Joko Widodo, calon kepala desa Ngesrep, Ngemplak, Boyolali, berfoto bersama istrinya. (Istimewa)

Solopos.com, BOYOLALI—Dinamika politik jelang pemilihan kepala desa (pilkades) di Desa Ngesrep, Kecamatan Ngemplak, Boyolali, sepertinya berbeda dengan desa lainnya.

Sepinya peminat calon kepala desa membuat calon kades petahana, Joko Widodo, harus melawan kakak kandungnya sendiri, Suharna, dalam pilkades, Sabtu (29/6).

Menariknya, Suharna merupakan mantan Kepala Desa Ngesrep selama dua periode sejak awal 2000-an. Setelah Suharna lengser, dia digantikan oleh adiknya sendiri yang tak lain adalah Joko Widodo, mulai 2013 lalu.

Kendati diklaim tak ada skenario, namun saat Joko Widodo tak punya penantang pada pilkades tahun ini, Suharna lantas diketahui maju lagi menjadi penantang untuk berebut kursi kades bersama adiknya.

Joko mengatakan tidak ada skenario khusus yang membuat dirinya mesti melawan Suharna dalam pilkades yang digelar Sabtu (29/6/2019). Hanya saja, sepinya pendaftar calon kades membuatnya hanya akan melawan saudara sendiri.

“Ini tidak sengaja, bahkan saya enggak menyuruh dia mendaftar, kami daftar sendiri-sendiri,” ujar Joko, Selasa (18/6/2019).

Tiga Anggota Keluarga

Meski demikian, Joko mengakui bahwa keadaan ini tidak bisa dilepaskan dari Perbup Boyolali No.9/ 2019 tentang Tata Cara Pemilihan Kepala Desa yang menyebutkan bahwa tiap calon kades tidak diperbolehkan melawan kotak kosong.

Dari silsilah keluarga, imbuh Joko, bukan hanya dia dan Suharna yang pernah menjabat sebagai kades. Namun kakak pertamanya juga pernah memegang jabatan serupa pada tahun 1970-an. “Jadi total ada tiga anggota keluarga kami yang pernah jadi kades,” imbuh dia.

Dengan peta persaingan ini, Joko mengaku optimistis dapat kembali memenangi pilkades. Dia masih mengandalkan peta pendukung pada masa jabatan periode sebelumnya.

Kali Pertama

Salah seorang Anggota Panitia Pemilihan Kepala Desa Ngesrep, Sidiq Arkanuddin, mengatakan persaingan kakak beradik baru kali pertama terjadi di Ngesrep.

Sebelumnya, baik Joko maupun Suharna belum pernah mencalonkan diri pada periode pemilihan yang sama. “Enam tahun lalu, Joko melawan orang lain yang bukan saudaranya,” imbuh Sidiq.

Di lain pihak, Sidiq mengungkapkan pendaftaran calon kepala desa di desanya memang sepi dengan tidak adanya calon selain kakak-beradik tersebut.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten