Tutup Iklan
Seorang warga Desa Samiran, Kecamatan Selo, Boyolali menunjukkan tanaman tembakau di kebunnya, Selasa (21/5/2019). Pada bulan Mei tanaman tembakau telah mencapai tahap pemupukan namun pupuk di Selo langka. (Solopos/Nadia Lutfiana Mawarni)

Solopos.com, BOYOLALI—Ketersediaan pupuk bersubsidi di Kecamatan Selo, https://soloraya.solopos.com/read/20190523/492/994197/inspektorat-boyolali-kebanjiran-aduan-penyimpangan-dana-jelang-pilkades" title="Inspektorat Boyolali Kebanjiran Aduan Penyimpangan Dana Jelang Pilkades">Boyolali langka sejak awal Mei lalu.

Dinas Pertanian Boyolali memastikan distribusi pupuk subsidi dihentikan oleh Kementerian Pertanian. Berdasarkan informasi yang diterima Solopos.com, Direktorat Jendral (Ditjen) Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) telah menghentikan pasokan pupuk bersubsidi karena pupuk bersubsidi hanya untuk tanaman padi.

Sementara, tanaman hortikultura tidak masuk dalam kebijakan tersebut.

Kondisi ini telah menyulitkan petani tembakau di wilayah Selo. Di Desa Tarubatang, sejumlah petani mengeluhkan ketersediaan pupuk yang minim sejak awal Mei lalu. Mereka kebingungan, lantaran Mei ini merupakan masa pemupukan tembakau tahap awal.

Musim tembakau di Selo diperkirakan akan mencapai puncaknya pada Agustus nanti. “Belum bisa beli pupuk lagi sejak pekan lalu,” ujar salah satu petani, Yatmi, ketika ditemui Solopos.com, di rumahnya, Selasa (21/5/2019).

Seperti kebanyakan petani di Selo, Yatmi juga menanam tembakau sejak April lalu. Selama ini dirinya masih mengandalkan pupuk cadangan yang disimpan di rumah. Pupuk subsidi diketahui tidak datang ke distributor di desanya sejak beberapa hari lalu.

Kini, Yatmi pun was-was. Dia khawatir hasil produksi dan kualitas tembakau akan turun jika pupuk terus langka. Yatmi juga tidak berpikir untuk mengganti pupuk subsidi dengan nonsubsidi mengingat selisih harga yang cukup jauh.

Di Selo, pupuk subsidi dijual dengan kisaran harga Rp75.000 per sak. Sementara untuk nonsubsidi harganya bisa mencapai lebih dari Rp100.000.

Petani lain, Bero, juga membenarkan jika sudah lebih dari sepekan ini pasokan pupuk terbilang langka di Desa Tarubatang. Bero yang juga pengurus Kelompok Tani Mardi Utomo, Dukuh Tarusari, https://soloraya.solopos.com/read/20161125/492/771628/pilkades-boyolali-rawan-konflik-2-desa-ini-diawasi-ketat" title="PILKADES BOYOLALI : Rawan Konflik, 2 Desa Ini Diawasi Ketat">Desa Tarubatang ini menyebut kedatangan pupuk subsidi ke desa kerap tidak teratur.

Idealnya, pupuk datang tiap sepekan sekali, namun kini pupuk bisa datang hanya sekali dalam dua pekan. Namun Bero masih maklum mengingat kondisi alam desanya yang berupa pegunungan menyulitkan akses truk menjangkau dusunnya. Dia berharap agar kelangkaan pupuk ini tidak berlangsung berlarut-larut.

40 Ton

Seorang distributor pupuk subsidi di Desa Samiran, Eni Komariah, yang mendistribusikan pupuk di wilayah Desa Jeruk dan Desa Samiran, menyebutkan selain dirinya ada empat distributor resmi lain di Selo. Perempuan itu membenarkan jika sejak awal Mei lalu pupuk subsidi kosong di kiosnya.

“Yang ada sisa ya dari pasokan periode sebelumnya, itu pun tinggal sedikit,” imbuh Eni. Padahal di bulan Mei saat pemupukan tanaman tembakau, Eni menyebut satu kios bisa menjual minimal 40 ton pupuk subisidi.

Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Boyolali, Bambang Jiyanto, membenarkan jika pupuk subsidi di Kecamatan Selo langka untuk sementara waktu.

“Iya [langka] tapi sudah diurus,” tutur Bambang ketika dimintai konfirmasi. Bambang mengaku belum mengetahui penyebab pasti kelangkaan pupuk.

Data

Sejauh ini Dispertan hanya menerima pemberitahuan secara tertulis dari Direktorat Jendral (Ditjen) Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) terkait penyetopan pasokan pupuk subsidi di Selo.

Meski demikian, Bambang memastikan Dispertan sudah melakukan sejumlah langkah agar kelangkaan pupuk tidak berlangsung lama. Pihaknya sudah mengirimkan surat kepada sejumlah pihak disertai data.

Lebih jauh Bambang juga telah melakukan peninjauan lokasi di Selo bersama tim asal https://news.solopos.com/read/20190225/525/974151/seabad-gerakan-kaum-tani" title="Seabad Gerakan Kaum Tani">Kementerian Pertanian (Kementan) dan Badan Pusat Statistik (BPS). “Kami sudah tunjukkan bahwa di Selo ada sekitar 35 hektare sawah meskipun tidak semuanya ditanami padi,” katanya.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten