Petani Sragen Sambat Harga Gabah Anjlok 30% Pascapanen Gara-Gara Pandemi Corona
Ketua KTNA Sragen Suratno (kanan) menyerahkan paket sembako kepada perwakilan poktan saat di Nglorog, Sragen Kota, Sragen, Kamis (21/5/2020). (Solopos/Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN -- Para petani yang tergabung dalam Kontak Tani Nelayan Andalan atau KTNA Sragen sambat harga gabah hasil panen mereka anjlok hingga 30%.

Adanya wabah virus corona atau Covid-19 membuat para pedagang enggan datang untuk membeli gabah mereka. Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Ngudi Mulyo Kroyo, Karangmalang, Sragen, Santoso, 68, mengungkapkan hal itu kepada Solopos.com , Kamis (21/5/2020).

Santoso mengatakan panen padi di wilayah Karangmalang biasanya langsung dibeli bakul atau penebas. Para bakul itu datang dari Kudus dan Pati.

Sejak adanya wabah Covid-19, para bakul itu enggan datang untuk membeli gabah ke petani Sragen. Akses transportasinya terhambat dan harga gabah pun anjlok.

Rekor! Pasien Positif Covid-19 Indonesia Bertambah 973 Orang, Total 20.162 Kasus

"Harga tebasan satu patok berukuran 3.500 m2 itu bisanya laku di atas Rp10 juta per patok. Sekarang hanya ditawar Rp7 juta-Rp8 juta per patok. Anjloknya harga gabah itu bukan karena kualitas padinya buruk tetapi daya beli bakul rendah,” ujar Santoso.

Panen Melimpah

Ketua Kelompok Tani (Poktan) Tani Rejeki Klandungan, Ngrampal, Sragen, Bari, mengatakan dampak wabah Covid-19 yang paling terasa bagi petani hanya soal harga gabah yang anjlok sampai 30%.

Bari mengatakan hasil panen musim ini melimpah tetapi daya beli bakul turun karena orang diimbau tinggal di rumah saja. Dia menyebut harga gabah di tingkat petani Sragen biasanya tembus Rp5.100/kg gabah kering panen (GKP). Kini harga itu anjlok di angka Rp4.600/kg GKP.

Setelah Solo dan Sekitarnya, Kini Dentuman Misterius Terdengar di Bandung

Harga tebasan per patok dengan luas 4.000 m2, biasanya tembus Rp15 juta per patok sekarang tinggal Rp10 juta per patok. Untuk menyiasati hal itu, petani ada yang jual dalam bentuk gabah kering giling (GKG) dan ada yang membawa pulang.

"Para petani sengaja menjual barang murah karena dikejar kebutuhan, terutama untuk menutup angsuran utang di bank,” ujarnya.

Melihat kondisi tersebut, Ketua KTNA Sragen Suratno bersama pengurus KTNA lainnya berinisiatif memberikan bantuan paket sembako kepada 238 poktan dan gapoktan di Sragen.

Penyaluran BST Kemensos di Manahan Solo Menimbulkan Kecurigaan Warga, Ada Apa?

Dia menyebut jumlah poktan dan gapoktan di Sragen ada 208 kelompok dan sisanya sebanyak 30 paket untuk kelompok di tingkat kecamatan.

“Bukan hanya petani padi yang merasakan. Para petani bawang merah pun kena dampak dengan anjloknya harga bawang merah,” jelas Suratno.

Bantuan paket sembako itu dibagikan kepada para gapoktan dan poktan lewat perwakilan. Bantuan ini diharapkan bisa membantu mereka dan akan diadakan rutin setiap tahun.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho