Kulanuwun Joko Sutopo (Solopos/Whisnupaksa)

Solopos.com, WONOGIRI -- Joko Sutopo yang akrab disapa Jekek akhirnya mendaftar sebagai calon bupati pada Pilkada Wonogiri 2020 melalui partainya, PDIP, setelah sebelumnya menyatakan tak yakin akan maju lagi. Apa yang membuatnya berubah pikiran?

Berikut wawancara wartawan Solopos, Rudi Hartono, dengan pria asal Jaten, Selogiri, Wonogiri, tersebut.

Dorongan berbagai pihak kuat agar mencalonkan diri lagi sebagai cabup. Kenapa sempat tidak mau maju lagi?

Waktu itu saya masih gamang terhadap sistem demokrasi yang menuntut kesiapan finansial yang besar dalam berkontestasi. Banyak media sudah menyampaikan, bahkan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian turut membeberkan butuh dana besar untuk berkontestasi di pilkada. Data yang ada menyebutkan kebutuhan dana lebih kurang Rp20 miliar hingga Rp50 miliar.
Saya sebagai anak jelata enggak mampu kalau harus mengeluarkan biaya sebesar itu. Apalagi jika capaian kinerja pemerintahan saya tak bisa mengubah pola pikir masyarakat, itu semakin meneguhkan pendirian saya untuk tidak berkontestasi lagi.

Apa yang membuat Anda akhirnya bersedia mendaftar sebagai cabup melalui penjaringan DPD PDIP Jateng?

Ada beberapa hal. Pertama, saya melihat ternyata pola pikir masyarakat sudah berubah. Banyak kalangan menyatakan mendukung tanpa syarat. Kedua, hasil survei internal. Lalu saya meminta masukan sekaligus memohon restu dari tokoh masyarakat.
Hampir semua mendorong saya melanjutkan pembangunan di Wonogiri. Ketiga, saya merasa terpanggil untuk melaksanakan tanggung jawab moral mengubah kesan yang selama ini tersemat, seperti Wonogiri adalah daerah miskin, kering, dan penyumbang urbanisasi tertinggi. Pada akhirnya DPP memutuskan saya harus mencalonkan diri lagi.

Dengan siapa Anda ingin berpasangan (calon wakil bupati)?

Dalam kontestasi memang harus ada cawabup. Tapi perlu diketahui, penentuan siapa cawabup yang akan mendampingi saya adalah kewenangan DPP. Prinsipnya, siapa pun yang mendapat rekomendasi DPP bagi saya dia adalah kader atau tokoh terbaik yang dianggap telah memenuhi kriteria dan syarat sebagai cawabup.

Ada pandangan cawabup bakal berasal dari internal PDIP. Apakah ini memengaruhi komunikasi dengan Wabup saat ini, Edy Santosa, yang berasal dari partai berbeda?

Selama ini hubungan kami sangat harmonis. Pada beberapa pertemuan dengan masyarakat justru Pak Edy membuat yel-yel sebagai bentuk dukungan kepada saya. Beliau menyadari kalau suatu ketika akan ada perubahan, karena politik sangat dinamis.

Sebagai petahana, pernahkah Anda berpikir akan menang mudah, mengingat kinerja dan hasil survei internal dinilai bagus?

Saya tidak pernah berpikir seperti itu. Capaian kerja saya semoga menjadi energi positif buat saya. Pasti ada kekurangan dan belum sempurna. Oleh karena itu, misal saya nanti resmi menjadi cabup saya mohon doa restu.

Bupati Wonogiri, Joko Sutopo, yang akrab disapa Jekek saat talkshow di studio Solopos FM, Selasa (7/1/2020). (Solopos/M. Ferri Setiawan)
Bupati Wonogiri, Joko Sutopo, yang akrab disapa Jekek saat talkshow di studio Solopos FM, Selasa (7/1/2020). (Solopos/M. Ferri Setiawan)

Ada pendapat kemungkinan hanya akan ada paslon tunggal di Pilkada Wonogiri, yakni Anda dan cawabup Anda. Bagaimana tanggapannya?

Orang boleh saja menyampaikan argumentasi seperti itu dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Tapi saya tidak pernah menyampaikan pandangan demikian.

Belum banyak figur yang mengemuka untuk berkompetisi melawan Anda. Bagaimana menyikapinya?

Itu lah demokrasi. Saya tidak akan berspekulasi karena siapa pun bisa mengambil sikap. Bisa melalui jalur independen atau melalui partai politik. Maka, saya tidak akan menyatakan apa pun atas dinamika politik di Wonogiri. Saya menghormati dinamika itu. Soal sampai sekarang belum ada figur yang mengemuka, saya hanya bisa katakan begitu lah realitanya.

Sebagai bupati, bagaimana Anda mengimplementasikan kewenangan Anda?

Saya menggunakan kewenangan untuk mengakselerasi program sebagaimana telah direncanakan dalam RPJMD 2016-2021. Ada tanggung jawab besar yang harus saya laksanakan.

Apakah Anda merasa puas dengan capaian kerja Anda selama ini?

Yang pasti saya selalu mengevaluasi hasil kerja dari tahun ke tahun untuk melihat apakah capaian itu bisa mengubah struktur sosial masyarakat. Itu yang membuat saya semangat mengabdi.

Bagaimana respons publik Wonogiri menyikapi kerja Anda?

Saya tidak bisa menyampaikan penilaian masyarakat seperti apa, karena terlalu subjektif. Saya hanya bisa memberi bukti yang bisa dipertanggungjawabkan. Kementerian PAN RB sudah memberi penilaian (positif), BPK memberi opini (WTP), dan BPS rutin merilis angka kemiskinan (tren angka kemiskinan terus turun). Data-data itu bisa menjadi fakta yang terukur bagi masyarakat dalam menilai.

Ada pengalaman paling berkesan selama Anda menjadi Bupati?

Paling berkesan ketika saya mendapat kepercayaan masyarakat. Ternyata sulit mendapatkannya. Kenapa? Karena selama ini mungkin masyarakat tidak merasakan perubahan dan hanya memperoleh retorika, janji-janji politik, sehingga masyarakat apatis dan skeptis. Karenanya saya melakukan langkah strategis untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten