PILKADA SOLO 2015 : Ketua NU Solo dan Akuntan Publik Jadi Cawawali Terkuat Rudy
Presiden Joko Widodo bersalaman dengan Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo saat bersua di area CFD Kota Solo, Minggu (24/5/2015). (Reza Fitriyanto/JIBI/Solopos)

Pilkada Solo 2015 dari PDIP mengusung Hadi Rudyatmo sebagai cawali, siapa cawawali pendamping Rudy?

Solopos.com, SOLO — Figur calon wakil wali kota (cawawali) pendamping calon wali kota (cawali) petahana F.X. Hadi Rudyatmo masih menjadi rahasia DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Empat nama cawawali yang mendaftar ke DPC PDIP Solo memiliki peluang yang sama.

Beberapa kalangan pengurus DPC PDIP Solo yang duduk sebagai wakil rakyat memprediksi ada dua nama cawawali yang memiliki peluang terkuat, yakni Rachmad Wahyudi dan Hilmi Ahmad Sakdillah.

Kedua cawawali tersebut merupakan kader pendatang di DPC PDIP. Rachmad Wahyudi seorang akuntan publik dan pernah aktif dalam dunia musik. Sementara Hilmi Ahmad Sakdillah dipercaya warga Nahdlatul Ulama (NU) sebagai Ketua Pimpinan Cabang NU Kota Solo.

“Idealnya pasangan Pak Rudy itu berasal dari luar kader partai. Sebenarnya Pak Pur [Achmad Purnomo] yang digadang-gadang jadi pendamping Pak Rudy. Kalau tidak ya Rachmad Wahyudi,” kata seorang sumber di DPRD Solo yang enggan disebut namanya saat berbincang dengan Solopos.com, Senin (22/6/2015).

Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) DPC PDIP Solo, Putut Gunawan, menyatakan tidak ada gunjingan atau kasak-kusuk di internal PDIP tentang cawawali terkuat. Putut menyatakan keempat cawawali, yakni Hartanti, Ginda Ferachtriawan, Rachmad Wahyudi, dan Hilmi Ahmad Sakdillah memiliki peluang yang sama.

Hasil skoring fit and proper test yang dilakukan DPP beberapa waktu lalu, kata Putut, tidak diumumkan karena menjadi pertimbangan DPP dalam menentukan cawawali.

“Siapa pun cawawali pendamping Pak Rudy itu kepentingan DPP. Jadi DPP yang tahu karena otoritasnya di DPP. Ketua Umum [Megawati Soekarnoputri] memiliki hak mengambil keputusan tertentu. Ketika ada kader empat kali berturut-turut di level yang sama bisa saja tidak boleh mencalonkan lagi kecuali mendapat izin Ketua Umum,” ujar Putut.

Keputusan Ketua Umum

Putut menyatakan Keputusan Ketua Umum itu tidak bisa diganggu gugat. Dia berharap DPP segera mengambil keputusan secepatnya agar DPC segera menaikan tensi langkah-langkah pemenangan pilkada.

Infrastruktur pemenangan yang disiapkan DPC, kata dia, masih standar normatif karena menunggu keputusan DPP terkait nama cawawali.

Wakil Ketua DPD PDIP Jawa Tengah, Bimo Putranto, meminta Rudy jangan sampai salah dalam menentukan pilhan cawawali.

Dia berharap Rudy benar-benar bisa memilih cawawali yang bisa bekerja sama dan bersinergi sehingga bisa melanjutkan estafet kepemimpinan pada periode berikutnya.

Bimo tak mengetahui teknis penentuan cawawali. Bimo menduga Rudy dalam waktu dekat akan diundang DPP untuk membicarakan nama cawawali.

“Pak Rudy akan dimintai pendapat tentang nama cawawali. Kendati demikian usulan nama dari Pak Rudy belum tentu langsung direkomendasi DPP,” tambah dia.

Rachmad Wahyudi

Sementara itu, cawawali Rachmad Wahyudi enggan disebut sebagai cawawali terkuat PDIP. Dia menepis persepsi itu dengan menyatakan semua cawawali PDIP memiliki peluang yang sama besarnya.

Rachmad memilih mengalir dan menghormati proses turunnya rekomendasi yang berjalan. “Kami harus siap dalam keadaan apa pun. Direkomendasi atau tidak direkomendasi, kami tetap mendukung siapa pun yang akan diusung PDIP demi Kota Solo tercinta,” kata dia.

Rachmad menyambut baik keputusan DPP PDIP yang merekomendasi Rudy sebagai cawali PDIP. Dia menilai keputusan DPP itu mencerminkan Rudy dianggap sebagai figur terbaik yang disesuaikan dengan kondisi terkini.

Cawawali lainnya, Hilmi Ahmad Sakdillah, berpendapat empat cawawali memiliki kesempatan yang sama dan masing-masing memiliki keunggulan yang berbeda. Dia mengatakan kuncinya rekomendasi itu ada di DPP PDIP.

“Pak Rudy pun hingga kini masih menunggu surat rekomendasi DPP. Sama halnya dengan kami juga menunggu keputusan DPP. Rekomendasi itu merupakan kebijakan partai,” kata Hilmi saat dihubungi Solopos.com, Senin siang.

Hilmi mengaku hubungannya dengan Rudy hanya silaturahmi biasa. Ketika memasang baliho di sejumah titik pun, kata dia, masih wajar dan yang memasang teman-temannya. Hilmi menyatakan belum membentuk tim apa pun karena masih menunggu keputusan DPP.

“Saya maju itu didorong oleh pengurus PCNU. Siapa pun yang dapat rekomendasi DPP, kami tetap mendukung PDIP. Saya pribadi dan NU pun tidak pindah ke lain hati,” ujar Hilmi.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom