Pilkada Wonogiri: Harjo Tuding Kubu Josss Curi Start Kampanye

Pilkada Wonogiri diwarnai dengan adanya tudingan curi start kampanye.

SOLOPOS.COM - Spanduk media sosialisasi Josss terpasang di sejumlah lokasi di kawasan kota Wonogiri. Foto diambil Minggu (6/9/2020). (Solopos/Rudi Hartono)

Solopos.com, WONOGIRI — Tim pemenangan Hartanto-Joko Purnomo atau Harjo menuding paslon Joko Sutopo-Setyo Sukarno atau Josss kampanye bukan pada masanya dengan memasang spanduk berisi ajakan memilih di berbagai wilayah di Wonogiri.

Cara itu dinilai sama halnya memberi edukasi politik yang tak baik kepada masyarakat. Sementara itu, kubu Josss menganggap pemasangan spanduk bergambar Josss tidak melanggar aturan pilkada.

Seperti diketahui, Harjo merupakan cabup-cawabup pada pilkada Wonogiri 2020 diusung Koalisi Wonogiri Bermartabat yang terdiri atas PKB, Gerindra, dan PKS. Sekretaris DPC PKB Wonogiri yang juga bagian dari tim pemenangan Harjo, Witanto, mengatakan mestinya kubu Josss memberi edukasi yang baik dengan menghormati tahapan kampanye.

Porphyria, Kelainan Langka yang Membuat Pengidapnya Tampak Seperti Drakula

Saat ini tahapan kampanye belum bergulir, tetapi kubu Josss sudah mengajak masyarakat memilih Josss melalui spanduk-spanduk yang dipasang di berbagai wilayah. Menurut Witanto pemasangan spanduk Josss sebelum masa kampanye merupakan siasat agar tidak masuk kategori pelanggaran kampanye. Hal itu berarti ada upaya mengakali regulasi.

“Ini sama halnya memberi edukasi politik yang tak baik kepada masyarakat. Mestinya kalau mau mengajak memilih ketika kampanye,” kata Witanto saat dihubungi Solopos.com, Senin (7/9/2020).

Dia juga menilai pemasangan spanduk Josss menyalahi Peraturan Bupati yang mengatur tentang pemasangan atribut partai dan peserta pilkada. Pasalnya, tak sedikit spanduk yang dipasang melintang di jalan-jalan desa, pagar kantor desa, dan dekat sekolah.

Menurut dia spanduk yang dipasang di pagar kantor desa merepresentasikan keberpihakan aparatur desa bersangkutan. Padahal, harusnya pemerintah desa netral.

“Mungkin ada pendapat spanduk semacam itu sebagai media sosialisasi. Tapi menurut saya itu bagian dari media kampanye. Di dalamnya sudah ada seruan ajakan untuk memilih. Kalau Harjo hanya akan berkampanye jika sudah masuk masa kampanye. Kalau pun ada gambar Harjo di medsos [media sosial], itu foto saat deklarasi dan ketika mendafar di KPU,” imbuh Witanto.

Membantah

Terpisah, cabup Joko Sutopo membantah tudingan pihaknya mencuri start kampanye. Menurut lelaki yang akrab disapa Jekek itu pihak yang menilai spanduk Josss adalah media kampanye harus memahami pengertian alat peraga kampanye (APK) dan media sosialisasi. Dia menyebut spanduk Josss adalah media sosialisasi.

Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) tak mengatur ihwal pemasangan media sosialisasi. PKPU hanya mengatur tentang APK yang dipasang setelah penetapan paslon. Padahal, saat ini belum ada penetapan paslon. Dengan demikian, spanduk yang dipasang sekarang ini bukan APK.

Tak Hanya Memperindah Taman, ini 7 Manfaat Bunga Matahari

Apabila spanduk atau media sosialisasi lainnya dipersepsikan sebagai APK berarti gambar yang dipasang di medsos mestinya juga dipersepsikan APK. Padahal, gambar Harjo pun bertebaran di medsos. Ketua DPC PDIP Wonogiri itu meyakini pemasangan media sosialisasi tak melanggar aturan pilkada.

“Kalau pihak sebelah mau pasang media sosialisasi, mangga saja. Kami tak akan mempermasalahkannya. Berpendapat boleh saja, tapi harus dilandasi pemahaman yang utuh,” ucap Joko Sutopo.

Dia menegaskan pemasangan spanduk Josss memperhatikan Perbup. Apabila dinilai melanggar aturan dia meyakini Satuan Polisi Pamong Praja atau Satpol PP akan menindak. Dia mempersilakan Satpol PP mengecek memastikan spanduk dipasang ditempat yang salah atau benar.

Berita Terbaru

Bawaslu Jateng : Ada 16 Pelanggaran Prokes di Kampanye Pilkada 2020

Solopos.com, SEMARANG – Badan Pengawas Pemilu Jawa Tengah atau Bawaslu Jateng menemukan sejumlah pelanggaran protokol kesehatan yang dilakukan pasangan...

Bawaslu Awasi Medsos Paslon di Pilkada Grobogan 2020

Solopos.com, PURWODADI -- Badan Pengawas Pemilu atau Bawaslu Kabupaten Grobogan terus melakukan pengawasan tahapan kampanye Pilkada Grobogan 2020. Tidak...

Dikritik Program Belum Terealisasi, Cabup Petahana Sragen Langsung Kasih Jawaban

Solopos.com, SRAGEN — Calon bupati (cabup) petahana di Pilkada Sragen 2020, Kusdinar Untung Yuni Sukowati, menyampaikan terdapat 8.569 lapangan...

Bawaslu Sukoharjo Perpanjang Lagi Masa Pendaftaran Pengawas TPS, Masih Kurang Berapa?

Solopos.com, SUKOHARJO -- Badan Pengawas Pemilu atau Bawaslu Sukoharjo kembali memperpanjang pendaftaran rekrutmen calon pengawas tempat pemungutan suara atau...

Bawaslu Boyolali Perpanjang Pendaftaran Pengawas TPS 10 Kecamatan, Kekurangan Paling Banyak Ngemplak

Solopos.com, BOYOLALI -- Masa pendaftaran pengawas Tempat Pemungutan Suara atau TPS Pilkada Boyolali 2020 diperpanjang hingga Senin (19/10/2020). Perpanjangan...

KPU Wonogiri Coret 57.497 Data Tak Memenuhi Syarat

Solopos.com, WONOGIRI—Komisi Pemilihan Umum Wonogiri mencoret 57.497 data pemilih tak memenuhi syarat (TMS) melalui tahapan pencocokan, penelitian, pencermatan, dan...

Gibran-Teguh Panasi Mesin Tim Pemenangan Internal PAN Solo, Ini Targetnya

Solopos.com, SOLO -- DPD PAN Solo mengukuhkan tim pemenangan untuk pasangan cawali-cawawali, Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa atau Gibran-Teguh, pada...

Saat Sri Mulyani Bicara Pengembangan Wisata Klaten hingga Hobi Olahraga

Solopos.com, SOLO-- Klaten terkenal dengan surganya wisata air, mulai dari Umbul Ponggok yang sudah terkenal dengan hingga mancanegara hingga...

Romantis, Ini Cerita Sri Mulyani tentang LDR hingga Drakor

Solopos.com, SOLO- Sebagai ibu rumah tangga dan istri, Calon Bupati Klaten Sri Mulyani pastinya memiliki kegiatan yang padat. Beruntungnya,...

Jumlah Pemilih Terbanyak Pilkada Klaten Ada di Trucuk, Kebonarum Paling Sedikit

Solopos.com, KLATEN — Jumlah pemilih terbanyak di Pilkada Kalten 2020 berada di Kecamatan Trucuk. Sedangkan jumlah pemilih paling sedikit...