Algooth Putranto/Istimewa

Solopos.com, SOLO -- Petinggi Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran Jenderal Qasem Soleimani meninggal akibat serangan udara yang diluncurkan Amerika Serikat pada 3 Januari 2020. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim tindakan itu untuk menyelamatkan nyawa ratusan orang Amerika Serikat.

Menjelang penguburan Jenderal Qasem Soleimani, belasan roket diluncurkan Iran ke basis tentara Amerika Serikat pada Rabu dini hari, 8 Januari 2020. Banyak yang percaya kondisi akan memburuk, tapi banyak pula yang percaya sebaliknya, kondisi akan membaik dalam waktu tidak terlalu lama.

Berbeda dengan intervensi Amerika Serikat pada 2003 ketika menyerbu Irak dan Afghanistan setelah serangan terhadap menara kembar World Trade Center (WTC), dukungan publik dalam negeri sangat tinggi terhadap keputusan Gedung Putih.

Bagaimana sekarang? Babak belur. Tidak saja akibat citra Donald Trump di media massa arus utama yang kurang begitu baik, ditambah fakta muka Gedung Putih coreng-moreng oleh pemberitaan media tentang keputusan menyerang Irak dan Afghanistan.

Laporan pertama dipublikasikan jaringan berita Knight Ridder pada 2003. Reporter Knight Ridder di Washington, Warren Strobel dan Jonathan Landay, menerima penghargaan Raymond Clapper Memorial dari Senate Press Gallery pada 5 Februari 2004.

Mereka gigih menelaah secara kritis informasi intelijen yang digunakan administrasi pemerintah untuk membenarkan perang dengan Irak. Laporan yang masih hangat tentu saja Afghanistan Paper yang diterbitkan The Washington Post pada 9 Desember 2019.

Dokumen ini berasal dari Inspektur Jenderal Khusus untuk Rekonstruksi Afghanistan (SIGAR) yang diperoleh The Washington Post dengan permintaan berdasar Undang-Undang Kebebasan Informasi yang mendokumentasikan kebijakan militer Amerika Serikat di Afghanistan.

Dokumen-dokumen yang ditulis menjadi berita berjudul At War With the Truth tersebut mengungkapkan para pejabat tinggi militer dan pemerintah Amerika Serikat umumnya berpendapat perang tidak dapat dimenangkan, tetapi menyembunyikan itu dari publik.

Bertolak Belakang

Media berbasis opini, Politico, awal pekan lalu merangkum pandangan mayoritas media arus utama Amerika Serikat, diwakili pendapat para pemimpin redaksi maupun redaktur senior yang bertolak belakang dengan keputusan pemerintah Trump terhadap Iran.

Kondisi ini jelas berbeda ketika pemerintahan Bush Senior dan Bush Junior masing-masing menggelorakan invasi Amerika Serikat ke Timur Tengah. Bush Senior menggagas Perang Teluk 1991, sementara Bush Junior menggagas Perang Irak 2003.

Pengganti Bush Junior, Barack Obama, yang dipandang akan memberikan harapan baru, ternyata tak berbeda. Palagan Afghanistan tetap terjadi. Pada masa Obama, Amerika Serikat sukses membunuh Osama Bin Laden dan perilisan tafsir baru terhadap aturan Authorization for Use of Military Force Against Terrorists (AUMF).

Awalnya AUMF yang digagas Kongres Amerika serikat memberikan kuasa kepada Presiden Amerika Serikat agar dapat menggunakan semua kekuatan yang diperlukan dan pantas untuk melawan negara, organisasi, atau orang yang membantu serangan teroris yang terjadi pada 11 September 2001, atau menyembunyikan organisasi atau orang tersebut.

Pada Desember 2016, pada akhir administrasi Presiden Barack Obama, diterbitkan tafsir singkat AUMF sebagai pemberian otorisasi Kongres untuk penggunaan kekuatan terhadap Al-Qaeda dan kelompok-kelompok militan lainnya.

Perangkat ini digunakan Presiden Trump untuk merestui pembunuhan terhadap Jenderal Qasem Soleimani saat berada di Bandara Baghdad bersama rombongan. Sembilan penumpang lain juga meninggal, termasuk Wakil Ketua Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) Irak, Abu Mahdi al-Muhandis.

Bagi Iran, kematian Jenderal Qasem Soleimani kehilangan besar. Bagi Amerika Serikat dan Uni Eropa, kematian Qasem Soleiman adalah harga yang pantas mengingat komandan Pasukan Quds ini masuk dalam daftar teroris versi mereka.

Mengenyahkah Pasukan Multinasional

Pasukan Quds adalah unit dalam Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran yang memiliki spesialisasi operasi perang dan intelijen militer di luar wilayah Iran. Binaan mereka banyak, termasuk Hizbullah di Libanon, Hamas dan Jihad Islam di Palestina (Jalur Gaza dan Tepi Barat) dan Yaman Houthi, serta milisi Syiah di Irak, Suriah, dan Afghanistan.

Satu hal yang kerap diabaikan media massa Amerika Serikat adalah bersamaan dengan kematian Qasem, meninggal pula Abu Mahdi al-Muhandis. Abu Mahdi al-Muhandis pernah memimpin Kataib Hizbullah hingga terdaftar sebagai teroris di Jepang, Uni Emirat Arab, dan tentu saja Amerika Serikat.

Badan Intelijen Nasional Jepang (Public Security Intelligence Agency/PSIA) memasukkan Abu Mahdi al-Muhandis dalam daftar teroris sejak 2 Juli 2009. PSIA mendeskripsikan Kataib Hizbullah (KH) sebagai organisasi Syiah yang didirikan pada akhir 2007 dengan tujuan mengenyahkan pasukan multinasional di Irak.

Organisasi ini didirikan untuk menerima dukungan dari Garda Revolusi Iran serta dari Hizbullah di Libanon. Pada 2014 diduga memiliki kekuatan lebih dari 30.000 orang. KH dilaporkan terlibat dalam serangan multinasional dan penculikan tentara Irak, tetapi sejak penarikan pasukan Amerika Serikat yang ditempatkan pada Desember 2011, dilaporkan bahwa gerakan bersenjata KH di Irak mereda.

Sejak Negara Islam Levant Irak (ISIL) memulai aksi di Irak pada Januari 2014, Abu Mahdi al-Muhandis bersama KH bertempur dengan pasukan keamanan gabungan pemerintah dan para pemimpin agama Syiah. KH juga dilaporkan mengirim anggota ke Suriah sejak gerakan pemberontak di Suriah pada Maret 2011 untuk berpartisipasi dalam pertempuran dengan kelompok-kelompok oposisi sebagai milisi di pihak pemerintahan Assad.

Tidak mengherankan di tengah hujatan dan sikap pesimisme media Amerika Serikat, Presiden Donald Trump menyebut serangan pesawat tak berawak Amerika Serikat di Irak yang mengakibatkan Jenderal Iran Qassem Soleimani meninggal telah menyelamatkan banyak nyawa.

Hal menarik yang harus ditunggu setelah keributan ini tentu saja bagaimana jaringan komunikasi pemerintah Amerika Serikat mengubah persepsi media terhadap eksekusi Jenderal Qasem Soleimani.

Menarik karena jika berhasil akan mengembalikan peta dukungan masyarakat pemilih konservatif (Republikan) maupun masyarakat Yahudi di Amerika serikat terhadap Donald Trump di tengah upaya narasi buruk yang terus disuarakan politikus Partai Demokrat. Ujungnya pemilihan umum Amerika Serikat yang akan digelar pada 3 November 2020.

 

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten