanding karya seni konvensional. Gagasan yang awalnya menolak kapitalisme seni kemudian menjadi pelopor baru di ranah itu. Pameran, forum, dan museum avant-garde didirikan, tapi sebagian kritikus berpandangan bahwa frasa avant-garde tidak lagi cocok, yang ada adalah “seni kontemporer, seni modern, dan seni terbarukan”.

Membiasa

Karya yang awalnya dinistakan itu kemudian menjadi karya yang diburu. Semakin aneh semakin menarik. Tujuan utamanya bukan seberapa jauh karya itu dinikmati dari yang tampak (tangible), namun seberapa mengejutkan konsep yang melatarbelakangi hadirnya sebuah karya (intangible).

Seni avant-garde menjadi komersial. Para pembeli berupaya membayar ide, bukan karya. Dalam konteks seni pertunjukan (musik), pada 29 Agustus 1952, di Meverick Concert Hall, salah seorang pianis paling terkemuka kala itu, David Tudor, hendak memainkan repertoar berjudul 4’33’’ karya John Cage.

Penonton yang terbiasa disuguhi musik klasik Barat memupuk impian menjulang dengan hasrat menyaksikan permainan piano yang mengagumkan, jari-jari lincah menekan tuts untuk menghasilkan musik yang indah.

Tudor duduk di depan piano, menaruh partitur di tempatnya, dan yang tak terduga, ia juga membawa stopwach. Ia mengawali pertunjukan dengan menurunkan penutup piano, kemudian membukanya kembali, begitu seterusnya sampai tiga kali berturut-turut.

Ia lalu berdiri, menghadap penonton, memberi hormat, dan keluar dari panggung. Sebagian penonton mengumpat disertai sumpah serapah. Bagaimana mungkin menikmati pertunjukan musik tanpa bunyi musik sedikit pun?

Angka 4’33’’ ternyata adalah durasi pertunjukan (empat menit 33 detik) dari karya yang lebih dikenal dengan titel Silence alias ”diam”. Cage membawa yang biasa dimengerti orang-orang tentang ”tak bersuara”, tentang ”diam”, ke panggung pertunjukan dengan serangkaian konsep dan pandangan bahwa diam menjadi berharga di tengah kebisingan dan kegaduhan.

Karya musik yang tak bermusik itu kemudian menjadi sangat terkenal dan dipuja, dianggap sebagai pelopor seni avant-garde bidang musik, atau yang lebih terbaru disebut sebagai ”seni (musik) eksperimental”. Dengan kata lain, kita tidak harus gumunan melihat fenomena jenis karya seni yang demikian karena jejak sejarahnya yang jelas.

Bahwa pisang yang diberi lakban di dinding itu laku miliaran rupiah adalah sebuah hal yang wajar. Demikian juga ketika I Wayan Sadra membawa sapi ke pentas musik. Sapi itu membuang kotoran. Penonton tak tahan dengan baunya. Dari karya itu ia mendapat penghargaan New Horizon Award (1991). Bukankah kodrat karya seni hari ini semakin membingungkan (menjengkelkan?) dan mengejutkan sering kali laku dengan harga mahal? Aduh!


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten