Tutup Iklan
Cynthia Ika Damashinta/Istimewa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (23/3/2019). Esai ini karya Cynthia Ika Damashinta, statistisi di Badan Pusat Statistik Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah cynthia.ika@bps.go.id.

Solopos.com, SOLO -- Pernahkan Anda merasa tidak nyaman ketika berkumpul dengan keluarga atau sahabat? Yang seharusnya menjadi quality time bersama malah berakhir sibuk dengan smartphone masing-masing.

Tidak jarang juga hanya menjadi arena berfoto-foto demi konten media sosial tanpa obrolan yang intim. Awalnya telepon hanya digunakan untuk alat telekomunikasi, namun sejalan dengan berkembangnya zaman dan teknologi peran gadget semakin berkembang.

Smartphone yang dilengkapi berbagai fasilitas dan akses Internet benar-benar memanjakan pengguna. Pengguna merasa menggenggam dunia ketika smartphone berada di tangan. Kemudahan-kemudahan yang diberikan sering kali membuat penggunaan  melebihi waktu yang wajar.

Hal itu menimbulkan perilaku adiktif dan menjadi acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitar. Tindakan acuh tak acuh seseorang di dalam sebuah lingkungan karena lebih fokus pada smartphone daripada membangun percakapan dikenal dengan istilah phubbing, singkatan dari phone snubbing.

Fenomena itu muncul bersamaan semakin banyaknya smartphone yang beredar. Dengan smartphone banyak orang di dunia yang dulu terkendala jarak bisa terhubung satu sama lain, namun orang-orang di dunia nyata malah serng kali tidak terhubung dalam percakapan sehari-hari.

Tidak terkecuali di Indonesia. Fenomena phubbing ini semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya pengguna smartphone. Berdasarkan data dari laman katadata.co.id, pengguna aktif smartphone di Indonesia tumbuh dari 65,2 juta orang pada 2016 menjadi 92 juta orang pada 2019. 

Diprediksi angka tersebut akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang.  Dengan jumlah tersebut, Indonesia menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbanyak keempat di dunia setelah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat.

Alat Telekomunikasi Utama

Hasil riset Google bersama TNS Australia tentang penggunaan smartphone di Indonesia pada 2015 menjelaskan 50% lebih pemilik smartphone menjadikan gadget sebagai alat telekomunikasi utama, termasuk mengakses Internet.

Pengguna Internet dari smartphone di Indonesia dikategorikan sebagai kelompok ”social driven”, sama dengan negara India yang didominasi aktivitas di media sosial dan percakapan melalui aplikasi chat. Penetrasi pengguna Internet di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengungkapkan pengguna Internet di Indonesia pada 2017 meningkat 8% daripada tahun sebelumnya menjadi 143,26 juta jiwa atau 54,68% dari total populasi 262 juta orang. Sebesar 72,41% pengguna Internet adalah masyarakat urban.

Berdasarkan wilayah geografis, masyarakat Jawa yang paling banyak mengakses Internet yakni sebesar 57,70%. Sedangkan berdasarkan usia, pengguna Internet terbesar adalah masyarakat usia 19 tahun-34 tahun, sebanyak 49,52 persen%, kemudian disusul masyarakat usia 35 tahun-54 tahun sebanyak 29,55%.

Usia-usia tersebut adalah usia produktif yang diharapkan mampu menggunakan waktu untuk hal-hal yang produktif. Mayoritas masyarakat Indonesia, sebesar 43,89%, menggunakan Internet selama satu jam hingga tiga jam sehari.

Sebesar 29,63% masyarakat Indonesia menggunakan internet selama empat jam hingga tujuh jam sehari. Sementara 26,48% masyarakat Indonesia menggunakan Internet selama lebih dari tujuh jam sehari. Dalam sepekan, lebih dari separuh pengguna mengakses Internet setiap hari.

Bayangkan, hampir sepertiga waktu yang dimiliki dihabiskan untuk mengakses Internet. Tentu saja ini mengurangi waktu untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Hasil Survei Sosial Ekonomi (Susenas) 2017 yang dilakukan Badan Pusat Statistik menunjukkan 88,13% rumah tangga dari seluruh rumah tangga di Indonesia memiliki atau menguasai telepon seluler. Rata-rata dua orang anggota dalam rumah tangga mengakses Internet.

Sebenarnya jika dikaji, kemajuan teknologi dan kemudahan akses Internet sangat berguna dan menunjang berbagai hal. Tidak dapat dimungkiri bahwa kemajuan tersebut memberi kemudahan bagi masyarakat untuk mendapatkan berbagai informasi, kemudahan berhubungan dengan orang lain di mana pun dan kapan pun serta kemudahan dalam berbagai usaha produktif seperti perdagangan online, transaksi perbankan, dan sebagainya.

Mengubah Perilaku Individu

Penggunaan smartphone yang berlebihan memang bisa mengubah perilaku individu dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat. Phubbing menjadi dampak ketika pengguna tidak mampu memanfaatkan teknologi dengan bijak.

Memang wajar terkadang phubbing menjadi pilihan ketika seseorang tengah bosan dan enggan menyimak pembicaraan orang lain. Rendahnya kesadaran untuk mendengarkan pembicaraan orang lain menjadi faktor utama penyebab terjadinya sikap acuh tak acuh.

Degradasi adab akibat phubbing akan terus terjadi apabila masyarakat tak memiliki rasa simpati dan saling menghargai. Fenomena phubbing lebih sering ditemui pada generasi milenial yang menjadikan kehidupan di media sosial lebih penting daripada kehidupan di dunia nyata.

Coba kita bayangkan jika ada empat orang anggota dalam sebuah rumah tangga dan dua di antara mereka terlalu fokus pada smartphone untuk mengakses Internet hingga tak mengacuhkan yang lain, lantas apa yang terjadi? Komunikasi di dalam keluarga itu tentu tidak akan bisa terjalin dengan baik.

Dari sisi yang diabaikan juga menimbulkan efek yang tidak baik secara psikologis. Dalam lingkup yang lebih luas, phubbing akan mengganggu tatanan sosial masyarakat Indonesia yang terkenal dengan kepedulian dan kukuhnya interaksi antarwarga masyarakat.

Di Indonesia, penelitian mengenai efek negatif atau kampanye sosial yang ditimbulkan karena adiksi terhadap smartphone masih jarang sekali ditemui. Penelitian lebih banyak membahas peran media baru di berbagai bidang seperti politik, ekonomi, dan pendidikan.

Fenomena seperti phubbing yang timbul karena adiksi terhadap smartphone menjadi hal yang harus membangkitkan kepedulian kita semua. Kita tentu tidak menghendaki generasi-generasi yang akan datang menjadi individual dan acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitar.

Memupuk Kesadaran Diri

Bagaimana cara untuk menekan fenomena phubbing? Kebiasaan terlalu fokus pada smartphone dan mengabaikan lingkungan sekitar dapat dikurangi mulai dari memupuk kesadaran diri.

Kesadaran untuk meminimalisasi penggunaan smartphone dan akses media sosial, kesadaran untuk saling bersosialisasi, berempati, dan tentu saja kesadaran bahwa kita adalah manusia, bukan budak teknologi.

Kesadaran dari diri sendiri mungkin bisa dimulai dengan mengevaluasi berapa lama penggunaan smartphone dalam sehari. Saya tertegun ketika melihat laporan aktivitas pada salah satu platform media sosial yang saya gunakan, yaitu Instagram. Dari laporan tersebut, ternyata saya aktif menggunakan media sosial itu setiap hari, dan rata-rata penggunaannya adalah dua jam dalam sehari.

Itu baru satu media sosial, bagaimana jika punya lebih dari itu? Berapa lama waktu yang terlewati begitu saja hanya untuk kehidupan di media sosial? Berapa orang yang sudah kita abaikan di dunia nyata?

Kampanye tentang efek negatif fenomena phubbing juga harus semakin digalakkan. Stopphubbing.com adalah salah satu laman yang aktif menyerukan kampanye tentang bahaya phubbing dan mengajak menghentikan fenomena  phubbing.

Kini semakin banyak lapisan masyarakat yang menyadari dan mendukung gerakan stop phubbing. Sebagai contoh, banyak restoran yang menerapkan larangan bagi pelanggan menggunakan smartphone saat makan di restoran tersebut.

Setelah kesadaran diri kita mulai terbentuk, kita bisa mulai menantang diri untuk tidak selalu memegang dan mengecek smartphone, terutama ketika sedang berbicara dengan orang lain. Bangun komunikasi yang baik dan berkualitas saat berkumpul dengan orang lain. Jadilah pendengar yang baik. Tatap lawan bicara kita, bukan smartphone kita.

 

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten