Petani Hingga Kios Pupuk Bersubsidi di Klaten Pusing, Tulungi Lur…
Seorang petani menebarkan pupuk di lahan pertanian wilayah Desa Sabranglor, Kecamatan Trucuk, Jumat (22/1/2021). (Solopos.com/Taufiq Sidik prakoso)

Solopos.com, KLATEN – Petani hingga pengelola kios pupuk lengkap (KPL) mengeluhkan berkurangnya alokasi pupuk bersubsidi dan ditambah harga juga naik. Mereka berharap kebutuhan bisa terpenuhi.

Salah satu petani asal Desa Wanglu, Kecamatan Trucuk, Klaten, Slamet Raharjo, 71, kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi. Kondisi itu ditambah dengan ketentuan pembelian yang harus menggunakan kartu tani.

“Kartune digesek kuotane mboten enten, gesek mboten enten nganti bosen. Kalau ada kuotane, rabuke sing mboten enten. Pupuke ya cen angel tenan [kartunya digesek kuotanya tidak ada sampai bosan. Jika ada kuotanya, pupuknya yang tidak ada, saat ini memang sangat sulit diperoleh],” kata Slamet saat ditemui Solopos.com di lahan pertaniannya, Jumat (22/1/2021).

Penataan Kawasan Kumuh, PLN Membongkar Meteran

Soal harga tebus pupuk bersubsidi di Klaten, Slamet mengatakan mengalami kenaikan. Dia mencontohkan urea per sak isi 50 kg sebelumnya seharga Rp95.000. Kini, harga urea mencapai Rp130.000 per sak.

Selain kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi, petani juga kerap dihadapkan dengan serangan organisme pengganggu tanaman. Dia mencontohkan belum lama ini mendatangkan sukarelawan untuk membasmi tikus yang menyerang lahan pertaniannya. “Kalau harapan saya, lebih baik warung bebas. Kalau di satu warung itu pupuk ada kadang tidak. Ketika jatah turun, pas petani tidak punya uang,” kata dia.

Petani di Desa Sabranglor, Kecamatan Trucuk, Klaten, Sulanjar, 67, juga mengeluhkan semakin sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi. “Kenyataannya seperti yang saya rasakan setiap mau ambil pupuk sudah habis,” kata Sulanjar.

Penerima Bantuan Sembako Bisa Dialihkan Terima BLT, Ini Kriterianya

Produksi Padi

Sulanjar mengaku sempat tersulut emosi ketika tak mendapatkan pupuk bersubsidi di KPL. Pasalnya, ketika mendatangi KPL pupuk yang dia butuhkan sudah habis. “Akhirnya sanggup mencarikan pupuk bersubsidi,” ungkap dia.

Sulanjar berharap petani di Klaten tak lagi dipersulit mendapatkan pupuk bersubsidi. Ketercukupan pupuk pada lahan pertanian berdampak pada hasil produksi padi yang ditanam petani. “Harapan petani pokoke nyuwun pupuk subsidi lancar. Mboten dipersulit,” kata dia.

Sementara itu, salah satu pengelola KPL di Kecamatan Trucuk , Klaten mengaku belakangan kerap dimarahi petani menyusul ketersediaan pupuk bersubsidi tak sesuai dengan permintaan mereka. “Diomeli terus. Saya sendiri ya diam saja. Ketika ternyata kuota pupuk yang disediakan tidak seperti permintaan petani, saya tunjukkan kuota pupuk yang dia terima sesuai RDKK,” kata pengelola Kios Dwijayadi Tani Desa Kalikebo, Trucuk yang enggan menyebutkan namanya.

Bukan Sega Berkat, Kuliner Khas Sragen Ini Bernama Sega Plontang

Pengelola itu juga tak menampik kerap menemui kondisi kuota pupuk yang ada pada kartu tani kosong. Atas kondisi itu, pengelola KPL mengarahkan agar petani mendatangi petugas penyuluh lapangan (PPL). “Kalau kami dari pengelola kios harapannya itu yang penting kebutuhan pupuk petani tercukup,” kata pengelola tersebut.

Salah satu petani asal Desa/Kecamatan Delanggu, Klaten, Eksan Hartanto, 30, mengatakan ketika pupuk bersubsidi dibatasi dan harga naik minimal sosialisasi cara pembuatan pupuk organik. “Harapannya dinas mendampingi petani agar berkonversi dari pupuk kimia ke organik agar petani tidak bingung. Karena mau buat pupuk organik tidak tahu caranya,” kata dia.

Eksan mengatakan rata-rata kebutuhan biaya pupuk bersubsidi di Klaten, untuk satu kali musim tanam sekitar Rp500.000 per patok atau sekitar 2.200 meter persegi sebelum ada kenaikan harga. Sementara itu total biaya produksi dalam satu kali musim tanam sekitar Rp1,3 juta hingga Rp1,5 juta. Sedangkan harga tebasan padi berkisar Rp3 juta hingga Rp7 juta tergantung musim tanam. “Itu selama tidak terserang hama,” kata Eksan.

 

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom